Minggu, 08 Mei 2011

Sad Ripu 5 : LOBHA [ketidakpuasan / serakah]

Orang yang serakah hidupnya resah, gelisah, sering mengeluh dan marah-marah. Ujung-ujungnya sengsara dan jauh dari paramashanti. Kalau mau kehidupan dan kematian yang damai dan bahagia, hendaknya keserakahan ini kita tiadakan dari dalam bathin.


AKAR PENYEBAB LOBHA [SERAKAH]

1. Tunduk kepada hawa nafsu keinginan.

Kita menjadi serakah karena tunduk kepada hawa nafsu keinginan. Keinginan liar, tidak pernah puas. Ketika sudah bisa punya sepeda motor, ingin punya mobil. Ketika sudah bisa punya rumah kecil, ingin punya rumah mewah. Yang sudah menikah, ingin punya istri atau suami yang ideal. Ketika bisa punya uang satu juta, ingin punya uang lima juta. Keinginan kita selalu tidak terpenuhi. Kita seperti berkejaran dengan bayangan sendiri. Kalau bayangan kita kejar, tentu kita tidak akan pernah ketemu.

2. Bathin yang diguncang oleh dualitas.

Kita mau hidup senang dan tidak mau hidup susah, mau yang menyenangkan dan tidak mau yang tidak menyenangkan, mau dihormati orang dan tidak mau tidak dianggap. Padahal tidak ada hidup yang seperti itu. Dalam kehidupan ini semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji dan direndahkan, melewati sakit dan sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda.

3. Suka membuat perbandingan-perbandingan berbahaya.

Kita tidak puas karena suka membandingkan, misalnya membandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup orang lain atau mantan kita dulu. Kita membandingkan tempat kerja kita dengan tempat kerja yang lain. Kita membandingkan uang yang kita punya dengan uang orang lain. Atau kita membandingkan dengan masa lalu, dulu dia banyak uang, lebih cantik atau tampan, lebih sehat, tapi sekarang uangnya sedikit, fisiknya tidak sebagus dulu lagi [gemuk, keriput], sering sakit. Kalau bisa kita ingin menukarnya.

BAGAIMANA MENGELOLA KESERAKAHAN YANG MUNCUL DALAM BATHIN

1. Hati-hati terhadap segala hal yang bisa membuat keserakahan kita muncul.

Kalau bathin kita masih labil dan sangat goyah, kemudian didukung oleh lingkungan yang menggoda, itu hal yang berbahaya. Kalau bathin kita masih sangat goyah kita harus menghindari godaan. Kalau tidak perlu, hindari datang ke mall, ke pameran, membaca majalah shopping, dll. Karena bahayanya hal seperti itu, kita tidak mendesak perlu barang-pun kita bisa jadi beli, beli dan beli. Hindari pergaulan yang bisa mendorong kita untuk korupsi, selingkuh, berfoya-foya, dll.

Tapi seandainya kita tidak punya pilihan, jalan berikutnya adalah melatih dan membiasakan diri. Lingkungan hidup kita boleh penuh dengan godaan korupsi dan ketidakjujuran, godaan selingkuh, godaan jurang kaya-miskin yang jomplang, godaan biaya hidup mahal, godaan pola hidup konsumtif, dll. Jangan tergoda, tapi gunakan sebagai kesempatan untuk melatih dan membiasakan diri mengasah kepolosan, mengasah kejujuran, mengasah kebaikan, dll. Kalau demikian caranya, godaan-godaan itu bukannya membuat bathin kita terbakar, tapi membuat kita bisa mereguk sejuk dan damainya tirta [air suci] kesadaran.

2. Bersyukur.

Belajar melihat sisi indah dari setiap kejadian dengan penuh rasa syukur, karena selalu ada keindahan dalam setiap kejadian. Gaji naik bersyukur, gaji turun juga bersyukur, karena kita sedang diajarkan oleh kehidupan untuk hemat dan mengendalikan nafsu keinginan. Kantor nyaman bersyukur, kantor tidak nyaman juga bersyukur, karena kita sedang diajarkan oleh kehidupan untuk sabar. Istri cantik bersyukur, istri tambah jelek juga bersyukur, karena kita sedang diajarkan oleh kehidupan untuk mengendalikan nafsu seks. Ciri orang yang hidupnya terang, seluruh arah penuh dengan rasa syukur.

Kenapa manusia sengsara ? Salah satu sebabnya karena mau hidup senang dan tidak mau hidup susah, mau yang menyenangkan dan tidak mau yang tidak menyenangkan. Padahal tidak ada hidup yang seperti itu. Dalam kehidupan ini semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji dan direndahkan, melewati sakit dan sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda.

Kalau kita tidak mau hidup yang sengsara dan berevolusi menuju penerangan bathin, peluk dualitas dengan tingkat kemesraan yang sama. Kebanyakan orang tidak bisa menemukan penerangan bathinnya karena dia "menendang" kehidupannya. Mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Tidak puas, tidak puas dan tidak puas. Kita akan mulai berevolusi menuju penerangan bathin, kalau dimanapun kita berada, apapun yang kita lakukan, apapun yang terjadi, coba lihat semuanya dengan sudut pandang yang penuh dengan rasa syukur.  Ketika kita penuh rasa syukur [shantosa], mau rumahnya mewah atau sederhana, mau mobilnya mahal atau jalan kaki, mau pasangan hidup kita cantik, tampan atau jelek, rumah kita langsung menjadi rumah penuh kedamaian dan kebahagiaan.

3. Melatih dan membiasakan diri dengan kebaikan [memberi dan kerelaan].

Sikap kita untuk mengurangi keserakahan bisa dimulai dengan melatih diri untuk melepas sebagian dari milik kita [memberi]. Ketika kita memiliki sesuatu, kita selayaknya ingat dengan pihak lain yang tidak memiliki. Kita takut memberi semata karena ke-aku-an [ahamkara] kita sendiri, kita tidak mau melepas kenyamanan yang telah kita miliki.

Sikap kita untuk mengurangi keserakahan bisa dimulai dengan kerelaan untuk memberikan ke-aku-an kita [aku, milikku] untuk kebahagiaan orang lain.

Kedua hal ini yang sesungguhnya menjadi dasar dari evolusi bathin kita dalam meruntuhkan keserakahan di dalam bathin. Memberi dan kerelaan [kebaikan] dapat bersifat materi atau bukan materi. Yang berupa materi biasanya berupa pemberian uang, barang, obat-obatan, makanan, dll. Sedangkan yang berupa bukan materi bisa berwujud apa saja, misalnya sebuah senyuman, senyuman itu sebuah pemberian. Sikap penuh pengertian akan apa yang diinginkan orang lain, kerelaan demi membuat orang lain senang, memberikan perhatian, dll.

Selamat datang di jalan dharma yang sesungguhnya.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
26 November 2010

Sad Ripu 6 : MOHA [bingung / putus asa / resah / takut]


Rasa bingung, putus asa, resah atau takut merupakan reaksi bathin terhadap apa yang disebut oleh pikiran sebagai bahaya hidup ataupun juga ketidakpastian. Sebuah perkawinan yang membosankan, gangguan kesehatan yang kronis, pengangguran yang berkepanjangan, masalah keuangan, dll. Ketika tampaknya keadaan buruk yang kita alami, tidak akan pernah membaik. Akan tetapi kita harus sadar bahwa hidup ini memang demikian adanya. Dalam kehidupan semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji dan direndahkan, melewati sakit dan sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan.

Dalam ajaran dharma, munculnya perasaan gelisah, bingung, bosan, putus asa, resah atau takut, itu tanda-tanda di dalam bathin kita masih ada banyak noda. Noda manapun kita tidak punya pilihan lain selain dibersihkan. Dalam bahasa kosmik, munculnya moha membawa pesan yang jelas bahwa kita telah jauh dari realitas diri yang sejati. Karena jika semua tindakan kita lakukan dengan bathin yang cukup bersih saja, maka benih-benih moha lenyap dengan sendirinya.

BAGAIMANA MENGATASI MOHA

1. Welas asih dan kebaikan.

Pada umumnya, dasar pertama penyebab moha adalah karena sikap mementingkan diri sendiri, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kita sangat kurang memiliki sifat kerelaan diri, untuk kebahagiaan mahluk lain. Sehingga mengembangkan sifat penuh welas asih dan kebaikan [tanpa syarat] adalah sarana terbaik untuk melenyapkan moha.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan, sifat welas asih kita tidak boleh berkurang sedikitpun. Sayangi, sayangi dan sayangi siapa saja dan apa saja. Menyayangi orang yang baik sama kita, itu manusia biasa – tapi bisa menyayangi orang yang jahat dan menyakiti kita, itu tanda-tanda bathin yang mulai berevolusi menuju pembebasan. Penting sekali memupuk rasa kasih sayang dalam hidup, karena dengan demikian bathin kita selalu lebih rela, terbuka dan lebih jernih.

2. Berpikir positif.

Pada umumnya, dasar kedua penyebab moha adalah karena sikap suka membandingkan dan menilai segala sesuatu dengan untung-rugi. Sehingga apapun yang kita lakukan dan apapun yang terjadi dalam hidup, jangan lupa untuk berpikir positif. Terutama karena semua pemikiran dan perasaan kita berawal dari pikiran. Misalnya :

- Ketika bertemu orang yang jahat sama kita, jangan lihat perbuatannya, tapi lihat dia sebagai orang baik yang sedang mengajarkan dan membuat kita menjadi sabar dan bijaksana.
- Ketika bertemu orang yang jahat sama kita, jangan merasa dirugikan, tapi lihat dia sebagai orang baik yang sedang memberi kita kesempatan membayar hutang karma.
- Ketika kita sedang mengalami kesulitan keuangan, jangan lihat sengsara-nya, tapi lihat hal itu sebagai kesempatan untuk belajar banyak menahan diri dan mengendalikan diri, belajar rendah hati, menumbuhkan simpati kepada mereka yang serba kekurangan dan belajar memahami makna kehidupan. Karena beban hidup yang sangat berat bisa membimbing kita menuju pemahaman hidup yang terang, asalkan kita sabar, nrimo dan tetap damai.
 - Ketika kita sedang mengalami kegagalan, jangan lihat sebagai ketidakmampuan, tapi lihat bahwa hidup sedang memberi kita pembelajaran agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.
- Dll.

Ketika kita terbiasa berpikir positif pada setiap kejadian, hidup kita akan banyak diselamatkan dari kejadian-kejadian yang lebih buruk. Sekaligus bathin kita akan menjadi bersih dengan sendirinya.

3. Belajar menerima hidup sebagaimana adanya dengan hati damai dan tenang.

Hidup ini adalah karma yang berputar. Dalam putaran hukum karma, tidak ada suatu akibat yang akan timbul tanpa adanya sebab yang nyata. Kita mendapatkan yang baik karena karma masa lalu dan karma saat ini kita juga baik.

Dalam putaran karma, hidup ini adalah perubahan. Tapi terkadang kita sulit untuk menerimanya, padahal perubahan tidak bisa dihindari. Lihatlah kehidupan, setiap pertemuan dengan seseorang pasti akan berakhir dengan perpisahan, ketika kita memiliki sesuatu cepat atau lambat kita akan berpisah dengannya, setiap jabatan atau profesi suatu saat juga harus berakhir [paling tidak karena pensiun], dll. Lihatlah manusia, semakin tua dia semakin lemah, jelek dan keriput. Kita harus mampu menerima dengan damai setiap perubahan dalam hidup, karena memang demikianlah kehidupan. Kita tidak bisa mengubahnya, yang bisa kita ubah adalah sikap bathin kita sendiri.

Sukses atau gagal, bahagia atau sedih, bukanlah suatu hal yang akan menghentikan roda kehidupan untuk berputar. Hadapi setiap permasalahan. Berhentilah menghujat diri ketika kita gagal atau melakukan kesalahan. Terima segala kekurangan diri kita dengan riang dan miliki terus kemauan untuk tetap belajar dan berusaha dengan hati yang damai dan tenang.

4. Laksanakan tugas-tugas kehidupan [svadharma] kita.

Kerja adalah salah satu sarana yang baik untuk memahami sang diri dan kehidupan. Sebab dengan bekerja kita “berkomunikasi” dengan diri kita sendiri secara intens. Melarikan diri dari masalah, penolakan akan tugas-tugas kehidupan kita saat ini akan menjauhkan bathin kita dari kebahagiaan dan kedamaian. Hanya melaksanakan kerjalah yang bisa membebaskan kita, bukan menolak untuk bekerja dan tenggelam dalam rasa frustasi.

Sederhanakan hidup kita. Jangan membuang waktu dan energi pada kegiatan remeh yang tidak penting bagi kita. Apalagi sampai terjerumus kepada pergaulan negatif dan perilaku negatif seperti mabuk-mabukan, dll. Karena hal itu bukannya membebaskan kita, malah menjerumuskan dan menambah banyak masalah. Jalani hidup dengan fokus menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi prioritas utama kita di saat ini. Kerjalah dan laksanakan tugas kita dengan dengan sebaik-baiknya, tapi apapun hasilnya terima dengan bathin damai.

5. Banyak-banyak meditasi, sembahyang atau melukat.

Aktifitas dharma seperti meditasi, sembahyang dan melukat, adalah sebuah kekuatan "penyembuhan bathin" bagi diri kita. Ini bisa menjadi aktifitas pendukung yang efektif bagi kita guna melenyapkan moha.

Selamat datang di jalan dharma yang sesungguhnya.

Rumah Dharma - Hindu Indonesia
Anggarkasih Medangsia
28 Desember 2010

Jumat, 06 Mei 2011

Eat, Pray, Love


KISAH LIZ GILBERT

Dalam memoar berjudul “Eat, Pray, Love”, dikisahkan Liz Gilbert merasa tidak bahagia dan hancur dalam pernikahannya lalu memutuskan bercerai. Ketika hidupnya berguncang, Liz tidak melakukan hal-hal yang tidak baik seperti marah, dendam, menuntut ini-itu kepada suami-nya, melarikan diri ke narkoba atau miras, bunuh diri [ini berbahaya sekali], dll. Sebaliknya malah Liz memutuskan untuk memasuki jalan-jalan dharma.

Ini adalah pilihan yang sangat tepat. Biasanya dalam keadaan hidup yang terguncang, banyak orang yang memilih untuk marah, protes atau melakukan perlawanan. Sayangnya hal ini mirip dengan tenggelam dalam lumpur rawa-rawa, semakin kita melawan semakin dalam kita tenggelam. Belajar dari hal ini, Liz bukannya marah, protes atau melakukan perlawanan, tapi mencoba untuk menemukan penerangan dari balik kegelapan kesedihan.

Pergi ke Italia mencari kebahagiaan duniawi melalui makanan yang enak.
Italy : EAT

Pergi ke India mencari kebahagiaan surgawi melalui sadhana yang indah.
India : PRAY

Dan di Pulau Bali bertemu pesan kosmik yang indah, yaitu pencerahan dan kasih sayang.
Bali : LOVE

Dari Kota New York, Liz melakukan perjalanan antar-benua di dalam pencariannya, melalui persahabatan di Italia, Ashram di India dan pertemuan dengan Ketut Liyer di Pulau Bali.


SENYUMAN

Di dalam upaya untuk merealisasi keseimbangan bathin, Ketut Liyer mengajarkan Liz untuk melampaui dualitas :"Ingat meditasi sambil tersenyum. Apapun yang datang dan muncul dalam meditasi, tugas kita adalah tersenyum".

Mengapa senyuman sangat penting ? Karena ia tidak hanya berguna bagi yang melihatnya, ia malah lebih berguna bagi pemilik senyuman itu. Karena senyuman menjadi jembatan antara sang diri dengan mahluk lain dan kehidupan.

Coba rasakan beda antara kondisi bathin kita sedang stress, depresi, sedih atau marah dibandingkan dengan kondisi bathin ketika kita tersenyum. Sangat berbeda bukan ? Dalam kondisi bathin kita sedang stress, depresi, sedih atau marah semua ingatan akan dharma beserta keluhurannya lenyap, menghilang, terlupakan. Dalam senyuman yang tulus, ikhlas dan penuh rasa syukur, bathin cenderung damai, tenang-seimbang.

Apapun alasannya, senyuman selayaknya selalu bersemi. Ibarat mobil yang rusak mengkarat karena tidak pernah dipakai, senyuman juga demikian. Tanpa digunakan, ia akan merusak hubungan kita dengan orang lain, membuat pintu hati tertutup rapat dan membuat kehidupan menjadi penuh karat, berdebu dan kurang bermanfaat.

Banyak sekali manfaatnya kalau kita mendidik diri untuk selalu tersenyum dalam setiap keadaan. Awalnya memang penuh rasa terpaksa. Tapi begitu menjadi kebiasaan dalam hidup, bunganya akan mekar, bersemi dan bercahaya menerangi semua. Dengan cara demikian Liz belajar melampaui dualitas, sehingga ia mulai menemukan keseimbangan bathin-nya.

UPEKSHA

Akan tetapi di akhir kisah ia harus memilih, antara mendapatkan cinta tapi kehilangan keseimbangan bathin atau kehilangan cinta tapi tidak kehilangan keseimbangan bathinnya. Di tengah kegundahannya, Ketut Liyer memberi pesan yang indah sekali kepada Liz : “Sometimes losing balance for love, is part of learning balance in life”. [Kehilangan keseimbangan bathin demi kasih sayang, adalah bagian dari belajar melatih bathin tenang-seimbang yang lebih mendalam di dalam hidup ini].

Memiliki bathin yang tenang-seimbang [upeksha] itu perlu sebuah perjuangan. Hal ini tidak pernah datang secara gratis dari langit, semuanya harus kita upayakan. Dan seringkali bathin yang tenang-seimbang itu baru bisa mendalam setelah kita melewati berbagai macam penderitaan. Karena penderitaan bukanlah musuhnya keseimbangan bathin, tapi penderitaan sedang membuatnya menjadi lebih dewasa, lebih bermakna dan lebih mendalam. Dan hadiahnya adalah kasih sayang yang mekar bunga-nya dengan indah dalam bathin.

JALAN-JALAN DHARMA

Salah satu hal yang sangat dihindari dan dibenci manusia dari dulu hingga sekarang adalah kesedihan, musibah, jatuh sakit atau penderitaan. Hal tersebut di-identik-kan dengan hal-hal yang serba negatif seperti hukuman Tuhan atau godaan setan, layaknya sampah kehidupan.

Sesungguhnya kesedihan, musibah, jatuh sakit atau penderitaan adalah pesan-pesan dharma, karena hal itulah yang biasanya membimbing manusia memasuki jalan dharma yang terang dan dalam. Coba perhatikan, orang kaya yang bahagia karena kekayaannya, jarang yang nyambung dengan jalan dharma. Tapi begitu kena musibah atau cerai, baru mulai menapaki jalan dharma. Pejabat yang sedang bahagia karena berkuasa, jarang yang memasuki jalan dharma. Tapi nanti kalau sudah jatuh sakit, sakit dan sakit, baru ingat dengan jalan dharma. Dll-nya.

Hadiah kehidupan terbaik adalah kesedihan, musibah, jatuh sakit atau penderitaan. Pertama, membayar banyak hutang karma. Kedua, mencegah kita menjadi sombong dan serakah dalam kehidupan. Dan ketiga, tidak ada pertumbuhan bathin yang mendalam tanpa hal-hal tersebut. Hadapi dengan bathin damai dan penuh kasih sayang dan jangan melakukan perlawanan. Karena melakukan perlawanan [dengan sikap tidak peduli, tidak-rela, marah-marah atau benci] adalah, pertama karma buruk kita tidak berkurang malah bertambah, dan kedua karena sesungguhnya kita melarikan diri dari proses pertumbuhan bathin.

Kisah Liz Gilbert dalam ”Eat, Pray, Love” ini adalah kisah kita semua. Banyak manusia yang mencari kebahagiaan melalui obyek-obyek diluar dirinya, kemudian akhirnya kecewa dan terguncang. Tapi ketika kita menderita itulah kita "dipaksa" mencari kebahagiaan di dalam diri. Begitu kita berhasil menemukannya, tiba-tiba dalam bathin muncul cahaya kasih sayang yang menerangi semua.

NB : Terimakasih Ubud karena sudah menginspirasi Liz. Terimakasih Ubud karena sudah menginspirasi saya dalam tirtayatra Banyu Pinaruh kemarin. Rahayu, rahayu.

Rumah Dharma - Hindu Indonesia
Soma Ribek, 25 April 2011

Kamis, 05 Mei 2011

Raja Guhya, Raja Vidya, Raja Dharma

JALAN RAHASIA

Dalam ajaran Hindu terdapat ajaran-ajaran rahasia yang tidak sembarangan diungkap. Seperti misalnya Ashvini Rahasya, Tripura Rahasya, dll. Di Bali dikenal dengan istilah ”aja wera” [tidak boleh dibicarakan]. Tapi karena berbagai pertimbangan, Rumah Dharma memutuskan untuk menulis sebagian kecil dari ajaran rahasia tersebut. Dengan catatan bahwa tidak semua orang akan bisa tersambung dengan tulisan ini. Hanya bagi mereka yang bathinnya sudah ”siap” [bathin cukup bersih, tenang, welas asih, baik hati, dll].


Ada tiga faktor yang memunculkan adanya ajaran-ajaran rahasia. Semua ajaran rahasia mencakup salah satu atau lebih dari ketiga faktor ini :

1. Ajaran rahasia yang terkait pengalaman langsung [pratyaksa pramana]. Rahasia bukan karena dirahasiakan, melainkan karena terkait pengalaman bathin yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Setiap penjelasan tidak akan pernah bisa mewakili secara tepat, hanya bisa dialami sendiri secara langsung. Karena itu faktor ini tidak bisa dituliskan dan diceritakan.

2. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk menghindari kesalah-pahaman publik. Karena ajaran ini bertentangan dengan logika sebagian besar manusia [note : faktor ini yang akan dibahas dalam tulisan ini].

3. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk menghindari penyelewengan ajaran. Umumnya ini terkait ajaran tingkat tinggi. Seperti misalnya shakti yoga yang dapat membuat seseorang menjadi siddhi [sangat sakti], laku [praktek spiritual] yang terkait dengan ketelanjangan, dll. Tapi untuk selebihnya ini tidak akan dibahas lagi.

FAKTOR KEDUA

[Yang akan dibahas dalam catatan ini adalah faktor kedua dalam penjelasan diatas].

Syarat penting bagi seorang sadhaka untuk dapat diijinkan memasuki jalan rahasia ini adalah ketika cahaya bathin-nya sudah serupa dengan cahaya matahari dan bulan.

Matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa memilih. Tidak memilih orang harus agamanya apa atau tidak beragama sekalipun, tidak membedakan orang baik atau orang jahat, cantik atau jelek, bodoh atau cerdas, kaya atau miskin, dll. Semuanya diberikan cahaya terang secara sama, tanpa syarat. Artinya kapan saja kita bisa bersikap penuh welas asih dan penuh kebaikan, secara sama, tanpa syarat kepada semua. Kepada orang yang memuji ataupun menghina, kepada yang baik maupun jahat, kepada yang menolong maupun yang menyakiti, dll, disana kita dapat diijinkan memasuki jalan rahasia ini.

** Tugas pertama sadhaka di jalan rahasia adalah mengurangi penderitaan para mahluk. Dalam penjelasan sederhana : tidak membalas caci-maki dan hinaan orang lain, tidak marah pada orang yang memarahi kita, tidak menyakiti orang yang jahat, tidak melawan pada yang merendahkan kita, mengalah, dll. Artinya ketika ada yang menghujat, menyakiti, merugikan, dan yang jelek-jelek lainnya, kita tidak bereaksi apapun kecuali diam, tersenyum dan memancarkan welas asih dan kebaikan. Itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain. Dan bagi para sadhaka dia malah akan memberikan lebih, untuk membuat mereka berbahagia.

Sadhaka seperti ini, bagi yang tidak paham, sangat rawan dicurigai aneh, tidak wajar, lemah, belog polos [bodoh dan lugu], dll. Bagi yang paham akan mengerti bahwa inilah yajna [persembahan] tertinggi.

** Tugas kedua sadhaka di jalan rahasia adalah menjaga keseimbangan alam semesta ini [karena alam semesta ini harus seimbang]. Dibalik kecenderungan semua manusia yang mengejar bahagia dan bahagia, untung dan untung, menang dan menang, kaya dan kaya, disana harus ada yang menderita, sial, kalah dan rugi. Dan para sadhaka di jalan rahasia, dialah yang mengambil semua yang jelek-jelek itu [agar alam semesta ini seimbang]. Seluruh hidupnya dia jadikan persembahan [yajna] bagi mahluk lain dan alam semesta.

Misalnya [contoh] persembahan di jalan rahasia ini : ”Kalau kita dilempar dengan batu, berikanlah bunga”.

>>>>>>>>>
Dan jangankan uang, harta-benda, waktu, kekayaan, harga diri, gengsi, dll, tubuh dan nyawa kita-pun di jalan rahasia ini dijadikan yajna [persembahan].

Seperti kisah Raja Sibi dalam Maha Bharata. Raja Sibi adalah sadhaka di jalan rahasia. Raja Sibi memotong dan mengiris-iris dagingnya sendiri sebagai pengganti kepada burung elang, untuk menyelamatkan kapotha [burung merpati]. Tubuhnya sendiri dijadikan persembahan [yajna] demi kebahagiaan mahluk lain. Sadhana Raja Sibi ini di dalam teks-teks Shiva disebut “Raja Dharma” dan beliau disebut avatara Shiva sebagai Kapothesvara.
>>>>>>>>>


MENGAPA RAHASIA ?

Karena para sadhaka di jalan rahasia ini pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang kebanyakan yang duniawi. Dalam logika orang biasa [orang duniawi], hidup adalah mengejar bahagia dan tidak mau menderita, berupaya mendapat surga dan tidak mau neraka, mendapat label benar dan tidak mau mendapat label salah, mengejar untung dan tidak mau rugi, mengejar menang dan tidak mau kalah, mengejar kaya dan tidak mau miskin, dll. Sedangkan di jalan rahasia ini pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik, seperti : kebahagiaan mahluk lain penting, saya tidak penting.

Sehingga mengajarkan jalan rahasia ini kepada umum, untuk kebanyakan orang sangat rawan bisa dicurigai bodoh, aneh, menyimpang dan tidak waras, bisa memicu penolakan dan perselisihan, atau bahkan bisa dihujat, dibenci, dihajar ramai-ramai dan salah-salah bisa dibunuh. Seperti misal-nya Mahatma Gandhi yang mati ditembak. Mengapa ? Karena beliau bertemu orang-orang yang pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan jalan rahasia.

Itulah sebabnya jalan ini cenderung hanya diajarkan kepada murid-murid yang memang yang sudah siap memasuki gerbang dharma yang tertinggi [Raja Dharma].

Contoh lainnya [misalnya] :

- Bila sebagian besar manusia mencintai keramaian dan perayaan, sadhaka yang mulai memasuki wilayah rahasia ini dia memilih keheningan hutan, tempat yang sepi dan alami. Ada juga yang berkelana. Langit laksana atap rumah, bumi laksana lantai.
- Bila sebagian besar manusia mencintai kekayaan, kemewahan dan kehormatan, sadhaka yang mulai memasuki wilayah rahasia ini dia memilih kesederhanaan. Bahkan ada diantara sadhaka di jalan ini tidak memiliki apapun, semua miliknya dijadikan yajna [persembahan] kepada orang lain yang memerlukan.
- Terbalik dengan orang biasa, sementara milyaran manusia berdoa agar dirinya yang mendapatkan kebahagiaan, para sadhaka ini berdoa agar dirinya-lah yang menampung penderitaan para mahluk. Karena alam semesta ini harus seimbang, diantara milyaran manusia yang ingin bahagia, harus ada yang mengambil penderitaan. Tidak ada siang tanpa malam, tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Sehingga mantra [doa] rahasia para sadhaka di jalan ini : "Semoga semua penderitaan datang kepada saya, semoga semua kebahagiaan datang kepada mahluk lain".
- Dll.

Lihatlah sebagian kecil contoh diatas, bahwa pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang kebanyakan. Sehingga dimata orang kebanyakan, hal ini biasanya sangat rawan dicurigai ajaran bodoh, aneh, menyimpang atau tidak waras.

Untuk menghindari kontroversi dan konflik, ajaran ini hanya dilaksanakan bagi para mereka yang sudah siap saja dan tidak diajarkan kepada umum [rahasia]. Tapi ketika ada orang biasa yang bertanya, akan disampaikan dalam bentuk prosa, bahasa-bahasa puitis dan simbolik. Dimana pedomannya sederhana, ketika cahaya bathin kita sudah serupa dengan cahaya matahari dan bulan, disana baru kita bisa memasuki jalan rahasia ini [matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa memilih].

POHON YOGA

Setelah melewati sadhana [disiplin spiritual] yang panjang, puncak perjalanan seorang sadhaka tercapai ketika bathin mulai hening, sunyi, sepi. Tidak ada ke-aku-an, kemarahan, ketakutan, kebingungan, keinginan, keserakahan, dll, yang tersisa. Kemudian memasuki jalan rahasia. Ini sering disimbolikkan sebagai pohon yoga. Dalam keheningannya, pohon bekerja dua puluh empat jam sehari. Dan semua bunga, buah dan oksigen yang dihasilkannya diperuntukkan bagi mahluk lain.


Para sadhaka di jalan rahasia mewakili unsur akasha [ruang] dari alam semesta. Karena ada ruang maka cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon bermekaran, sungai mengalir, manusia bisa tumbuh menjadi lebih dewasa, dll. Ruang merangkul dan menyediakan tempat bagi apa saja dan siapa saja tanpa membeda-bedakan. Ruang mewakili TIDAK TERHINGGA, TIDAK TERBATAS. Ke-tidak-terhinggaan keheningan sekaligus ketidakterbatasan kasih sayang.

PENUTUP

Inilah sekelumit kecil tentang pengetahuan rahasia. Semoga tulisan ini berguna. Om Aim Sarasvatye Namaha. Selamat Hari Sarasvati.

Rumah Dharma - Hindu Indonesia
20 April 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Implementasi Catur Purusha Arta Dalam Kehidupan

Untuk memudahkan penjelasan, kita simbolikkan Catur Purusha Artha sebagai sebuah lingkaran yang terbagi dua. Karena dalam kehidupan ada dua wilayah, yaitu wilayah-wilayah kerja dan wilayah-wilayah semesta.





Hidup terlalu miskin dibandingkan orang lain, kurang makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa berobat ke dokter, dll, pasti juga bisa mendatangkan banyak masalah dan kesulitan dalam hidup. Juga punya potensi untuk menjebak kita ke dalam kegelapan bathin. Sehingga kita memang perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Inilah tujuan dari Artha [kekayaan] dan Kama [keinginan].

Tapi dengan catatan semua itu bukanlah tujuan utama dalam hidup. Banyak uang, berpendidikan tinggi, semua kebutuhan serba ada, dll, hanyalah moment yang sangat sementara dibandingkan perjalanan panjang kita dalam roda samsara. Bila kita tidak hati-hati di dalam upaya mencari uang, kita bisa terjerumus ke dalam kegelapan bathin. Kita sukses secara materi tapi gagal secara rohani. Kita menciptakan banyak kesengsaraan bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri. Sehingga Artha [kekayaan] dan Kama [keinginan], mutlak harus diimbangi dengan Dharma, agar kita tidak hanya sukses secara duniawi tapi juga sukses secara rohani [Moksha].

Bagaimana agar Catur Purusha Artha bisa terlaksana secara seimbang ? Dalam wilayah kerja, kita melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita dengan sebaik-baiknya. Yang jadi pegawai bekerjalah sebagus mungkin, yang menjadi pelajar belajarlah sebagus mungkin, yang menjadi ibu rumah tangga jadilah ibu rumah tangga sebagus mungkin, yang jadi gubernur jadilah gubernur yang terbaik, dll sesuai dengan bidang kita dan tugas kehidupan kita masing-masing. Menjadi presiden dengan menjadi ibu rumah tangga adalah sama mulianya, menjadi orang suci dengan menjadi tukang sapu adalah sama mulianya, sesuai dengan tugas kehidupan masing-masing.

Hidup ini tidak mudah dan penuh gejolak. Tapi gejolak kehidupan akan menjadi lebih ringan, kalau kita berupaya melaksanakan tugas yang diberikan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Apapun yang ditugaskan oleh kehidupan, lakukan yang terbaik. Tapi setelah kita melakukan yang terbaik, tidak jaminan keinginan akan kita tercapai. Karena ada wilayah kedua yang tidak menjadi wewenang kita, yaitu wilayah semesta. Kerja, usaha, upaya, memang bisa merubah jalan kehidupan, tapi tidak semua. Sehebat-hebatnya wilayah kerja, selalu menyisakan wilayah kedua, yaitu wilayah semesta.

Menyangkut wilayah kerja, lakukan yang terbaik. Menyangkut wilayah semesta syukuri apapun yang anda peroleh [baik-buruk] dengan hati yang damai.

TIGA JENIS ARTHA DAN KAMA

Ada tiga macam cara meraih Artha dan Kama :

1. Artha dan Kama yang bersifat Tamasik.

Kita mengupayakan artha dan kama dengan menggunakan cara-cara yang merugikan orang lain. Misalnya : korupsi, mencuri, merampok, curang, tidak adil dalam pembagian hasil, memeras, mengeksploitasi orang lain, memanipulasi, dll. Tanpa pernah berpikir bahwa orang lainpun ingin bahagia dan berkecukupan seperti kita. Perlu rasa aman secara materi, tidak ingin diganggu dan disakiti.

Mereka yang mencari materi, kebahagiaan dan kesenangan dengan merugikan orang lain sesungguhnya sedang menciptakan kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Usaha yang dilakukan dengan keserakahan [lobha], sentimen atau kebencian tidak hanya membuat orang lain menderita, tapi sekaligus akan mendatangkan kegelapan bathin dan memperbanyak karma buruk bagi dirinya sendiri. Dia akan menjerat dirinya sendiri dalam kegelapan.

2. Artha dan Kama yang bersifat Rajasik.

Kita mengupayakan artha dan kama dengan cara-cara yang tidak merugikan orang lain. Tapi kita tidak mau tahu dengan kesulitan dan kesengsaraan orang lain. Kita melupakan orang lain. Kita hanya memikirkan diri kita dan keluarga kita sendiri.

Hal ini tidak sepenuhnya salah. Kelihatannya hidup seperti ini mudah dan enak. Tapi mereka yang seperti ini sebenarnya sedang menyia-nyiakan hidupnya untuk merubah putaran karmanya sendiri dan evolusi bathinnya dalam roda samsara. Kalau tidak hati-hati mereka juga bisa terperosok ke dalam kegelapan bathin, karena hidup seperti ini hanyalah hidup yang mementingkan diri sendiri. Tanpa welas asih dan kebaikan.

3. Artha dan Kama yang bersifat Sattvik.

Ini adalah cara yang terang benderang. Kita mengupayakan artha dan kama dengan cara-cara yang tidak merugikan orang lain, sekaligus berguna bagi banyak orang lainnya.

Yang terpenting pertama kali adalah orang-orang dimana kita memiliki tanggung-jawab kerja dan orang-orang di lingkungan kerja itu sendiri. Misalnya kalau kita jadi pengusaha atau manajemen perusahaan, pertama kita harus bekerja keras agar konsumen kita puas dan kedua kita harus memikirkan bagaimana karyawan atau bawahan kita bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Atau kalau kita jadi pejabat pemerintahan atau PNS, pertama kita harus bekerja keras agar rakyat benar-benar bisa sejahtera dan kedua kita harus memikirkan bagaimana pegawai pemerintahan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Karena orang lainpun ingin bahagia dan berkecukupan seperti kita. Perlu rasa aman, tidak ingin dimanfaatkan dan disakiti. 

Setelah hal ini dapat terlaksana, kita wajib memperluas cakupannya ke lingkup yang lebih luas lagi dan lebih luas lagi.

PENUTUP

Catur Purusha Artha memberikan kita arahan dalam hidup ini. Tidak hanya bermalas-malasan, tidak hanya sembahyang atau meditasi, tapi harus seimbang dengan bekerja keras [ngayah, bhakti] di dalam melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita masing-masing demi kebaikan orang lain. Buang segala keserakahan [lobha]. Hiduplah dengan penuh welas asih dan kebaikan. Apapun hasilnya terima dengan hati damai dan penuh rasa syukur.

Rumah Dharma - Hindu Indonesia
13 January 2011