Selasa, 10 Februari 2015

PILAR SADHANA IV : Karma Yoga sebagai sadhana

Dalam buku-buku vedanta, Karma Yoga [atau juga disebut Kriya Yoga] berarti merealisasi kesempurnaan melalui jalan kerja. Penjelasan singkatnya yaitu : melalui pelaksanaan svadharma [tugas kehidupan] kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Sebab sebagian besar dari kita dalam hidup ini bukanlah seorang yogi / pertapa / pendeta. Tapi melalui karma yoga, semua orang punya kesempatan yang sama untuk merealisasi pembebasan sempurna, moksha, manunggaling kawulo lan gusti. Dengan jalan seperti ini, tentu saja tidak harus meninggalkan pekerjaan, keluarga dan bahkan masyarakat untuk pergi bertapa di gunung, kecuali svadharma-nya memang demikian. Sebab sebenarnya kesadaran ada dimana-mana sekaligus juga kita bawa kemana-mana.

Setiap manusia lahir ke dunia membawa svadharma-nya sendiri sesuai dengan putaran karma-nya masing-masing. Dalam Karma Yoga, svardharma [tugas kehidupan] ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, tapi dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Dan lebih baik lagi kalau dilaksanakan dalam kesadaran [bathin yang hening]. Dalam bahasa Jawa : “rame ing gawe, sepi ing pamrih”.

RAME ING GAWE, SEPI ING PAMRIH

Kehidupan dan alam semesta berputar melalui hukum-hukum kerja. Tapi sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah apapun hasilnya dengan senyuman dan hati yang bersih. Sehingga yang tersisa persis seperti bagaimana hukum alam bekerja. : mengalir sempurna, terpusat pada proses yang sedang terjadi, tanpa terikat kepada hantu masa lalu dan harapan masa depan.

Laksana matahari, walaupun dipuji dikatakan sunset [matahari terbenam] itu sangat indah, atau sebaliknya dicaci-maki dikatakan matahari sangat panas dan mengganggu aktifitas, matahari tetap melaksanakan tugasnya dalam hening, memancarkan cahaya kehidupan, terbit dan terbenam setiap hari. Seperti halnya sungai, bagi sebagian orang ia dihormati sebagai sumber air untuk kehidupan, tapi kalau hewan liar lewat disana, hewan itu [maaf] membuang kotoran disana. Tapi diperlakukan bagaimanapun, sungai tetap melaksanakan tugasnya dalam hening, mengalir sempurna menuju lautan.

Laksanakan seperti bagaimana alam bekerja, dimanapun, kapanpun dan apapun svadharma kita saat itu. Suami menjadi suami yang baik, pelajar menjadi pelajar yang baik, pemulung menjadi pemulung yang baik, pengusaha menjadi pengusaha yang baik, pertapa menjadi pertapa yang baik, polisi menjadi polisi yang baik, dll. Ada satu kesamaan diantara semuanya : "menjadi semakin sempurna melalui jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan mahasempurna yang mengaturnya. Keinginan-keinginan, keluhan-keluhan apalagi kemarahan, hanya akan membuatnya seseorang terlempar ke dalam pusaran kegelapan bathin.

Kalau svadharma kita wartawan, tugas kita adalah mengungkap sesuatu dengan netral dan penuh kejujuran. Kalau kita menulis berita yang tidak jujur karena kita menerima suap, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin. Kalau svadharma kita dokter atau perawat, tugas kita adalah membuat orang-orang yang sedang sakit menjadi sembuh, tanpa pilih-pilih pasiennya kaya atau miskin. Kalau kita menjadi dokter atau perawat dengan motivasi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin. Kalau svadharma kita pegawai hotel atau guide, tugas kita adalah melayani turis dengan sebaik-baiknya. Kalau kita menjadi pegawai hotel atau guide hanya mau melayani tamu dengan baik kalau dikasi tip atau dapat komisi, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin.

Berusaha dan bekerja keras, tapi dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Lebih baik lagi kalau bisa dilaksanakan dalam kesadaran. Bekerja adalah hukum semesta. Dengan bekerja manusia melakukan yoga. Secara lebih khusus karena melalui bekerja manusia sedang membuat Hyang Widhi menjadi nyata. Buah kelapa menjadi santan. Batu dan kayu menjadi rumah. Sampah menjadi pupuk. Mahasiswa menjadi sarjana. Orang sakit menjadi sembuh. Itu semua langkah-langkah kerja yang membuat Hyang Widhi menjadi nyata.

Lebih-lebih bila semua dilakukan dengan semangat anak-anak yang riang gembira, polos dan penuh rasa syukur. Tidak ada yang salah dengan keinginan dan harapan, sebab kalau dikelola dengan baik dia adalah sumber kekuatan kemajuan dan kehidupan. Tapi kedamaian, kebahagiaan dan kesadaran menjadi lenyap kalau sebagian besar hidup ini hanya diisi kegiatan berlari mengejar harapan dan keinginan. Tidak hanya melelahkan dan tidak punya arah, tapi juga tidak sampai dimana-mana.

Ada perasaan yang berbeda dalam bathin ketika tugas dan kerja dilaksanakan dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya berputar, namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh harmoni. Tidak saja dengan diri sendiri dan orang-orang sekitar kita, tapi dengan apapun manusia mudah “terhubung” ketika rasa syukurnya mengagumkan. Di mana semuanya [diri sendiri, sesama manusia, binatang, tumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll] serba terhubung, sekaligus menyediakan “paramashanti” [kedamaian sempurna] di sebuah titik pusat dalam bathin kita.


MELAKSANAKAN SVADHARMA SECARA TEPAT

Hidup ini bisa disimbolikkan seperti mulut. Terdapat bagian yang keras [gigi] dan terdapat bagian yang lembut [lidah]. Gigi [yang keras] berguna untuk memotong dan mengunyah, lidah [yang lembut] berguna untuk merasakan. Keduanya musti dimanfaatkan pada situasi dan waktu yang tepat. Begitu juga halnya dalam melaksanakan svadharma kita di dalam keseharian, pelaksanaannya disesuaikan dengan panggilan svadharma kita masing-masing.

Kalau svadharma kita seorang yogi / pertapa / pendeta / pemuka agama, itu jelas bahwa setiap saat, sepanjang waktu, pikiran, perkataan dan perbuatan kita harus bersih, halus dan lembut. Karena seorang yogi / pertapa / pendeta / pemuka agama, menghantar banyak orang ke tempat yang mahasuci.

Kalau svadharma kita polisi / tentara, hendaknya bathin kita laksana seorang yogi, tapi tindakan kita laksana seorang ksatria. Maksudnya “di dalam” bathin kita sesuci dan sebersih mungkin, tapi “diluar” sikap dan tindakan kita tegas dan menegakkan aturan [hukum]. Sebagai seorang polisi / tentara, kalau tiba saatnya kita musti menembak penjahat, tembaklah dengan penuh rasa sadar. Seperti Arjuna di dalam Bhagavad Gita. Arjuna boleh membunuh di dalam peperangan dan terbebas dari hukum karma dengan dua kondisi :

1. Melaksanakan svadharma [tugas kehidupannya]-nya sendiri.
2. Dilakukan dalam kesadaran yang telah sempurna - ketika pikiran hening-. Tanpa pikiran aku dan kamu. Tanpa dualitas menang-kalah, hidup-mati, benar-salah, sukses-gagal. Yang dilihat hanya : Brahman.

Dalam svadharma type ini, kombinasi keras dan lembut adalah hal yang sesuai untuk svadharma kita sendiri, persis seperti lidah dan gigi. Asal menggunakannya di waktu yang tepat. Tentu akan kacau kalau dalam makan kita memotong dan mengunyah memakai lidah [yang lembut]. Begitu juga sebaliknya kalau dalam makan kita memakai gigi [yang keras] terus menerus.

Tapi bukan berarti kalau begitu kita sedikit-sedikit lalu memakai kekerasan. Tidak seperti itu. Karena keras dan lembut semua ada tempatnya masing-masing. Mulut sebagai simbolik kehidupan, ada yang lembut dan ada yang keras. Dengan satu catatan : ASAL DIGUNAKAN PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG TEPAT.

Misalnya svadharma sebagai seorang atasan di kantor, kalaupun tiba saatnya harus marah kepada bawahan [untuk mendidik], sebaiknya dilakukan dengan penuh kesadaran. Dalam arti “diluar” kita memarahi [yang sifatnya mendidik], tapi "di dalam" kita tidak tersentuh, tetap bersih dan damai. Dan yang dimarahi juga hanya sebatas kesalahannya saja, jangan kepribadiannya. Svadharma sebagai orang tua di rumah, kalaupun tiba saatnya harus marah kepada anak kita [untuk mendidik], sebaiknya dilakukan dengan penuh kesadaran. Dalam arti “diluar” kita memarahi [yang sifatnya mendidik], tapi "di dalam" kita tidak tersentuh, tetap bersih dan damai. Dan yang dimarahi juga hanya sebatas kesalahannya saja, jangan menyinggung kepribadiannya.

KRIYA MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP

Kerja adalah salah satu sarana yang baik untuk memahami sang diri dan kehidupan. Sebab saat kita bekerja, bukan saja kita mendapatkan biaya [ongkos] untuk kehidupan. Tapi dengan bekerja kita juga bisa menelusuri alur-alur kehidupan yang lebar dan panjang. Dengan bekerja kita bisa membuka wilayah-wilayah baru dalam kehidupan. Dan yang paling penting, melalui kerja kita bisa menyelami rahasia hidup yang paling dalam. Apapun svadharma kita, ketika kita bekerja kita “berkomunikasi” dengan diri kita sendiri secara intens, terutama kalau kita mengalami banyak kegagalan. Kegagalan tidak hanya menghasilkan kesedihan, tapi juga bisa menghasilkan hadiah yang sangat berharga, yaitu : kebijaksanaan dan kesabaran. Kesuksesan memang menghasilkan pujian dan penghormatan, tapi juga bisa menghasilkan godaan-godaan kehidupan yang menjerumuskan. Dan di lain waktu kesuksesan juga mengajarkan bahayanya ego, terutama kalau kesuksesan menjadi awal mula iri hati dan dengki orang lain.

Kerja adalah langkah-langkah manusia untuk menyelaraskan irama dengan keseluruhan semesta. Alam semesta bekerja sepanjang masa. Tidak mengenal hari minggu, apalagi hari libur. Kalau alam semesta bekerja penuh tenaga tanpa mengenal jeda, darimana manusia bisa memperoleh tenaga untuk bisa seirama dengan semesta ? Lihatlah burung yang terbang kesana kemari untuk bisa memberi makan anak-anaknya. Harimau lari kesana kemari berburu untuk bisa memberi makan anak-anaknya. Ibu yang menyusui sambil mengelus-ngelus anaknya dengan penuh kasih sayang. Matahari yang menyinari semua tanpa plih kasih dan keluhan. Sungai yang terus mengalir ke laut tanpa mengenal lelah. Ibu pertiwi yang hanya mengenal kata memberi, memberi dan memberi. Lalu apa yang menggerakkan semua itu ? Semuanya digerakkan oleh energi-energi welas asih dan kebaikan.

Laksanakan svadharma dengan dibimbing oleh kesadaran. Sesetia matahari di siang hari, serajin air mengalir di sungai dan pada saat yang sama : sehening pohon bermeditasi. Tanpa nafsu untuk mendapatkan sesuatu atau memiliki, melainkan dibimbing oleh dorongan kuat untuk memberi, memberi dan memberi. Laksana alam semesta yang hanya tahu memberi. Yang tidak pernah cerewet dengan persyaratan apapun. Diperlakukan seperti apapun, ia selalu melaksanakan tugasnya 24 jam sehari tanpa keluhan. Dan puncaknya adalah paramashanti [kedamaian sempurna].

Dalam Karma Yoga, kerja adalah sarana untuk menyelami diri sendiri dan disaat yang bersamaan menyelaraskan irama diri dengan irama-irama semesta.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Purwani Purnama Kadasa, 28 Maret 2010

Minggu, 26 Juni 2011

Pohon Raja Yoga

Dalam buku-buku vedanta, Raja Yoga berarti jalan-jalan meditatif. Dalam bahasa simbolik, disebutkan pohon adalah roh seorang yogi [pertapa]. Sebagai mana yang kita tahu, umumnya pohon selalu tumbuh bergerak mencari cahaya matahari. Begitu pula dengan penekun Raja Yoga, suatu hari seorang penekun Raja Yoga akan menemukan cahaya-Nya. Pohon sebenarnya maupun pohon Raja Yoga, tumbuh dengan indah mulai dari lahan sampai kemudian puncaknya menghasilkan buah. Dan itulah yang akan kita bahas, yaitu : pohon sebagai simbolik perjalanan meditatif.


1. LAHAN POHON Raja Yoga [bagaimana kita mengisi keseharian kita sendiri sehari-hari].

Raja Yoga yang manapun, tidak akan pernah terealisasi sempurna tanpa mempraktekkan Tri Kaya Parisudha [pikiran bersih, perkataan bersih dan perbuatan bersih], Dayadhvam [welas asih] dan Datta [kebaikan] dalam kehidupan kita sehari-hari.

Menjadi baik jauh lebih penting daripada menjadi benar, karena begitu kita serius melakukan kebaikan, kebaikan inilah yang akan membimbing kita menuju kebenaran. Teroris berani membunuh banyak orang karena merasa dirinya benar. Amerika berani menyerang Afganistan dan Irak karena merasa dirinya benar. Hal itu menunjukkan kebenaran sangat sangat berbahaya kalau tidak dibimbing oleh kebaikan. Sebaliknya kebenaran menjadi indah dan bercahaya kalau dia dibimbing oleh kebaikan.

Isilah keseharian kita dengan kebaikan dan welas asih, disertai dengan pikiran bersih, perkataan bersih dan perbuatan bersih. Sebab inilah salah satu rahasia jalan spiritual. Perbaiki diri kita di sektor ini dan kemanapun kita melangkah akan mudah bergetar secara spiritual dan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian.

2. AKAR POHON Raja Yoga [pikiran yang terbebas dari dualitas].

Sebab utama kenapa banyak orang yang tidak bisa bertumbuh secara spiritual di jalan-jalan meditatif, karena akarnya tidak kuat. Akar dari jalan-jalan meditatif dalam bahasa Jawa Kuno disebut rwa bhinneda, pikiran yang berhenti melakukan pembedaan-pembedaan dan perbandingan-perbandingan berbahaya. Ciri orang yang masih dalam dualitas [yang akar meditasinya kurang bagus], misalnya :

- Istri cantik kita puji-puji dan cintai setinggi langit, begitu cerewet dan ngomel ingin kita ceraikan.
- Ketika suami membuka dompet memberi uang, kita tersenyum, tatkala uang di dompet suami habis, kita marah-marah.
- Ketika naik pangkat, atasan kita puji-puji. Ketika tidak naik pangkat, kita mulai mencari-cari kekurangan atasan kita.
- Wanita kalau kita sebut dandannya cantik, dalam sehari bisa ngaca 77 kali. Kalau kita sebut dandannya hancur, dia tidak bisa tidur semalaman.
- Saat bisnis lancar, kita rajin sembahyang berterimakasih pada Tuhan. Tapi saat bisnis kacau balau, kita mulai mempertanyakan Tuhan.
- Orang yang baik kepada kita, kita sebut suci. Orang jahat kepada kita, kita sebut setan.

Sumber dualitas dalam bathin kita ini adalah serakah [lobha]. Hanya mau yang baik dan tidak mau yang buruk. Persepsi dualitas ini kita musti latih menjadi persepsi non-dualitas. Dalam yang baik dan buruk, ada Hyang Widhi didalamnya. Dalam yang benar dan salah, ada Hyang Widhi didalamnya. Dalam yang suci maupun yang gelap, ada Hyang Widhi di dalamnya. Dalam yang terhormat maupun yang hina, ada Hyang Widhi didalamnya.

Begitu pula dengan meditasi. Apapun yang muncul di dalam meditasi, semuanya ada Hyang Widhi di dalamnya. Tatkala kita bisa memahami dalam semua hal ada Hyang Widhi, kita mulai memiliki akar-akar Raja Yoga yang bagus dan kuat. Yaitu ketika bathin kita bisa memasuki wilayah-wilayah Rwa Bhinneda [dalam vedanta / bahasa sansekerta : dvandas atau advaita -non dualitas-]. Pikiran yang tenang-seimbang [upeksha]. Pikiran, perasaan dan ekspresi kita sama tatkala menghadapi segala macam dualitas keadaan.

3. BATANG POHON Raja Yoga [tehnik meditatif yang paling tepat bagi diri kita sendiri].

Agak berbeda dengan sebagian guru meditasi yang punya kecenderungan mengatakan tehnik meditasinya yang paling bagus atau paling benar, pohon Raja Yoga mengajarkan hal yang berbeda : cobalah sebanyak mungkin tehnik-tehnik meditatif. Rasakan di dalam bathin kita sendiri, tehnik yang mana yang paling membimbing kita menjadi sejuk dan damai. Kalau sudah ketemu, gunakan tehnik itu.

Mengapa begitu ? Karena dalam perputaran samsara [kelahiran kembali yang berulang-ulang], setiap orang tingkat evolusi pertumbuhan spiritualnya berbeda. Ibarat sekolah : ada yang terakhir meninggal masih di tahap SD, sehingga reinkarnasi kembali dia musti melanjutkan SMP. Ada yang terakhir meninggal masih di tahap SMP, sehingga reinkarnasi kembali dia musti melanjutkan SMA. Menggunakan tehnik meditasi yang terlalu di belakang, hambar, tidak terasa. Sebaliknya, menggunakan tehnik meditasi yang terlalu maju, juga hambar, tidak terasa. Kalau meditasi kita hambar, tidak terasa, ada dua kemungkinan : mungkin tehnik itu terlalu maju atau tehnik itu terlalu di belakang dibandingkan dengan tingkat evolusi pertumbuhan jiwa kita.

Untuk itu minta maaf kepada banyak guru meditasi yang menyimpulkan bahwa tehnik dia pasti paling baik dan pasti berlaku untuk semua orang. [Catatan : tanpa mengatakan berbeda pendapat itu salah maupun benar].

Selain itu, ketika kita belajar banyak tehnik, kita akan mendapatkan gambaran secara lebih luas tentang ranah hutan rimba meditasi. Sehingga ketika kita melangkah maju, kita bisa menghormati orang lain secara baik. Kita bisa cukup dewasa untuk bertumbuh di tempat kita masing-masing.

4. DAUN POHON Raja Yoga [ketika meditasi sudah menyatu dengan keseharian kita].

Daun pohon Raja Yoga kita temukan, ketika kita merasakan meditasi sudah menjadi satu dengan keseharian kita. Terasa ada yang kurang kalau kita tidak meditasi. Mungkin bisa disamakan dengan aktifitas mandi sehari-hari. Kalau dalam sehari kita tidak mandi, rasanya kok ada yang kurang. Kalau kita sudah merasakan seperti ini, artinya batang pohon itu sudah menghasilkan daun. Kita sudah sampai pada daun pohon Raja Yoga.
Yang lebih maju lagi di tahap ini adalah seperti yang ditulis di beberapa buku Upanishad, yaitu ketika seluruh hidup kita adalah meditasi. Dari bangun s/d tidur. Dari bekerja s/d istirahat. Semuanya jadi meditasi. Dalam Upanishad, ini disebut "damyata", yaitu : menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan yang muncul dari badan dan pikiran.

Kemarahan kita, adalah sebentuk vasana [kecenderungan pikiran], sehingga begitu dia datang kita sadari dan amati bentuk pemikiran ini. Kesedihan kita, adalah sebentuk vasana [kecenderungan pikiran], sehingga begitu dia datang kita sadari dan amati bentuk pemikiran ini. Kebahagian kita, adalah sebentuk vasana [kecenderungan pikiran], sehingga begitu dia datang kita sadari dan amati bentuk pemikiran ini.

5. BUNGA POHON Raja Yoga [Ketika kehidupan kita diliputi shanti -sejuk dan damai].

Kesejukan dan kedamaian bathin itu indah dan merupakan pertanda kita sudah maju dalam Raja Yoga. Yang pertama kali merasakan kesejukan ini adalah diri kita sendiri. Kemudian dirasakan oleh orang-orang terdekat kita [istri, suami, anak]. Kemudian dirasakan semua orang disekitar kita.

Tapi musti dicatat bahwa ini bukanlah akhir perjalanan. Bahayanya kalau kita bertemu dengan kedamaian, kita akan terikat. Orang yang terikat dengan bunga meditasi, dia berharap di semua meditasi dia merealisasi damai. Tatkala tidak damai, kemudian kecewa. Karena itu, ini bukanlah akhir perjalanan. Bunga pohon Raja Yoga bukan akhir perjalanan. Kesejukan dan kedamaian bathin bukanlah akhir perjalanan meditatif.

6. BUAH POHON Raja Yoga [Ketika kita sudah berhenti mencari. Termasuk mencari kedamaian. Ketika kita menyatu dengan hidup itu sendiri].

Maharsi Patanjali dalam Yoga Sutra menulis : "Yoga citta vritti nirodhah" [yoga adalah proses untuk meniadakan riak-riak pikiran]. Dan itulah buah pohon Raja Yoga, pikiran yang sepenuhnya hening. Ini yang dalam vedanta disebut sebagai jivan-mukti.

Orang-orang yang memahami jalan-jalan meditatif, apalagi seorang satguru, kalau ditanya : "dapat apa dalam perjalanan meditatif ?", jawabnya : "tidak dapat apa-apa". Jawaban yang pasti membingungkan buat yang tidak paham. Jalan-jalan meditatif adalah perjalanan tanpa tujuan. Persis seperti air di sungai, dia mengalir sempurna. Mau lama, mau cepat, mau jauh, mau dekat, dia pasti sampai di samudera. Dalam jalan meditatif itulah buah pohon Raja Yoga : ketika kita sudah berhenti mencari, termasuk tidak mencari kedamaian. Mengalir sempurna di sungai kehidupan.

Pendapat, emosi, keinginan dan cara kita memandang kehidupan biasanya dilatarbelakangi [dipengaruhi] oleh memory pikiran kita masing-masing. Sehingga kebanyakan orang memperebutkan kebahagiaan dan melemparkan derita kepada orang lain. Sehingga kebanyakan orang mempertentangkan salah dan benar. Perang, perkelahian, konflik, perdebatan, semuanya berebut menyebut diri ”benar” serta melemparkan ”salah” kepada pihak lain.

Bagi jiwa yang biasa menyatu dengan kealamian alam semesta, akan mengerti kalau ada kesempurnaan dalam kealamian. Cemara tumbuh di gunung yang dingin, kelapa tumbuh di pantai yang panas. Sapi memakan rumput, ular memakan katak. Ayam berlari-lari diatas tanah, bebek berenang di kolam. Semuanya berada di tempat alaminya. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya melihat semuanya apa adanya. Siapa saya yang bisa mengalir sempurna dengan kealamian ini, ia sudah menjadi satu dengan kesempurnaan.

Hidup ini laksana taman yang indah. Ada orang baik, ada orang jahat. Ada orang disiplin, ada orang tidak disiplin. Ada orang menyenangkan, ada orang tidak menyenangkan. Ada wanita yang setia sama suaminya, ada wanita yang tidak setia. Taman-pun seperti itu : ada pohon jepun, ada pohon anggrek, ada pohon kelapa, ada rerumputan, dll.

Orang-orang jahat dan orang-orang tidak baik, itu cara dia bertumbuh. Belum tentu dia tidak akan bertumbuh. Kegelapan dan kekotoran bathin, dia juga bisa menjadi jalan pembuka menuju gerbang pembebasan bagi seseorang, bila karena kegelapan dan kekotoran bathin itu kemudian membuat dia menjadi sangat menyesal. lalu kekurangan-kekurangannya itu dia gunakan sebagai janji untuk melaksanakan dharma dengan upaya lebih keras.

Jatuh sakit, kena musibah dan disakiti orang lain [penderitaan] adalah kesempatan kita untuk membayar hutang karma. Hutang karma kita kepada orang lain,mahluk lain,alam semesta dan kesalahan2 masa lalu. Sehat bugar, banyak rejeki dan dipercaya orang adalah kesempatan kita untuk berbagi welas asih dan kebaikan dengan mahluk lain.

Dualitas dalam kehidupan ada bukan sebagai lawan-lawan yang berperang, tapi sebagai satu kesatuan yang saling menghidupkan. Ia yang membadankan ini dalam kehidupan keseharian tidak menyisakan satupun kegelapan, kemarahan, kesedihan dan kebencian dalam hidupnya. Bahagia dilawan menderita, benar dilawan salah, suci dilawan gelap, sehingga riuhlah kehidupan. Dalam keheningan yang sempurna terlihat jelas, semua hal : baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, lenyap dalam RWA BHINNEDA.

Ketika kita bisa melihat semuanya ada di tempatnya masing-masing, ketika kita bisa menyadari semuanya indah dan sempurna sebagai mana adanya : PIKIRAN HENING. Tanpa kata-kata, tanpa hiruk-pikuk keriuhan. Hanya paramashanti yang berkelimpahan di dalam diri.

Siapa saja yang bisa mengembalikan pikiran ke tempat semula sebagai pembantu [bukan sebagai majikan] ia sampai pada buah pohon Raja Yoga. Dan buah pohon Raja Yoga adalah sebuah kehidupan yang paramashanti [damai sempurna]. Hening, sunyi dan sepi sempurna. Kedamaian tidak saja datang dalam hidup, tapi hidup itu sendiri adalah kedamaian. Bukan damai yang berlawankan kekacauan. Bukan damai yang diikuti rasa suka kemudian kecewa ketika ia lenyap. Namun shanti [damai] karena semuanya sempurna dalam kealamiannya. Ketika kita bisa menyadari semuanya indah apa adanya, sebagai mana adanya. Alami tanpa penghakiman dan tanpa penilaian, tanpa dualitas hitam-putih, salah-benar, baik-buruk, melihat semuanya apa adanya. Semuanya sudah, sedang dan akan berjalan sempurna.

Itu sebabnya di Bali, puncak-puncak spiritualitas selalu diidentikkan dengan keheningan. Tahun baru saka dirayakan dengan hari raya NYEPI [practice of complete silence]. Pada tingkat tertinggi dari Penataran Agung Pura Besakih, Tuhan disebut dengan Sang Hyang Embang [yang maha suci yang hening / sunyi]. Puncak dari ajaran Shiva disebut : "Dakshina Murti" [ajaran Shiva yang hanya bisa ditemukan di dalam diam sempurna]. Dan praktek paripurna dari dharma disebut ”agama tanpa sastra”. Tanpa tulisan, tanpa kata-kata, tanpa hiruk-pikuk keriuhan. Hanya diam dan senyum-senyum saja dalam shanti [damai] yang sempurna.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Kajeng Kliwon, 7 April 2010

Rabu, 22 Juni 2011

Moksha [pembebasan sempurna]

PENDAHULUAN

Sering kita mendengar istilah moksha, sebagai puncak dari ajaran Hindu. Tapi mungkin ada sebagian penganut Hindu yang tidak sepenuhnya paham apa itu moksha. Moksha secara literal dalam bahasa sansekerta berarti : pembebasan. Sedangkan moksha dalam ajaran dharma berarti pembebasan dari samsara [roda kelahiran yang berulang-ulang] beserta seluruh kesengsaraan yang diakibatkan oleh avidya [kebodohan, ketidaktahuan] di dalamnya. Realitas sejati kita adalah acintya [tidak terpikirkan], dalam kata-kata biasa bisa kita jelaskan sebagai maha damai, suci dan terang benderang. Tapi karena ke-aku-an dan kegelapan bathin, kita terjebak di dalam badan yang kotor ini.

Moksha sebenarnya adalah istilah bagi mereka yang sudah terbebaskan dan sudah meninggalkan dunia ini. Istilah moksha bagi yang masih hidup adalah Jivan-Mukti. Jiva berarti mahluk hidup, mukti berarti lepas / bebas. Jivan Mukti berarti mahluk hidup yang sudah terbebaskan.

Moksha dan Jivan-Mukti sejatinya tidak bisa dijelaskan, hanya bisa diketahui melalui pengalaman langsung [pratyaksa pramana]. Ketika sudah dialami-pun kita juga tidak bisa menjelaskannya. Itulah sebabnya Brhadaranyaka Upanishad menjelaskannya sebagai neti neti [bukan ini, bukan itu], karena memang tidak bisa dijelaskan. Tapi walaupun begitu, ada penjelasan-penjelasan yang mendekati yang bisa menjelaskan apa itu moksha dan Jivan-Mukti, walaupun tidak sepenuhnya tepat sempurna.

PENJELASAN TENTANG JIVAN-MUKTI

Pertama kita pahami dulu apa itu bebas secara sederhana. Coba amati kecenderungan-kecenderungan pikiran [vasana] kita. Pikiran kita berkata : aku ingin ini-itu, aku ingin begini-begitu, aku marah sama si A dan si B, aku lebih benar dari kamu, aku lebih hebat dari kamu, aku merasa sedih, aku merasa bahagia karena ini-itu, aku khawatir nanti begini-begitu, dll. Pikiran ini ribut sekali. Pikiran ini inguh [resah-gelisah]. Bathin ini berguncang. Ketika senang kita bahagia, ketika sedih kita larut dalam kesedihan. Ciri lain bathin yang berguncang adalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh.

Sekarang kita bayangkan semua pemikiran-pemikiran tadi lenyap. Hening. Apakah yang terjadi ? Bathin menjadi bersih sempurna, tenang-seimbang [upeksha]. Kita bersentuhan dengan intisari diri kita, intisari alam semesta dan intisari yang maha suci yang maha tidak terpikirkan, dimana yang ada hanya kedamaian dan kedamaian. Dalam ruang bathin seperti itu, kekhawatiran, kemarahan, kesedihan, ketakutan, keserakahan, dll, kehilangan cengkeramannya pada diri kita. Welas asih dan kebaikan bersemi.

1. Jivan-Mukti dalam penjelasan untuk orang biasa seperti kita.

Untuk orang biasa seperti kita, penjelasan paling mudah tentang Jivan-mukti -walaupun ini tidak sepenuhnya tepat- adalahnya lenyapnya seluruh sad ripu [enam kegelapan bathin] di dalam diri kita. Sederhananya : lenyapnya api iri hati, lenyapnya api kemarahan dan kebencian, lenyapnya api ketidakpuasan, lenyapnya api rasa takut dan rasa malu, lenyapnya api rasa curiga dan rasa khawatir, serta lenyapnya segala bentuk api-api emosi negatif lainnya. Semuanya lenyap. Ketika semuanya lenyap sempurna, yang tersisa dalam bathin kita hanya paramashanti [kedamaian sempurna].

Itulah penjelasan Jivan-mukti untuk orang biasa seperti kita. Siapa saja yang api sad ripu-nya sudah lenyap, dia tidak perlu melihat gunung dan pantai, tidak perlu pujian orang lain, tidak perlu dugem, tidak perlu punya mobil mewah, tidak perlu berlibur ke luar negeri, hanya untuk menjadi tenang dan bahagia. Karena mengapa ? Karena di dalam bathinnya sendiri sudah terang dan indah. Apapun yang terjadi dalam kehidupan, tidak menyentuh. Dalam Hindu disimbolikkan sebagai Bunga Padma [teratai], yang tidak basah oleh air.

Ciri luar orang yang sudah mengalami Jivan-mukti, dia banyak diam dan senyum-senyum saja. Walaupun tentu saja belum tentu orang yang banyak diam dan senyum-senyum saja adalah seorang Jivan-Mukta

2. Jivan-mukti dalam penjelasan untuk para yogi yang sudah maju.

Untuk para yogi yang sudah maju, penjelasan tentang Jivan-mukti adalah Nirahamkarah [lenyapnya ke-aku-an]. Ini dijelaskan dalam berbagai buku vedanta, seperti misalnya pada Mundaka Upanishad dalam sloka berikut :

"Laksana sungai mengalir ke samudera, lenyap tanpa identitas dan bentuk. Begitulah mereka yang sudah sadar, lenyap dan terbebaskan dari identitas dan bentuk. Manunggal dengan dengan Brahman, lebih tinggi dari yang tertinggi."

Ketika ke-aku-an lenyap [nirahamkarah], kita menyatu rapi dengan segala yang ada. Kita bebas dari kecenderungan kepada prakriti [fenomena alam materi] menuju kecenderungan kepada purusha [realitas absolut]. Keheningan bathin yang sempurna. Maha damai, maha bahagia, maha suci, tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dipahami melalui pengalaman langsung [pratyaksa pramana].

Dan bagi para yogi atau bhakta yang serius, keheningan bathin yang sempurna sebagai puncak perjalanan, sebagai realitas absolut, haruslah digunakan sebagai konsep mendasar yang dapat membantu mengarahkan kemana seharusnya arah perjalanan bathin kita. Setelah itu silahkan ambil sadhana [praktek spiritual] yang kita rasa paling cocok dan sesuai untuk diri kita sendiri.

DUA MACAM MOKSHA

Kita sering mendengar kalau ada seorang Jivan-Mukta yang meninggal dan mengalami moksha, badan fisiknya lenyap. Ini tidak selalu terjadi demikian. Para Jivan-Mukta yang menempuh jalan Laya Yoga [Kundalini Yoga] dan Tantra [di Bali disebut jalan kawisesan], menggunakan divine energy [energi suci alam semesta], ketika dia meninggal [moksha] badan fisiknya lenyap. Ini karena ketika dia meninggal, energi suci [berupa api kundalini] membakar badan fisiknya sampai menjadi abu mikro, sehingga seolah-olah badan fisiknya lenyap.

Berbeda dengan para Jivan-Mukta yang menempuh jalan bhakti dan meditasi [raja yoga], yang tidak mengambil jalan kawisesan, ketika dia meninggal [moksha] badan fisiknya tidak lenyap. Hanya ke-aku-annya yang sudah lenyap sempurna [nirahamkarah]. Tapi kedua jalan ini sama-sama Moksha, amor ring acintya [manunggal dengan yang maha tidak terpikirkan].

Ketika seorang Jivan-Mukta meninggal [mengalami moksha], alam semesta biasanya ikut merespon. Bisa muncul bau harum, bisa muncul sinar, dsb-nya.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Purnama Kapat
23 September 2010

Tri Loka : tiga jenis alam semesta



Dalam Hindu kita mengenal ajaran tentang alam semesta [bhuwana agung] beserta seluruh lapisan-lapisan dimensinya. Ada alam materi [dimana kita sekarang berada] dan ada alam-alam halus. Secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi tiga, yang disebut Tri Loka, yaitu Bhur Loka [lapisan-lapisan dimensi alam negatif], Bvah Loka [lapisan-lapisan dimensi siklus samsara, siklus kehidupan-kematian] dan Svah Loka [lapisan-lapisan dimensi alam positif]. Bhur Loka dalam beberapa teks-teks Hindu disebut juga Sapta Petala. Bvah Loka dan Svah Loka dalam beberapa teks-teks Hindu digabung jadi satu dan disebut Sapta Loka.

Lapisan-lapisan dimensi alam ini tidak terletak vertikal [tinggi rendah] satu sama lain, tapi ada sama persis dengan kita sekarang. Hanya saja sebagian besar berada di dimensi [lapisan] yang halus [bukan alam materi]. Halus disini dimaksudkan diluar kemampuan indriya-indriya dan pikiran kita untuk melihatnya, sehingga kita yang masih di alam materi ini tidak bisa melihat, merasakan atau mengetahuinya. Kecuali bagi mereka yang memiliki indriya ekstra dan orang-orang yang sidha. Alam-alam halus ini semakin positif kehalusannya semakin halus, semakin negatif kehalusannya semakin kasar.

Komposisi alam semesta [bhuwana agung] ini sesungguhnya mirip dengan komposisi seluruh lapisan badan kita [bhuwana alit]. Ketika kita mati, kita akan memasuki salah satu dari lapisan-lapisan alam halus ini, sesuai dengan tingkat kemurnian bathin kita sendiri [badan halus]. Kita tidak bisa pergi dan menetap lama-lama di alam-alam yang berbeda dengan tingkat kemurnian bathin kita. Analoginya mungkin bisa dikatakan seperti kalau kita naik pesawat terbang terbuka, kita akan mengalami kesulitan untuk bernafas pada ketinggian dimana oksigen tipis, kita akan megap-megap, tapi bagi orang yang sudah biasa tinggal di pegunungan tinggi hal ini tidak masalah.

KEMATIAN

Sebelumnya perlu dijelaskan kembali bahwa faktor kunci di alam kematian adalah kecenderungan pikiran kita sendiri [vasana]. Alam kematian adalah lapisan-lapisan alam yang mayoritas dibentuk oleh mental. Ketika kita mati, kita berpisah dengan sthula sarira [badan fisik] kita. Akibatnya semua rekaman atau memory dari seluruh kehidupan kita [yang tersimpan di karana sarira] muncul dan jebol semua, karena tidak ada lagi badan fisik yang menjadi penghalang [membuat kita lupa]. Seluruh akumulasi pengalaman hidup muncul dari segala sudut pikiran, kejadian demi kejadian. Seperti film yang diputar cepat. Semua kejadian dan pengalaman hidup kita akan terlihat sangat jelas dan detail layaknya kita menonton film layar lebar.

Akumulasi pikiran buruk dan memory buruk [marah, dendam, iri hati, hawa nafsu, serakah, dll] akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang negatif. Akumulasi pikiran baik dan memory baik [welas asih dan kebaikan] akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang positif. Dan bathin yang sudah bebas [jivan-mukti] akan membawa kita menuju pembebasan [moksha]. Mengapa demikian ? Karena tubuh dan lingkungan kita di alam kematian dibentuk oleh bahan-bahan divine energy yang sama dengan yang membentuk pikiran kita. Sehingga kita kemudian akan tinggal di salah satu lapisan alam-alam halus yang paling sesuai dengan kualitas dan kecenderungan pikiran kita sendiri.


-TRI LOKA PERTAMA : BHUR LOKA [ALAM HALUS NEGATIF, ALAM BAWAH]-


Bhur loka atau alam halus negatif ini adalah alam yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang bathinnya gelap, hidupnya tidak benar atau menyalahgunakan kesaktian semasa hidupnya. Umumnya kita menyebut mereka sebagai para ashura atau mahluk-mahluk bawah [bhuta kala].

Bhur Loka [disebut juga Sapta Petala atau naraka] adalah alam mental-energi negatif, bukan seperti alam fisik. Kita disini sangat tersiksa karena proyeksi mental-energi negatif dari isi pikiran-pikiran kita sendiri [pikiran buruk dan memory buruk]. Bisa dikatakan seperti mengalami mimpi sangat buruk, tapi lebih nyata dari mimpi buruk, karena pikiran-pikiran buruk kita terproyeksikan menjadi begitu nyata oleh energi-energi negatif di alam ini. Jiwa-jiwa ini semuanya mengalami siksaan, namun tentu saja tidak ada yang terluka atau apa dalam artian fisik, karena itu tak ada bedanya seperti orang yang bermimpi sangat buruk [dalam tidur].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah sukshma sarira. Jiwa-jiwa yang lahir di alam ini setelah mati sebenarnya bukanlah sebagai hukuman, melainkan hanya hukum alam yang bekerja bahwa kita akan tiba di tempat yang paling sesuai dengan kondisi bathin kita sendiri. Analoginya mungkin bisa dikatakan seperti minyak yang akan berkumpul dengan minyak dan air yang akan berkumpul dengan air secara otomatis.

Di masing-masing petala ini kita akan bertemu dengan jiwa-jiwa yang kualitas negatif-nya sejenis dengan kita. Dan perlu diketahui bahwa di alam ini terjadi perbudakan mental [cuci otak] oleh jiwa-jiwa yang sakti atau cerdas [jiwa-jiwa gelap penguasa neraka] kepada jiwa-jiwa yang lainnya. Kita dipengaruhi agar marah, membenci, sombong, terikat pada nafsu keinginan, dll. Tujuannya agar jiwa-jiwa ini tetap terjebak di alam ini dan mereka menjadi penguasa disini. Itu juga salah satu sebabnya kenapa sekali sang jiwa terperosok disini, dia akan tinggal untuk jangka waktu yang sangat lama, sebelum bisa lahir kembali di alam material untuk kembali melanjutkan evolusi bathin. Durasinya bisa antara ribuan tahun, jutaan tahun, milyaran tahun atau bahkan selamanya sampai maha pralaya [kehancuran alam semesta]. Jiwa-jiwa sangat sulit keluar dari sana karena hirarki jiwa-jiwa gelap yang menjadikan dirinya penguasa neraka, mempengaruhi pikiran mereka agar tetap negatif, sehingga terus terkurung disana.

Bhur Loka atau Sapta Petala terdiri dari tujuh lapisan dimensi alam. Semakin negatif atau kasar lapisan dimensi bhur loka yang kita masuki, lingkungannya semakin tidak mendukung bagi jiwa untuk mengalami kebahagiaan dan kedamaian. Jiwa-jiwa yang terperosok ke alam ini adalah apa yang biasa kita sebut sebagai para ashura atau mahluk-mahluk bawah [bhuta kala]. Berikut penjelasan mengenai Bhur Loka atau Sapta Petala :

1. Sapta Petala lapisan atau dimensi pertama : Atala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dll], menyebabkan seseorang mengalami kesengsaraan berkepanjangan. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan memory akan rasa marah, tersinggung, rasa sakit fisik, rasa bersalah, dll. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan memory akan kasih sayang dan kebaikan yang pernah dilakukan.

2. Sapta Petala lapisan kedua : Witala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dll], menyebabkan sekelompok orang mengalami kesengsaraan berkepanjangan. Misalnya saja [hanya contoh] melakukan penipuan besar kepada sekelompok orang, mengeksploitasi tenaga kerja, dll. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan memory akan berbagai keinginan-keinginan pikiran yang tidak terpenuhi seperti karir, pendidikan, rasa sayang dari anak-anak, dll. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan memory akan keuntungan besar dalam bisnis, kekayaan seperti rumah megah, mobil mewah, baju bagus, HP canggih, dll.

3. Sapta Petala lapisan ketiga : Sutala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dll], menyebabkan banyak orang mengalami kesengsaraan berkepanjangan. Misalnya saja [hanya contoh] meracuni makanan atau obat-obatan [formalin, methanol, zat berbahaya, obat dengan dosis tidak sehat], memproduksi narkoba, melakukan korupsi dengan dampak besar, dll. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan memory akan berbagai keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak terpenuhi. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan memory akan keinginan-keinginan badan dan pikiran yang terpenuhi.

4. Sapta Petala lapisan ke-empat : Talatala.

Kita mulai memasuki lapisan alam negatif [pertama] yang merupakan habitat bagi jiwa-jiwa yang sedikit punya rasa kasih sayang dan dominan punya bathin gelap seperti : kemarahan, dendam, iri hati dan kebencian. Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia melakukan, menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dll] yang berujung pada terjadinya aksi kekerasan fisik fatal kepada sekelompok orang. Sang jiwa di alam ini mulai merasakan kesengsaraan mental yang mendalam, akibat proyeksi mental-energi yang tidak terhingga di alam ini. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan memory akan puasnya melampiaskan amarah yang menyebabkan orang lain menderita.

5. Sapta Petala lapisan kelima : Mahatala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia melakukan, menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dll] yang berujung pada terjadinya aksi kekerasan fisik fatal kepada banyak orang. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah akibat perbudakan mental dari jiwa-jiwa gelap penguasa alam petala serta sang jiwa merasa putus asa akibat kecilnya peluang untuk bisa bebas dari alam ini. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah setitik harapan kecil bahwa suatu hari akan ada yang menolong dari kesengsaraan mendalam ini.

6. Sapta Petala lapisan ke-enam : Rasatala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia melakukan, menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dll] yang berujung pada terjadinya aksi kekerasan fisik fatal kepada banyak orang di suatu wilayah besar dari suatu negara atau bangsa. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah siksaan mental yang sangat berat akibat dari kesengsaraan mental yang ekstrim. Tidak ada kebahagiaan di alam ini.

7. Sapta Petala lapisan ketujuh atau paling negatif & gelap : Patala.

Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia melakukan, menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dll] yang berujung pada terjadinya aksi kekerasan fisik fatal kepada banyak orang di satu negara atau lintas negara [beberapa negara atau bangsa]. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah siksaan mental yang sangat berat akibat dari kesengsaraan mental yang ekstrim. Tidak ada kebahagiaan di alam ini.

Keterangan tambahan :

Tidak ada kegelapan yang bisa dihilangkan dengan kegelapan [rasa takut, sedih, marah, benci, penuh keinginan, dll], kegelapan hanya bisa hilang dengan cahaya terang. Sehingga satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan dan mengeluarkan kita dari alam ini adalah pikiran yang bersih [tenang-seimbang, bebas dari sad ripu] serta penuh welas asih dan kebaikan tidak terbatas kepada semua. [Melakukan meditasi atau japa mantra tertentu juga cukup membantu]. Sehingga ketika ada mahluk-mahluk suci dari alam-alam luhur atau dari dunia material [yang karena welas asih-nya] kemudian datang kesini untuk menunjukkan jalan menuju cahaya [menyelamatkan kita], kita bisa secepatnya keluar dari sini. Tapi tanpa bathin kita sendiri bersih serta penuh welas asih dan kebaikan, mereka juga tidak akan bisa mengeluarkan kita dari sini.


-TRI LOKA KEDUA : BVAH LOKA [ALAM SIKLUS SAMSARA, KEHIDUPAN-KEMATIAN]-


Bvah loka seing diistilahkan sebagai alam tengah. Terdiri dari alam material dimana kita saat ini berada dan alam halus Bvah Loka, tempat para jiwa-jiwa antre untuk reinkarnasi kembali.

1. Mayapada [dunia material-fisikal dimana saat ini kita berada].

Bedanya antara alam negatif, alam positif dan dunia material dimana saat ini kita berada adalah, bahwa di dunia material ini adalah tempat percampuran mahluk-mahluk dari berbagai kualitas tingkatan jiwa [kemurnian bathin]. Kalau di alam negatif dan alam positif cenderung seragam kualitas jiwa-nya. Setelah kita mati kita akan pergi ke salah satu alam yang paling sesuai dengan tingkat kemurnian bathin kita sendiri.

Lahir ke dunia material ini sebagai manusia sangat sangat penting artinya, karena inilah satu-satunya lapisan dimensi alam dimana evolusi bathin kita [dari kegelapan menuju kemurnian bathin] bisa maju sangat pesat. Inilah lapisan dimensi alam tempat kita melatih jiwa, memurnikan bathin. Pertama karena di dunia material ini, dengan bantuan tubuh fisik kita dapat melakukan banyak hal untuk meningkatkan evolusi bathin kita. Kedua karena di dunia ini antara kebahagiaan dan kesedihan seimbang. Di alam positif kebahagiaan terlalu mendominasi, di alam negatif kesengsaraan terlalu mendominasi.  Jadi lahir ke dunia ini sebenarnya adalah kesempatan yang sangat baik untuk merealisasi moksha [pembebasan]. Bahkan para dewa-pun akan lahir ke bumi jika ingin merealisasi moksha.

Diantara alam materi dan alam halus, terdapat alam transisi yang disebut :
Mrtya Loka [Alam Kematian].

Mrtya Loka atau alam kematian ini adalah alam yang kebanyakan akan dilewati oleh orang mati yang tempatnya adalah di alam halus bvah loka. Sebelumnya kita runut dahulu fase-fase kematian secara singkat. Setelah seseorang mati dia akan meninggalkan sthula sarira [badan fisik] dan pranamaya kosha [badan energi kehidupan], lalu kesadaran pindah ke linga sarira [lapisan halus badan fisik] dan masih berada di alam material [dalam bahasa umum : menjadi hantu]. Sebelum kemudian meninggalkan lingsa sarira dan alam material, dia akan melewati fase sushupti [tidur lelap tanpa mimpi]. Setelah terbangun dari fase ini, kesadaran sudah pindah dari linga sarira ke sukshma sarira [badan astral] dan berada di Mrtya Loka.

Mrtya Loka ini didominasi oleh rangkaian cahaya dan aliran gelombang energi berwarna ungu dan merah. Energi inilah yang membantu sang jiwa mengurai keinginan dan keterikatan dalam badan halus [badan pikiran] sang jiwa.

Mrtya Loka adalah alam transisi antara alam material dengan berbagai alam-alam halus. Sang jiwa akan melewati alam-alam ini dengan perlahan-lahan untuk melepaskan sisa-sisa keterikatan terhadap kehidupan duniawi dan kekasaran pikiran. Bagi mereka yang evolusi bathinnya maju [bathinnya bersih], karena lapisan badan halusnya begitu halus, mereka melesat dengan cepat melewati Mrtya Loka ini dan langsung lahir di alam-alam luhur [Svah Loka] seperti Svarga Loka, Maha Loka, dll. Sebaliknya bagi yang bathinnya penuh kekotoran dan akan lahir di alam bawah [alamnya para ashura atau Bhur Loka], mereka juga tidak akan terlalu banyak menghabiskan waktu di Mrtya Loka ini, karena lapisan badan halusnya begitu kasar untuk bisa lama berada disini.

Dalam teks-teks Hindu ada kisah jiwa-jiwa yang baru meninggal yang harus melewati sungai Vaitarna sebelum memasuki alam halus alam tengah. Kisah ini benar adanya, karena Mrtya Loka ini adalah alam yang identik dengan unsur air dari alam semesta. Atau kisah titi ugal-agil dalam lontar-lontar Bali, disebutkan bahwa jiwa-jiwa yang ingin keluar dari neraka harus melewati jembatan ini agar bisa terlahir kembali. Kisah ini juga benar adanya, karena jika sang jiwa ingin keluar dari neraka ia harus melewati Mrtya Loka ini kembali agar bisa sampai di alam halus alam tengah [bvah loka], dimana jiwa-jiwa antre untuk bisa terlahir kembali [reinkarnasi]. Mrtya Loka ini berfungsi untuk melepaskan sisa-sisa keterikatan terhadap kehidupan duniawi dan kekasaran pikiran.

Suasana alam ini dominan berwarna ungu kemerahan. Kadang terlihat corat-coret kasar ungu dan merah, kadang jalinan benang-benang berwarna ungu kemerahan, kadang terlihat partikel-partikel halus rajas-tamas atau kadang terlihat awan ungu kemerahan. Akan tetapi walaupun alam ini berwarna ungu dan merah, banyak juga jiwa-jiwa yang melewati alam ini hanya melihat kegelapan pekat. Hal ini disebabkan sukshma sarira sang jiwa ditutupi kabut dari pikiran yang negatif [keterikatan, keinginan, ego, dll]. Analoginya seperti mata kita ditutup kain hitam sehingga yang kita lihat hanya kegelapan pekat.

Sukshma sarira [badan halus] sang jiwa akan pontang-panting dan diguncang-guncang di lapisan alam ini, karena tekanan tinggi di alam ini dan karena alam ini benar-benar baru bagi dia [belum beradaptasi]. [Catatan : ingat konteks simbolik titi ugal-agil atau jembatan yang bergoyang-goyang dalam teks-teks lontar Bali]. Karena adanya tekanan tinggi dia harus bergerak, tapi dia tidak tahu harus ke arah mana.

Kunci untuk melewati alam transisi ini adalah adaptasi sukshma sarira untuk menyesuaikan diri dengan tekanan lingkungan serta kecenderungan pikiran kita sendiri [vasana]. Saat kita mati dan harus melintasi Mrtya Loka ini, idealnya kita harus bersikap sepenuhnya tenang, damai, pasrah dan biarkan gelombang energi ini masuk dan melewati kita. Jangan takut. Biarkan diri kita menjadi satu dengan rangkaian cahaya, warna dan gelombang energi ini. Dalam moment ini kita mungkin akan tergoda dengan kemunculan memory kehidupan kita, kemunculan alam yang indah, warna-warni, suara-suara atau orang-orang tertentu yang kita kenal dalam hidup kita. JANGAN TERTARIK dengan semua hal dunawi yang muncul. Cukup bersikap sadar terhadap semua riak-riak pikiran kita sendiri, itu saja. Bila kita mampu bersikap demikian, perjalanan di alam ini akan jauh lebih mudah.

Sampai kemudian pada suatu fase dimana gelombang bercahaya terlihat muncul dari dalam sukshma sarira. Disinilah sang jiwa mulai mengetahui cara untuk melewati Mrtya Loka [alam kematian] ini. Sukshma sarira [badan halus] sang jiwa dapat melewatinya dengan menggunakan kekuatan gelombang bercahaya dari dalam sukshma sarira ini. Hingga kemudian sukshma sarira mencapai lapisanpuncak atmosfer Mrtya Loka ini yang disebut Antariksha. Alam atmosfer ini memiliki energinya sendiri yang akan membuat kita melesat laksana komet menuju alam halus Bvah Loka. Suara gemuruh laksana angin badai terdengar di  alam atmosfer ini.

Waktu yang dihabiskan di Mrtya Loka bagi jiwa-jiwa yang mati yang akan pergi ke alam halus bvah loka umumnya berkisar antara beberapa bulan s/d bertahun-tahun. Faktor terpenting yang mempengaruhi durasi lamanya berada di Mrtya Loka ini adalah :

- Putaran karma dan tingkat kebersihan bathin sang jiwa.
Inilah faktor yang sebenarnya paling penting dan menentukan. Tapi kita yang masih hidup juga bisa membantu perjalanan sang jiwa dengan cara-cara berikut dibawah.

- Tingkat kerelaan untuk melepaskan keterikatan duniawi oleh sang jiwa.
Itulah sebabnya di Bali ada tradisi meluasang [nunas bawos] atau nuwunang roh keluarga yang baru saja meninggal. Tujuannya kalau-kalau seandainya sang jiwa masih ada ganjalan dalam hidupnya. Sehingga ketika ganjalan-ganjalan tersebut dibantu diselesaikan oleh yang masih hidup, sang jiwa mungkin akan lebih rela menyambut kematiannya dan melepaskan kehidupan duniawi.

- Upakara atau persembahyangan yang dibuatkan oleh keluarganya atau orang lain bagi sang jiwa.
Bukan besarnya banten dan upakara yang menentukan [utamaning upakara], sama sekali tidak. Faktor pertama adalah pentingnya melakukan kremasi [pembakaran mayat], karena kremasi mempercepat kembalinya [terurai] tubuh fisik menjadi unsur panca maha bhuta, yang sangat membantu perjalanan sang jiwa. Faktor kedua adalah dihantar dengan upakara yang dilakukan dengan baik dan benar [bisa dibandingkan dan dilihat pada tulisan : Tips Mebanten yang terang dan indah]. Bukan besarnya banten dan upakara, melainkan : sumber bahannya baik [bukan hasil korupsi atau mencuri, pinjam uang, hasil jual tanah atau rumah, dll], proses pembuatannya baik [tidak ada yang bertengkar, saling menjelekkan, dll] dan dipuput oleh sulinggih atau pemangku yang memiliki bathin bersih [bukan sulinggih atau pemangku bisnis, dll]. Semua ini sangat membantu perjalanan sang jiwa, karena dengan demikian sang jiwa bisa ditunjukkan jalan yang benar [menuju cahaya atau jyoti] di alam kematian.

2. [Alam Halus] Bvah Loka

Alam halus Bvah Loka ini adalah alam tempat jiwa-jiwa antre untuk reinkarnasi kembali. Dalam artian punya kesempatan besar untuk lahir sebagai manusia, mengalami evolusi bathin dan naik tingkat lagi. Karena sekali masuk ke bhur loka [alam neraka], besar kemungkinan sang jiwa akan terperosok disana untuk jangka waktu yang sangat lama. Antara ribuan tahun, jutaan tahun, milyaran tahun atau bahkan terjebak selamanya disana sampai maha pralaya [kehancuran alam semesta].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah sukshma sarira. Di alam halus Bvah Loka ini keadaannya cukup mirip dengan di bumi. Kita mengalami kerinduan akan keinginan-keinginan duniawi, serta mengalami kesedihan dan kebahagiaan yang sama seperti halnya di bumi. Sehingga kadang jiwa-jiwa yang mendiami lapisan alam ini tidak sabar dan mencoba melakukan kontak dengan dunia material [melalui mimpi seseorang, melalui perjalanan lintas dimensi, dll]. Hal ini sebenarnya aktifitas yang sangat berbahaya bagi sang jiwa sendiri, karena dengan demikian jiwa-jiwa gelap [ashura] yang menguasai neraka bisa memanfaatkan sang jiwa atau bahkan menariknya ke alam Bhur Loka.

Jangka waktu rata-rata [kebanyakan] untuk reinkarnasi kembali berkisar antara 50 sampai 400 tahun. Tapi bisa lebih cepat atau lebih lambat, penyebabnya adalah sang jiwa harus antre dan sang jiwa hanya dapat lahir kembali ketika ada moment dan tempat yang tepat untuk lahir kembali sesuai putaran karmanya sendiri.


-TRI LOKA KETIGA : SVAH LOKA [ALAM HALUS POSITIF, ALAM ATAS, ALAM LUHUR]-


Svah Loka atau alam positif ini adalah alam yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang bathinnya bersih, serta hidupnya penuh welas asih dan kebaikan. Umumnya kita menyebut mereka sebagai pitara, betara atau dewa. Di lapisan alam ini kita merasakan kebahagiaan dan kedamaian luar biasa, karena proyeksi mental-energi positif dari isi pikiran-pikiran kita sendiri [pikiran polos dan memory baik], terproyeksikan menjadi nyata oleh energi-energi luhur di alam ini.

Sebelumnya perlu dijelaskan kembali bahwa beberapa saat setelah kematian ada beberapa fase kosmik yang kita lalui, yang terpenting adalah ketika muncul cahaya terang [jyoti], yang merupakan gerbang jalan bagi jiwa menuju alam-alam luhur svah loka atau bahkan moksha [pembebasan]. Akan tetapi durasi kemunculan cahaya ini sangat bervariasi bagi setiap orang. Tergantung kepada vasana [kecenderungan pikiran] kita sendiri di moment-moment menjelang kematian. Bagi yang di moment kematian pikirannya cenderung buruk, cahaya terang ini muncul hanya mulai dari setengah detik s/d 30 menit saja. Bagi yang di moment kematian pikirannya cenderung tenang dan damai, cahaya terang ini bisa muncul selama sekitar 30 menit s/d beberapa jam. Sang jiwa harus bergerak menuju cahaya ini untuk dapat memasuki Svah Loka. Jiwa yang bersih akan mudah atau bahkan ditarik menuju cahaya ini, jiwa yang kotor mungkin akan gagal.

Svah Loka terdiri dari lima lapisan dimensi alam. Semakin positif dan halus lapisan dimensi Svah Loka yang kita masuki, semakin dalam kebahagiaan dan kedamaian yang dirasakan sang jiwa. Berikut penjelasan mengenai Svah Loka :

1. Svarga Loka [Svah loka lapisan atau dimensi pertama].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah karana sarira [sukshma sarira sudah terurai bersih]. Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia bathinnya bersih dan banyak melakukan kebaikan. Sang jiwa akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang berlimpah. Jauh melebihi kebahagiaan dan kedamaian dalam kehidupan biasa yang kita rasakan di bumi. Hal ini tidak bisa dijelaskan, kecuali kalau kita pernah mengalami samadhi dalam meditasi, sedikit banyak akan paham maksudnya. Akan tetapi lahir di Svarga Loka belum menghentikan roda samsara, ada waktunya nanti sang jiwa harus kembali lahir ke dunia untuk melanjutkan evolusi bathinnya serta menyelesaikan sisa putaran karmanya sendiri.

2. Maha Loka [Svah loka lapisan kedua].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah vijnanamaya kosha [karana sarira sudah terurai bersih]. Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia merealisasi kesadaran, hanya saja belum sempurna. Lahir di Maha Loka berarti roda samsara [siklus kehidupan-kematian] telah berhenti. Sang jiwa bisa melanjutkan evolusi bathinnya dan menyelesaikan sisa putaran karmanya di lapisan alam ini juga. Akan tetapi banyak juga jiwa yang lahir di lapisan alam ini karena welas asih memutuskan untuk reinkarnasi kembali. Lahir ke dunia menjadi satguru yang terang dan membebaskan bagi umat manusia, sekaligus untuk melanjutkan evolusi bathinnya.

3. Jana Loka [Svah loka lapisan ketiga].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah vijnanamaya kosha. Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia merealisasi kesadaran [lebih sadar dari jiwa yang lahir di Maha Loka], tapi tetap saja belum sempurna. Lahir di Jana Loka berarti roda samsara [siklus kehidupan-kematian] telah berhenti. Sang jiwa bisa melanjutkan evolusi bathinnya dan menyelesaikan sisa putaran karmanya di lapisan alam ini juga. Akan tetapi banyak juga jiwa yang lahir di lapisan alam ini karena welas asih memutuskan untuk reinkarnasi kembali. Lahir ke dunia menjadi satguru yang terang dan membebaskan bagi umat manusia, sekaligus untuk melanjutkan evolusi bathinnya.

4. Tapa Loka [Svah loka lapisan ke-empat].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah vijnanamaya kosha. Sang jiwa yang lahir di alam ini menjadi apa yang disebut kesadaran kosmik. Dengan cara yang rahasia [tidak perlu turun lahir ke dunia] beliau selalu membimbing umat manusia, semua mahluk-mahluk lainnya, serta termasuk membimbing para dewa di ketiga Svah Loka sebelumnya menuju penerangan dan pembebasan.

5. Satya Loka [Svah loka lapisan kelima].

Lapisan badan yang dipakai di alam ini adalah anandamaya kosha [vijnanamaya kosha sudah terurai bersih]. Sang jiwa yang lahir di alam ini menjadi apa yang disebut maha-kesadaran kosmik. Kesadaran beliau sedikit lagi sempurna untuk bisa menyatu [manunggal] dengan yang maha tidak terpikirkan [Brahman]. Dengan cara yang rahasia [tidak perlu turun lahir ke dunia] beliau selalu membimbing umat manusia, semua mahluk-mahluk lainnya, serta termasuk membimbing para dewa di ke-empat Svah Loka sebelumnya menuju penerangan dan pembebasan.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
27 Novemberi 2010

Menyambut kematian secara terang dan indah



PENDAHULUAN

Kalau berbicara kematian, biasanya reaksi kita macam-macam, tapi yang paling banyak adalah reaksi takut atau ngeri. Padahal kematian itu sesuatu yang pasti. Siapapun kita : selebritis atau petani miskin, presiden atau pegawai rendahan, konglomerat atau pengemis, orang suci atau penjahat, dll, kita semua pasti mati. Tidak ada doa, mantram, yajna, yoga atau apapun juga yang bisa menghentikan kematian. Jangankan orang biasa seperti kita, para yogi, maha-siddha, jivan-mukta atau maharsi-pun tidak bisa menghentikan kematian.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Bisa 7 jam lagi, 7 hari lagi, 7 bulan lagi, 7 tahun lagi, 70 tahun lagi ? Kita tidak tahu. Walaupun demikian, kematian jangan dilihat sebagai ancaman menakutkan, tapi sebagai kesempatan yang sangat baik untuk memasuki wilayah kehidupan baru yang terang dan indah. Kematian datang bukan karena sakit, kematian datang bukan karena kesengajaan [dibunuh] orang lain, kematian datang bukan karena kecelakaan, dll, tapi kematian datang semata-mata karena WAKTUNYA SUDAH TIBA.

Karena kematian tidak bisa dihentikan oleh apapun, kita hanya punya satu pilihan : mempersiapkan kematian sejak jauh-jauh hari. Sebelum kita "pergi pulang ke tanah wayah" secara kacau, lebih baik kita siapkan sejak sekarang. Anda dan saya beruntung, karena sebelum "pergi pulang ke tanah wayah", sudah dapat ilmunya, sudah dapat rahasianya.

RAHASIA ALAM KEMATIAN

Faktor kunci di alam kematian adalah : kecenderungan bathin kita sendiri [vasana]. Alam kematian adalah lapisan-lapisan alam yang mayoritas dibentuk oleh mental. Kecenderungan bathin yang negatif akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang juga negatif, kecenderungan bathin yang positif akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang juga positif dan bathin yang sudah terbebaskan [jivan-mukti] akan membawa kita menuju moksha [pembebasan sempurna]. Mengapa demikian ? Karena tubuh dan lingkungan kita di alam kematian dibentuk oleh bahan-bahan divine energy yang sama dengan yang membentuk pikiran kita. Sehingga kita kemudian akan tinggal di salah satu lapisan-lapisan alam halus yang paling sesuai dengan kualitas dan kecenderungan pikiran kita sendiri.

Dan faktor paling menentukan dalam menyambut kematian adalah : bagaimana keadaan bathin kita di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan kita akan berakhir, itu yang akan sangat menentukan kita akan pergi kemana. Mereka yang takut, ragu, bingung, melawan, penuh keterikatan duniawi, apalagi dalam sifat kejam [tanpa welas asih], dalam kemarahan-kebencian, sangat mungkin nantinya pada prosesnya akan memasuki lapisan alam semesta bawah [bhur loka]. Menjadi bhuta kala, ashura, preta, setan, dll. Sebaliknya, kalau di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan berakhir, kita mengalami paramashanti [kedamaian sempurna], sangat mungkin setelah kematian kita langsung bergerak setidaknya sampai di lapisan alam semesta atas [svah loka] – boleh menyebutnya alam surga-. Lebih baik lagi kita bisa jadi dewa di tingkatan luhur [kesadaran kosmik]. Dan yang terbaik [kalau memungkinkan] kita bisa amor ring acintya, menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan” [moksha].

Karena itu sangat penting diinformasikan kepada orang-orang yang akan meninggal, di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan akan berakhir, sangat penting mengalami menit-menit dan detik-detik terakhir yang shanti [damai].

MEMPERSIAPKAN KEMATIAN SEJAK JAUH-JAUH HARI

Secara garis besar ada tiga jenis manusia di depan kematian :

1. Manusia yang semasa hidup banyak karma buruk-nya [ke-aku-annya besar dan berat].-
Kalau kita banyak melakukan banyak karma buruk dalam hidup, realisasi shanti [damai] kita saat menjelang kematian sangat mungkin akan sangat berat. 


Karena ketika kita mati, semua rekaman atau memory dari seluruh kehidupan kita [yang tersimpan di karana sarira] muncul dan jebol semua, karena tidak ada lagi badan fisik yang menjadi penghalang [membuat kita lupa]. Akibatnya kita akan dikejar-kejar oleh bayangan karma buruk kita sendiri. Inilah yang akan banyak menghambat perjalanan-perjalanan kita berikutnya di alam kematian.

2. Manusia yang semasa hidup banyak karma baik-nya [penuh welas asih dan kebaikan].-
Kalau kita banyak melakukan banyak karma baik dalam hidup, akan sangat membantu realisasi shanti [damai] kita saat menjelang kematian. Karena ketika kita mati, semua rekaman atau memory dari seluruh kehidupan kita [yang tersimpan di karana sarira] muncul dan jebol semua, karena tidak ada lagi badan fisik yang menjadi penghalang [membuat kita lupa].


Welas asih dan kebaikan itu sangat membebaskan bathin. Begitu pula akan banyak membantu perjalanan-perjalanan kita berikutnya di alam kematian.

3. Manusia yang "sadar" [seorang jivan-mukta].-
Ini terlepas dari seberapa banyak karma baik-buruk kita sendiri dalam hidup. Seandainya di saat akhir menjelang kehidupan, kita adalah seorang jivan-mukta, orang yang sudah sadar dan sudah terbebaskan, bathinnya damai sempurna, kita akan terbebaskan dari roda samsara.

Itulah sebabnya bagi para yogi dan bhakta, salah satu tugas pokoknya adalah melenyapkan sad ripu [enam kegelapan bathin] dan menumbuhkan sifat penuh welas asih dan kebaikan.  Apa gunanya ? Gunanya agar ketika kematian itu benar-benar datang, kita sudah siap dan bisa mengalaminya dalam keadaan yang sangat shanti [damai].

Sehingga semakin kita menua, semakin dekat dengan kematian, seyogyanya seluruh sad ripu [enam kegelapan bathin] semakin berkurang. Celakanya banyak diantara kita semakin tua semakin banyak minum pil kuat [nafsu seks tetap besar]. Semakin tua semakin besar keterikatannya kepada deposito, rumah mewah dan mobil mewah. Semakin tua semakin besar marah-marahnya. Dan itu adalah satu bentuk hidup yang celaka.

Pentingnya meniadakan Sad Ripu dalam perjalanan kehidupan

Salah satu faktor yang musti kita upayakan dengan tekun agar bukan saja hidup kita menjadi damai, terang dan indah, tapi juga sekaligus agar kita bisa mati secara damai, terang dan indah, adalah meniadakan sad ripu [enam kegelapan bathin] dari dalam diri.

Misalnya : menuruti iri hati dan dengki [matsarya]. Ini tidak ada faedahnya sama sekali, selain hanya menyeret bathin kita ke dalam kegelapan yang pekat. Tidak terbayang bagaimana gelapnya kematian yang disambut dengan kerak-kerak iri hati yang pekat di dalam bathin kita sendiri. Dapat dipastikan setelah mati tempat kita adalah pada lapisan alam semesta dunia bawah [bhur loka]. Menjadi bhuta kala, ashura, preta, setan, dll. Sehingga kalau ingin kematian yang terang dan indah, kita sama sekali tidak punya pilihan lain selain meniadakan rasa iri hati dalam bathin kita.

Contoh lain : menuruti kemarahan [kroda]. Ini memang bisa membuat kita merasa puas atau plong. TAPI HANYA SEMENTARA. Karena tanpa kita sepenuhnya sadari, segenap perhatian dan konsentrasi bathin kita telah larut pada kebencian. Tanpa kita sadari, kerak-kerak kemarahan dan kebencian menjadi semakin pekat dan permanen di dalam bathin kita. Kematian yang disambut dengan kerak-kerak kemarahan dan kebencian yang pekat di dalam bathin kita sendiri, hampir dapat dipastikan setelah mati tempat kita adalah pada lapisan alam semesta dunia bawah [bhur loka]. Menjadi bhuta kala, ashura, preta, setan, dll. Sehingga kalau ingin kematian yang terang dan indah, kita tidak punya pilihan lain selain melatih dan menumbuhkan KESABARAN, karena hanya dengan cara demikian kerak-kerak kemarahan dan kebencian di dalam bathin kita sendiri perlahan-lahan bisa lenyap.

Contoh lainnya : Menuruti keserakahan [lobha] dan hawa nafsu / keinginan [kama]. Ini memang bisa membuat kita merasa puas. TAPI SIFATNYA SANGAT GOYAH, HANYA SEMENTARA. Karena tanpa kita sadari, segenap perhatian dan konsentrasi bathin kita telah larut pada keterikatan. Kerak-kerak keterikatan menjadi semakin pekat dan permanen di dalam bathin kita. Kematian yang disambut dengan keterikatan yang pekat di dalam bathin kita sendiri, akan menyiksa bathin kita di alam kematian. Dan dapat dipastikan kelak kita akan balik lagi [lahir kembali] ke dunia ini. Sehingga kalau ingin kematian yang terang dan indah, kita tidak punya pilihan lain selain belajar MELEPAS dan KERELAAN, serta menumbuhkan WELAS ASIH dan KEBAIKAN dalam bathin kita, karena hanya dengan cara demikian kerak-kerak keterikatan di dalam bathin kita sendiri perlahan-lahan bisa lenyap. Jangankan deposito, mobil mewah, rumah megah, dll, bahkan tubuh kita ini-pun musti kita relakan dengan senyuman damai.

Demikian juga dengan bathin yang tunduk kepada mada [mabuk, sombong, angkuh] dan moha [bingung, mumet, putus asa].

MENYAMBUT MOMENT MENJELANG KEMATIAN SECARA TERANG DAN BENAR

Bayangkan kita terbaring lemah di tempat tidur dan sebentar lagi kita akan mati. Apa yang harus kita lakukan ? Kuncinya dua, yaitu : Upeksha [keseimbangan bathin yang sempurna] dan Vaigraya [bebas dari keterikatan pada apapun dalam kehidupan].

Apapun yang terjadi di moment ini, rasa apapun yang muncul pada badan dan pikiran kita, sambut dengan penuh kasih sayang. Mengalir dan menjadi jadi satu dengan pengalaman ini dalam senyum damai. Dengan demikian kita membiarkan kesadaran bathin kita tetap seimbang dan damai menuju ke tahap berikutnya. Kalau dalam moment ini kita mengadakan "perlawanan", kematian akan menjadi proses yang sangat menyakitkan, mungkin rasanya seperti kita gila. Badan fisik, pikiran dan perasaan kita berkecamuk liar.

Dan pada moment ini, apapun yang terjadi semasa hidup kita, penting bagi kita untuk melepaskan semua keterikatan-keterikatan kita dalam kehidupan. Ketidakrelaan untuk berpisah dan mati [keterikatan-keterikatan] dan perlawanan akan membuat kematian menjadi peristiwa buruk, mengerikan dan menyakitkan. 

Kalau semasa hidup kita tidak terlatih dengan kedua hal ini, kita bisa mengalihkan pikiran kita dengan fokus terhadap hal tertentu yang terang, misalnya berjapa-mantram dalam hati atau meditasi. Dan semuanya jangan dilakukan dengan tegang, apalagi melawan. Tapi lakukan dengan penuh kedamaian dan kepasrahan.

Yang celaka adalah kalau di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan kita akan berakhir, yang kita pikirkan adalah selingkuh. Yang kita pikirkan adalah deposito, sertifikat tanah, rumah megah dan mobil mewah. Yang kita pikirkan adalah rasa marah kita pada si A dan si B. Dll. Kalau ini yang terjadi, mati kita mau pergi kemana ? Hiduplah secara terang dan matilah juga secara terang.

PROSES KEMATIAN

Pada saat-saat menjelang kematian, pranamaya kosha [lapisan badan prana atau kekuatan hidup], bergerak mengalir dari ujung-ujung tangan dan ujung-ujung kaki dan berkumpul di jantung. Lalu dari jantung prana bergerak menuju ubun-ubun. Tepat saat prana mencapai ubun-ubun, kita berpindah [meninggalkan] sthula sarira [badan fisik] ke linga sarira [badan sangat halus]. Linga sarira kita ini melayang di atas sthula sarira [badan fisik] kita.

Tapi pada saat itu, antara sthula sarira dan linga sarira masih terhubung melalui tali sutratman [tali energi berwarna keperakan] dari kepala sthula sarira ke kepala linga sarira. Selama tali sutratman ini tidak putus, maka selama itu pula orang yang walaupun nafasnya sudah tidak ada, jantungnya sudah berhenti berdetak, atau secara medis dinyatakan sudah mati, dia dapat hidup kembali. Pada detik terputusnya tali sutratman inilah kita mati dan tidak mungkin lagi untuk hidup kembali. Bersamaan dengan putusnya tali sutratman tadi, prana di ubun-ubun juga buyar, kembali kepada samudera besar energi prana [kehidupan] yang universal.

Kadang ada "keajaiban" dimana orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Kata "keajaiban" digunakan mungkin karena ketidakpahaman tentang hukum yang bekerja di balik layar. Sebenarnya selama tali sutratman ini tidak putus, selama itu pula sesorang dapat kembali ke badan fisik [hidup lagi]. Mungkin orang itu akan bercerita tentang pengalaman melihat CAHAYA TERANG [Jyoti], bertemu kerabat atau kenalan yang sudah lebih dahulu mati, dll.

BEBERAPA SAAT SETELAH KEMATIAN

Beberapa saat setelah kematian ada beberapa fase kosmik yang kita lalui, yang terpenting adalah ketika muncul “CAHAYA TERANG" [Jyoti], yang merupakan gerbang menuju moksha [pembebasan] atau minimal menuju alam-alam luhur. Akan tetapi durasi kemunculan cahaya ini sangat bervariasi bagi setiap orang. Tergantung kepada vasana [kecenderungan pikiran kita] kita sendiri di moment-moment menjelang kematian.

Bagi yang semasa hidup banyak karma buruk-nya [ke-aku-annya besar dan berat], apalagi berisi iri hati, marah-marah, benci, pikirannya sangat dual [salah-benar, suci-kotor], penuh keterikatan kepada benda-benda duniawi, dll. Sehingga di moment kematian pikirannya cenderung buruk, cahaya terang ini muncul hanya mulai dari SETENGAH DETIK s/d 30 menit saja. Bagi yang semasa hidup banyak karma baik-nya [ke-aku-annya kecil], misalnya sering melakukan : kebaikan tulus, kesabaran tulus, keikhlasan tulus, dll. Sehingga di moment kematian pikirannya cenderung tenang, cahaya terang ini bisa muncul selama sekitar 30 menit s/d beberapa jam. Tergantung diri kita sendiri. Bagi seorang jivan-mukta, seorang yang semasa hidup ke-aku-annya sudah lenyap, SANGAT MEMUNGKINKAN DIA AKAN SEGERA MENGALAMI PEMBEBASAN [Moksha].

Kalau kita gagal memahami dan menyatu dengan cahaya terang tadi pada fase ini, kita akan mengalami beberapa fase sebelum kemudian kembali pada linga sarira [tubuh halus] kita.

EMPAT JALUR KEMATIAN

Bila kita melihat cara-cara mati sesuai putaran karma kita masing-masing, mungkin akan terlihat berbeda-beda. Ada yang mati sakit, ada yang mati dalam tidur, ada yang mati ditabrak mobil, ada yang mati dibunuh orang, dll. Semuanya terlihat berbeda, akan tetapi sesungguhnya kita akan pergi kemana setelah mati, intisari-nya sama saja yaitu : kecenderungan bathin kita sendiri [vasana].

Secara garis besar ada empat jalur kematian :

1. Orang mati yang belum sadar kalau dirinya sudah mati.

Hal yang sering terjadi [tapi tidak semua] adalah : KITA BELUM MENYADARI KALAU KITA SUDAH MATI. Khususnya kalau kita mengalami kematian secara sangat tiba-tiba dan tidak punya waktu untuk bersiap-siap menyongsong kematian, seperti misalnya : tertabrak mobil, terkena ledakan bom, mati di meja operasi, dll, atau mungkin juga kalau kita memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia ini.

Melanjutkan fase yang dijelaskan sebelumnya diatas, kita umumnya akan dibuat bingung karena tidak seorangpun menghiraukan kita [karena kita tidak lagi memiliki sthula sarira -badan fisik-, sehingga kita tidak terlihat]. Kita mencoba bicara dengan orang-orang, tapi tidak ada yang merespon. Kita tidak bisa membuka pintu untuk ke ruangan lain, tetapi dimana yang kita pikirkan seketika disana kita berada. Moment ini bagi yang tidak mengerti bahwa dirinya sudah mati akan membingungkan. Tapi karena dia belum sadar bahwa dirinya sudah mati, dia tetap akan beraktifitas seperti biasa, walaupun dengan keadaan ”aneh” tersebut.

Akan tetapi kemudian akan ada saatnya kemudian kita sadar dan mengerti bahwa kita sudah mati. Caranya macam-macam [bisa apa saja], mungkin ada seorang wikan yang melihat kita dan berbaik hati memberitahu kita, mungkin keluarga kita kebetulan menggunakan jasa balian sehingga bisa memberitahu kita, mungkin kita tahu sendiri, dll. Tapi setelah itu kemudian kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kembali ke badan fisik [hidup lagi] sudah tentu tidak mungkin.

2. Orang mati yang sadar kalau dirinya sudah mati, tapi belum beranjak dari alam materi ini.

Ini keadaan dimana kita sudah tahu kalau kita sudah mati, tapi kita masih bergentayangan di bvah loka dengan linga sarira [badan halus] kita, atau menjadi ”hantu” [tanda kutip]. Kita tentu berada dalam keadaan kebingungan [tidak tau apa yang harus dilakukan]. Mungkin saja kita kemudian merasa shock dan ketakutan. Padahal rasa takut adalah salah satu hal yang harus sangat dihindari dalam kematian.

Disini kita perlu tahu bahwa fase setelah fase ini adalah fase sushupti [tidur lelap tanpa mimpi]. Kemudian setelah fase sushupti ini, nantinya kita akan pindah menuju lapisan badan suksma sarira, lalu terbangun dari fase sushupti dan melakukan “perjalanan” singkat di berbagai lapisan-lapisan alam, untuk kemudian tiba dan tinggal di salah satu lapisan alam yang paling sesuai dengan vasana [kecenderungan bathin kita sendiri] dan karma kita sendiri.

Secara umum fase sushupti ini berlangsung selama sampai sthula sarira [badan fisik] kita sudah terurai kembali menjadi unsur-unsur alam [panca maha butha] secara sempurna. Itulah sebabnya mengapa di dalam tradisi Hindu dan agama dharma lainnya dilakukan kremasi [pembakaran mayat], dimana hal ini sangat membantu bagi yang meninggal. Sebabnya hukum alam yang berlaku adalah : penyebab terurainya [memudar] linga sarira sangat dipengaruhi oleh terurainya sthula sarira [keduanya berkaitan]. Bila sthula sarira sudah terurai, secara otomatis linga sarira juga terurai, sehingga kita bisa secepatnya memasuki fase sushupti [tidur lelap tanpa mimpi], tanpa perlu lama-lama bergentayangan menjadi hantu.

Akan tetapi ada kejadian-kejadian dimana proses melepaskan lapisan badan linga sarira terganggu, sehingga kita menetap dalam lapisan badan linga sarira dalam waktu yang sangat lama. Dalam artian kita tetap hidup dalam lingkungan dunia fisik tapi dengan lapisan badan linga sarira [baca : menjadi hantu gentayangan]. Secara umum hal ini terjadi kepada orang yang memiliki keterikatan yang sangat kuat terhadap kehidupan duniawi. Ia tidak mampu merelakan berpisah dengan kehidupan duniawi. Sehingga walaupun sudah mati, dia masih berharap dan punya keinginan kuat untuk bisa hidup bergelimang dengan benda-benda fisik, orang yang disayangi atau bentuk-bentuk keduniawian lainnya. Tapi karena ia kini hidup dengan linga sarira [badan halus], maka dunia fisik ini, benda-bendanya dan penghuninya semakin lama akan menjadi semakin kabur dan samar-samar. Hal ini sebenarnya cenderung kepada halayan dan keinginan pikiran belaka. Tapi hal ini tidak berlangsung selamanya. Ketika sthula sarira [badan fisik] sudah kembali terurai menjadi unsur-unsur alam [panca maha butha] secara sempurna, maka fase sushupti ini bisa dimasuki dengan sendirinya. Akan tetapi proses seperti ini kalau bisa sangat tidak disarankan.

Nah, di fase yang “mengambang” ini [menjadi “hantu”], yang wajar adalah dalam diri kita muncul usaha untuk bisa melanjutkan perjalan ke alam berikutnya. Yang baik dan bisa kita lakukan di fase ini adalah melantunkan mantram-mantram suci dalam bathin kita, misalnya Gayatri Maha Mantram, Maha Mrityunjaya Mantra, dll. Dengan pikiran fokus kepada Brahman, dewa-dewi yang sering kita puja atau para satguru suci. Atau melakukan meditasi, menjadi pengamat penuh kasih sayang kepada riak-riak pikiran kita sendiri. Apapun yang muncul dalam pikiran kita, amati dengan penuh kasih sayang. Begitu yang datang pikiran dan hal yang menyenangkan, amati dengan penuh kasih sayang. Begitu yang datang pikiran dan hal yang menjengkelkan juga amati dengan penuh kasih sayang dengan jarak yang sama. Melihatlah dan jangan terlibat.

Serta menyerahlah secara total dan ikhlas untuk meninggalkan dunia fisik, sehingga keterikatan kita terhadap kehidupan dunia fisik mulai melemah. Larut dalam keadaan bathin yang damai, sehingga kita bisa memasuki fase sushupti ini. Orang biasa yang biasa melihat dunia secara biasa, akan tetap melihat semuanya seperti biasa. Akan tetapi orang yang semasa hidup sudah terlatih di jalan-jalan yoga atau jalan bhakti, dan terutama sekali pikirannya memang bersih, akan mulai bisa melihat semuanya semakin indah dan murni, sebelum kemudian kita memasuki tahap sushupti [tidur lelap tanpa mimpi] secara damai.

Note : Sangat disarankan kalau kita ada kerabat yang meninggal untuk tidak menangisinya, apalagi diisi dengan ribut berebut warisan. Sebab hal-hal seperti ini akan menimbulkan getaran emosi yang mengganggu perjalanan kerabat kita yang meninggal tersebut [mengikat dia kepada dunia ini secara emosional]. Yang baik adalah mengantar kepergiannya dengan sejuk, damai dan ikhlas. Lebih baik lagi kalau ditambah kita mengantar-nya dengan mantram-mantram kedamaian atau kidung-kidung surgawi. Sehingga kerabat kita yang meninggal itu bisa mengarahkan pandangan dan melanjutkan perjalanan ke alam-alam berikutnya dalam damai.

3. Orang mati yang disambut atau diangkat oleh kekuatan-kekuatan lain.

Ada kemungkinan lain, yaitu pada saat-saat kematian kita dapat langsung terangkat ke alam-alam luhur. Sebab pertama karena ada keluarga, kerabat atau sahabat yang sudah terlebih dahulu memasuki lapisan alam-alam atas datang menolong. Sebabnya satu : karena hidup kita penuh welas asih dan kebaikan. Misalnya : semasa kita hidup kita sangat taat dan bhakti kepada satguru [guru yang asli] dan karena itu satguru akan hadir untuk membimbing kita menuju lapisan alam-alam berikutnya. Atau orang [keluarga, teman, dll] yang semasa kita hidup kita sayangi dengan sepenuh hati. Atau mungkin juga bila tidak ada keluarga, kerabat atau sahabat yang datang, maka kita akan disambut oleh seorang "penolong gaib" yang memiliki aspirasi untuk menyambut “pendatang baru”. Mereka ini datang untuk menunjukkan jalan menuju "CAHAYA TERANG" [Jyoti] atau mungkin juga menyambut dan menjelaskan perubahan yang terjadi dan membantu pendatang baru menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Kuncinya disini adalah hidup yang penuh welas asih dan kebaikan tanpa syarat dan tanpa mengharapkan imbalan kepada semua mahluk, sehingga walaupun bathin kita belum bersih sempurna, ketika kita mati ada yang menolong.

Yang lebih terang adalah sebab kedua, karena semasa hidup bathin kita cukup bersih, penuh welas asih dan kebaikan. Dan di moment-moment menjelang kematian bathin kita shanti [damai]. Ketika mati kita akan disambut oleh para kesadaran kosmik dari alam-alam luhur.

4. Orang mati yang mengalami moksha [pembebasan sempurna].

Ini seorang Jivan-Mukta yang bathinnya sudah kembali sempurna, yaitu : nirahamkarah [lenyapnya ke-aku-an]. Dalam istilah lain disebut sebagai paramashanti [kedamaian sempurna]. Bagaimanapun cara seorang Jivan-Mukta mati, setelah mati dia akan langsung mengalami moksha, lebur menyatu dengan maha kesadaran universal, yang tidak terpikirkan.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Purwani Purnama Kapat
22 September 2010