Senin, 20 Juni 2011

Riwayat alam semesta

BRAHMAN

Segala yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi Brahman.

Brahman adalah nirguna [melampaui semua sifat alam], niranjana [murni], nirvikalpa [melampaui semua penjelasan] dan acintya [tidak terpikirkan]. Karena tidak ada kata-kata maupun pemikiran yang bisa menjelaskan Brahman. Yang ada maupun yang tidak ada adalah manifestasi Brahman, berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman.

Menurut para maharsi, kata-kata yang paling mendekati yang bisa menjelaskan tentang Brahman, walaupun juga tidak tepat, adalah Sat-Chit-Ananda [realitas absolut – kesadaran – kebahagiaan murni].


PURUSHA DAN PRAKRITI

Keseluruhan alam semesta ini terdiri dari dua realitas : Purusha - realitas absolut [kesadaran murni] dan Prakriti - fenomena alam materi [energi-materi].

Purusha adalah realitas absolut, kesadaran murni. Mutlak, tidak tergantung, bebas, tidak terasa, tidak kelihatan, diluar semua pengalaman dan diluar semua kata-kata dan penjelasan. Tidak terpikirkan. Kesadaran tanpa sifat yang selalu murni. Purusha tidak berasal dari sesuatu dan tidak menghasilkan / menimbulkan sesuatu.

Sedangkan Prakriti dalam bahasa manusia yang paling mendekati adalah energi. Jadi Prakriti bisa disebut sebagai divine energy [energi ilahi]. Prakriti adalah penyebab awal dari seluruh fenomena alam materi, seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha, yang tidak memiliki penyebab maupun menjadi sebab. Prakriti menjadi sumber asal dari apapun yang bersifat material [fisik] dan energi.

Hal ini juga dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] - dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

Menurut hukum Satkaryavada, sejatinya tidak ada sesuatupun yang dapat diciptakan, maupun sebaliknya : dihancurkan ke dalam ketiadaan. Yang ada adalah transformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya belaka. Ini juga bisa berarti dalam fenomena alam materi yang penuh aktifitas [utpetti, sthiti, pralina - pembentukan, pengembangan dan penghancuran], sejatinya tidak ada yang diciptakan atau dihancurkan, hanya dinamika perubahan bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya, dari materi menjadi energi dan dari energi menjadi materi. Hanya dikatakan saja sebagai utpetti, sthiti, pralina, karena begitulah yang terlihat dalam realitas materi.

Keseluruhan alam semesta dalam fenomena dinamika perubahan dan aktivitas [utpetti, sthiti, pralina - pembentukan, pengembangan dan penghancuran] dalam realitas materi [prakriti] diistilahkan sebagai tarian kosmik Brahman. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja [tarian kosmik Shiva]. Kita adalah tarian Brahman dalam realitas materi. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah dinamika [pergerakan]. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan, atom-atom dalam pergerakan dan semua pergerakan adalah tarian kosmik Brahman.

Perputaran utpetti, sthiti, pralina ini disebut Brahma Cakra. Satu putaran Brahma Cakra mulai dari pembentukan sampai penghancuran [maha pralaya] memakan waktu 1 siang + 1 malam Brahma [1 hari Brahma], yang sama dengan 8,4 Milyar tahun.

BRAHMA CAKRA [RODA CAKRA ALAM SEMESTA]

1. Roda penciptaan dan penghancuran alam semesta.

Menurut hukum Satkaryavada, "akibat" pra-eksis di dalam "sebab". Sebab dan akibat dipandang sebagai sisi-sisi sementara yang berbeda dari satu hal yang sama - akibat terletak terpendam [tersembunyi] di dalam sebab yang pada gilirannya menebar benih pada akibat berikutnya.

Hukum Prakriti-Parinama Vada menyatakan bahwa "akibat" adalah perubahan nyata dari "sebab". Sebab yang dimaksudkan disini adalah Prakriti [divine energy] atau tepatnya Mula-Prakriti [primordial matter / materi yang mula-mula]. Dalam evolusinya [perkembangannya], Prakriti berevolusi menjadi Mula-Prakriti dan dari sini menjadi berbagai obyek yang berbeda-beda dan beragam. Seperti yang dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] - dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

Evolusi [perkembangan] ini kemudian diikuti oleh peleburan atau pembubaran. Dalam pralina wujud materi [fisik] ini, semua obyek di seluruh dimensi alam semesta ini kembali menyatu dengan Prakriti, yang berarti yang ada hanya Prakriti [energi ilahi yang mula-mula] saja. Semuanya berlangsung laksana putaran roda [cakra] perkembangan-pemeliharaan-peleburan yang saling berputar [laksana roda chakra] bergantian secara terus menerus. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja.


2. Pembentukan atau pengembangan alam semesta.

Karena prakriti adalah dasar atau pondasi [tattva] dari seluruh fenomena dan dimensi alam semesta dia juga sering disebut PRADHANA. Dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu :

1. Sattvam - unsur keseimbangan.
2. Rajas - unsur aktif [pengembangan, pemuaian atau dinamika aktifitas].
3. Tamas - unsur statik [kelembaman atau perlawanan untuk melakukan kegiatan].

Dalam kondisi seimbang total [sattvam], seluruh materi semesta terserap kembali ke dalam Prakriti. Namun apabila Prakriti diguncang oleh unsur aktifnya [rajas], sehingga Prakriti menjadi tidak seimbang, maka terciptalah alam semesta ini. Seluruh materi memencar menyebar ke segala arah dan terciptalah wujud alam semesta raya. Dimana dinamika murni Prakriti mengembangkan dirinya secara berurutan sambung-menyambung menjadi dua puluh empat tattva [asas dasar]. Evolusi [perkembangan] ini sendiri terjadi karena Prakriti selalu dalam keadaan tidak stabil akibat tekanan tiga unsur intisari sifat dasar-nya [tri guna].

Kedua puluh empat tattva [asas dasar] itu adalah :

>>> PRAKRITI [divine energy] - asas dasar paling halus yang merupakan sumber di balik segala apapun yang ada di seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha. Juga diidentikkan dengan Mula-Prakriti [primordial matter / materi purba yang mula-mula]. Prakriti di intisarinya sendiri adalah keadaan keseimbangan total [sattvam].

>>> MAHAT - Ketika kondisi Prakriti tengah aktif, maka saat itulah terjadi pertemuan antara Purusha dan Prakriti. Dari pertemuan keduanya lahir hasil pertama dari evolusi Prakriti, yaitu mahat [dinamika murni]. Mahat juga identik dengan cosmic mind atau maha-kesadaran kosmik. Saat mahat [cosmic mind] ini bangkit, alam semesta ini belum juga ada. Kemudian karena pengaruh unsur Rajas [aktif / kerja] dari Tri Guna, cosmic mind ini mulai berkreasi [lila] dan mengembangkan ciptaan [dinamika].

Dari sini lahirlah citta semesta, cikal bakal memori subyektif-relatif seluruh makhluk. Citta adalah Purusha yang sudah “terkontaminasi”, jatuh dan terperosok akibat belenggu Prakriti. Begitu citta semesta tercipta, maka pengaruh Prakriti semakin besar. Prakriti kembali menanamkan belenggunya kepada citta semesta, dari sini maka lahirlah buddhi [kecerdasan] semesta, sebagai cikal bakal kesadaran dan kecerdasan relatif seluruh makhluk.

>>> AHAMKARA - Akibat unsur rajas ini juga, hasil kedua dari evolusi Prakriti adalah ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Ahamkara inilah yang bertanggung-jawab terhadap perasaan "aku" dalam mahluk hidup. Ahamkara juga adalah penyebab identifikasi diri yang berbeda dengan alam luar beserta segala isinya. Disini kondisi Purusha sudah semakin terbelenggu Prakriti. Keterbatasan dan kebodohan sudah mulai melekati Atman.

>>> PANCA TANMATRA [lima bahan materi halus] - adalah hasil dari Mahat, bersamaan muncul dengan Ahamkara. Masing-masing Tanmatra ini terbentuk dari salah satu aspek Tri Guna, yaitu :

1. Sabda Tanmatra [unsur halus dari ruang]. 
2. Sparsa Tanmatra [unsur halus dari udara atau gas]. 
3. Rupa Tanmatra [unsur halus dari cahaya atau api].
4. Rasa Tanmatra [unsur halus dari cairan].
5. Gandha Tanmatra [unsur halus dari materi padat].

 >>> MANAS [pikiran] atau "Antahkarana" - berkembang dari kesemua [total] aspek sattvam dari Pancha Tanmatra dan Ahamkara.

>>> PANCHA JNANA INDRIYA - lima indra perasa, yang berkembang dari aspek sattvam dari Ahamkara, yaitu :

1. Cakshu semesta [cikal bakal penglihatan].
2. Srota semesta [cikal bakal pendengaran]. 
3. Ghrana semesta [cikal bakal penciuman].
4. Jihva semesta [cikal bakal perasa lidah].
5. Tvak semesta [cikal bakal peraba seluruh tubuh].

>>> PANCHA KARMA INDRIYA - lima organ tindakan, yang berkembang dari aspek Rajas dari Ahamkara, yaitu :

1. Vak semesta [cikal bakal pengucapan].
2. Pani semesta [cikal bakal peraba tangan].
3. Pada semesta [cikal bakal peraba kaki].
4. Upastha semesta [cikal bakal rasa kemaluan].
5. Payu semesta [cikal bakal gerak dan dubur].

>>> PANCHA MAHABHUTA - lima elemen dasar yang berkembang dari aspek Tamas dari Ahamkara. Panca Mahabhuta muncul dari "pengasaran" [panchikaran] dari Panca Tanmatra, sehingga terciptalah Panca Mahabhuta, lima elemen dasar materi kasar, yaitu :

1. Sabda Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi AKASHA [ruang]. 
2. Sparsa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi VAYU [udara atau gas]. 
3. Rupa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi TEJA [cahaya atau api].
4. Rasa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi APAH [cairan].
5. Gandha Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi PRTHIVI [materi padat].


3. Hukum-hukum semesta.

Adanya hukum-hukum semesta seperti Hukum Rta dan Hukum Karma tidak bisa dipisahkan dari penjelasan hukum Satkaryavada dan hukum Prakriti-Parinama Vada. "Akibat" pra-eksis di dalam "sebab" dan "akibat" adalah perubahan nyata dari "sebab".

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu : Sattvam, Rajas dan Tamas. Unsur Rajas yang memicu chaos [kekacauan] semesta -yang juga menjadi penyebab awal terciptanya alam semesta-, dan unsur Sattvam dan Tamas menjadi penyeimbangnya. Kestabilan-keseimbangan inilah yang merubah fenomena materi-energi Prakriti dari chaos [kekacauan semesta] menjadi cosmos [alam semesta yang tidak kacau].

Tri guna adalah dasar dari terciptanya hukum-hukum semesta [hukum Rta dan hukum Karma], sehingga terjadilah keteraturan dan ketidak-kacauan. Sehingga ketika kita memasak beras, kita bisa yakin kalau hasilnya nanti adalah nasi, bukan menjadi racun, bom atau handphone misalnya.

TERCIPTANYA MAHLUK

1. Pertemuan Purusha dan Prakriti.

Prakriti yang sudah bermanifestasi menjadi 24 asas dasar, kemudian seolah-olah “terpecah-belah” menjadi berbagai fenomena di alam materi termasuk mahluk hidup. Setiap mahluk hidup terdiri dari Purusha dan Prakriti. Purusha [realitas absolut, kesadaran murni] yang terbelenggu Prakriti menjadi penyebab adanya mahluk hidup. Dari pertemuan citta, buddhi, manas, ahamkara, panca jnana indriya dan panca karma indriya terciptalah sukhsma sarira [badan astral]. Dari pertemuan sukhsma sarira dan panca mahabhuta, terciptalah sthula sarira [badan fisik]. Inilah mahluk hidup.



Purusha [atman] telah terselubungi dan terbelenggu sedemikian rupa oleh berbagai produk-produk Prakriti. Akibatnya kesadaran atman merosot jatuh secara total. Jivatman terkecoh, mengira dirinya adalah pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik] belaka. Jivatman sudah melupakan siapa dirinya yang sejati.

Setiap kejadian material [fisik] dan energi adalah perwujudan dari dinamika Prakriti [fenomena alam materi], termasuk yang terjadi pada setiap lapisan tubuh [kosha] kita -lapisan badan dan lapisan pikiran-. Sehingga kemudian semua evolusi [perkembangan] materi macrocosmic [alam semesta] dan microcosmic [mahluk] dipengaruhi oleh tiga sifat dasar prakriti ini. Tri guna mempengaruhi mahluk sebagai berikut :

1. Sattvam - kehalusan, keindahan, kebaikan, penerangan, cahaya dan kebahagiaan sejati.
2. Rajas - aktivitas / kegiatan, motifasi, dinamika dan kesengsaraan.
3. Tamas – kelambanan, kemalasan [keengganan] dan kebuntuan.

Walaupun sejatinya eksistensi setiap mahluk hidup sejatinya adalah Purusha [kesadaran murni] yang tidak terbatas, tidak terpikirkan dan tidak terpengaruh oleh tubuh. Tapi atman terbelenggu oleh prakriti. Eksistensi mahluk hidup atau "sang aku" mengalami pembebasan [moksha] ketika bisa "sadar" akan identitas diri yang sejati.

Akan tetapi selama kesadaran atman tidak muncul, maka dia akan tetap terbelenggu oleh Prakriti. Tugas ini sangatlah berat, karena jivatman sudah melewati berjuta-juta kelahiran, dimana pada periode tersebut jivatman terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Bahkan ada jivatman yang makin terperosok dan makin terbelenggu prakriti, sehingga lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala].

2. Terperosoknya Jivatman.

Ketika kita SMA, sebagian besar dari kita mempelajari hukum seleksi alam [natural selection] dari Darwin. Hanya yang kuat dan mampu beradaptasi terhadap gejolak perubahan lingkungan yang bisa bertahan [survive]. Teori ini bisa dikatakan benar adanya.

Kebanyakan kehidupan adalah tentang survival terhadap eksistensi kita sebagai mahluk. Perhatikan rantai makanan : Elang memakan ular, ular memakan kodok, kodok memakan nyamuk, dst-nya. Perhatikan kehidupan manusia : persaingan berebut uang dan makanan [persaingan dagang, persaingan ekonomi, persaingan di tempat kerja], persaingan berebut pengaruh, perebutan kursi kekuasaan, eksploitasi tenaga kerja, penipuan, perampokan, korupsi, peperangan, dll. Saling menyakiti, saling membenci, saling menyalahkan, dll. Kenapa kita melakukan semua itu ? Karena kita punya suatu kebutuhan. Ini secara alami kita lakukan dalam rangka upaya kita untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk atau sebagai suatu identitas. Kita dipaksa oleh kehidupan untuk seperti itu. Alasannya macam-macam : untuk bisa makan, untuk bisa menghidupi rumah tangga, untuk bisa membiayai anak sekolah, untuk rasa aman, untuk jaminan kebahagiaan, untuk melindungi kepentingan kelompok, untuk melindungi identitas diri kita, dll.

Apa akibatnya ? Akibatnya hukum yang dominan dipakai [berlaku] dimana-mana adalah hukum rimba. Pemangsa dan yang dimangsa, pengeksploitasi dan yang dieksploitasi, pemanipulasi dan yang dimanipulasi, yang menyakiti dan yang disakiti. Untuk bisa survive dalam hukum rimba, kita harus punya ego yang besar. Karena itu ego kita sebagai mahluk semakin hari semakin besar dan semakin besar. Ini adalah kebutuhan alami dalam avidya [ketidaktahuan, kebodohan] yang kita perlukan untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk individu.

Tapi apa akibat berikutnya ? Kita terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Kita jauh dari kedamaian. Pikiran kita berubah menjadi serakah, mementingkan diri sendiri, marah, sombong, kecewa, iri hati, takut, stress, dll. Kita semakin jauh dari reakitas diri yang sejati. Kita terperosok dalam ”kubangan” Prakriti untuk jangka waktu yang sangat lama.

3. Moksha [pembebasan sempurna].

Moksha dalam bahasa sansekerta berarti : lepas atau bebas. Moksha adalah pembebasan sempurna. Jivatman berada dalam belenggu samsara diakibatkan oleh avidya [ketidaktahuan / kebodohan]. Jivatman mengalami pembebasan [moksha] ketika "sadar" akan identitas diri yang sejati. Begitu jivatman bisa lepas dari belenggu selubung prakriti, maka dia akan kembali berubah menjadi realitas absolut, kesadaran murni.


Inilah landasan dasar dari mengapa para Maharsi pendahulu dan para Dewa-Dewi mengajarkan dharma dan berbagai jalan yoga. Yaitu untuk membimbing manusia bebas dari belenggu Prakriti, yaitu belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Semakin cepat semakin baik, sebelum kita terperosok semakin jauh lahir menjadi binatang atau lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala] yang penuh dengan kesengsaraan.

Tugas hidup kita yang sesungguhnya adalah melampaui pengaruh Prakriti. Bebas dari belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Atman Brahman Aikyam, Atman adalah Brahman. Laksana setetes air dalam samudera maha luas yang tersadar bahwa realitas dirinya bukanlah setetes air [mahluk individu], melainkan samudera yang maha luas.


Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Sugihan Bali,
03 December 2010

Minggu, 19 Juni 2011

Hukum Karma


Hindu mengajarkan bahwa di keseluruhan alam semesta ini berlaku dua hukum semesta, yaitu Hukum Karma [hukum yang mengatur mahluk, jalan hidup dan kehidupan] dan Hukum Rta [hukum alam, yang mengatur alam semesta, benda dan materi]. Kedua hukum ini saling berkaitan satu sama lain, akan tetapi dalam tulisan ini khusus yang akan dibahas adalah tentang Hukum Karma.

PENJELASAN TENTANG KARMA

Berbeda dengan sebagian agama yang mengajarkan tentang "Takdir Tuhan" -dimana kehidupan kita di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang ditentukan oleh takdir Tuhan-, agama-agama dharma [Hindu, Buddha dan Jain] mengajarkan yang berbeda, yaitu "Hukum Karma".

Kadang ada kesalahpahaman bahwa hukum karma sama dengan "nasib", bahkan "suratan takdir Tuhan" [berarti semuanya ditentukan Tuhan]. Perlu diketahui bahwa dalam hukum karma tidaklah demikian, "suratan takdir" ini ditulis sendiri oleh diri kita sendiri. Kitalah yang mendesain nasib kita, bukan oleh Brahman, Dewa-Dewi ataupun pihak lain. Dalam ajaran Hindu, Brahman atau Purusha memang diyakini sebagai penyebab utama, tetapi dalam hal ini Brahman sebenarnya hanya "pengamat / saksi abadi".

Karma berarti "perbuatan / tindakan". Hukum karma adalah hukum semesta sebab-akibat, dimana setiap tindakan kita akan membuahkan hasil tindakan atau buah karma [karma-phala]. Yang berarti apapun yang terjadi pada diri kita di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, ditentukan sepenuhnya oleh tindakan diri kita sendiri. Tanpa ada intervensi dari Brahman, Dewa-Dewi ataupun pihak lain. Dan yang dimaksud dengan "tindakan" itu adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri. Ketiganya ini yang akan berbuah atau membuahkan hasil. Oleh karena ada satu aksi, akan ada suatu reaksi. Hukum inilah yang mengatur kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos, kehidupan semua mahluk di alam semesta.

Hukum karma sama sekali bukan tentang hukuman atau hadiah [pahala] dari Tuhan, tapi tentang tindakan kita sendiri beserta seluruh konsekuensinya. Kalau kita sombong, maka yang akan datang kepada kita adalah kebencian. Kalau kita penuh kebaikan, maka yang akan datang kepada kita adalah simpati dan pertolongan. Kalau kita menyakiti, maka kita akan disakiti. Kalau kita penuh kesabaran, maka yang akan datang kepada kita adalah simpati dan kasih sayang. Kalau kita banyak mengambil kebahagiaan orang, maka kita juga akan banyak mengambil penderitaan, dll.

Hukum inilah yang menjelaskan, mengapa dalam kelahiran saat ini ada yang lahir miskin atau kaya, ada yang lahir tampan / cantik atau jelek, ada yang lahir dengan kehidupan mudah atau kehidupan penuh dengan kesulitan, dll.

Hukum karma bekerja pada semua lapisan badan kita [kosha]. Misalnya karma pada badan fisik : makan yang kurang teratur akan menyebabkan tubuh sakit. Atau karma pada badan pikiran : biasa berpikir yang positif dan sejuk akan berakibat pada perasaan kita sendiri yang menjadi tenang, dll. Atau kombinasi keduanya : suka marah-marah akan menyebabkan kita kena stroke di masa tua.

KARMA-PHALA [BUAH KARMA]

Berdasarkan rentang waktu, ada tiga jenis karma-phala yang didasarkan atas waktu dari buah karma itu matang dan kita terima, yaitu :

1. Sancita Karmaphala [karma masa lalu] - tindakan yang kita lakukan di masa lalu atau kehidupan [kelahiran] sebelumnya, yang buah karma-nya [karma-phala] baru matang dan kita terima di saat ini atau di kehidupan [kelahiran] sekarang.
2. Prarabda Karmaphala [karma saat ini] - tindakan yang kita lakukan di saat ini, yang buah karma-nya [karma-phala] matang dan kita terima di saat ini juga.
3. Kriyamana Karmaphala [karma masa depan] - tindakan yang kita lakukan di saat ini, yang buah karma-nya [karma-phala] baru matang dan kita terima di masa depan atau di kehidupan [kelahiran] berikutnya.

Sehingga, kalau di hari ini hidup kita banyak kesulitan, tidak punya banyak uang atau gagal mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak perlu protes kepada kehidupan atau protes kepada Hyang Widhi, Dewa-Dewi dan Betara. Sadarilah bahwa itu hanya buah dari apa yang pernah kita lakukan di masa lalu.

TIGA JENIS CARA ORANG BERSIKAP DI DEPAN KARMA

Secara garis besar, ada tiga macam sikap orang di depan karma :

1. VIKARMA - Orang yang melawan karma-nya.

Cara terburuk berhubungan dengan karma adalah dengan melawannya. Ada hukum alam yang berlaku : siapa saja yang melawan karma-nya, dia akan disambut dengan kesengsaraan.

Tidak putaran karma-nya jadi orang kaya, memaksakan diri biar bisa jadi orang kaya [bahkan cara menipu atau korupsi-pun ditempuh], ujung-ujungnya pasti sengsara. Tidak putaran karma-nya jadi anggota DPR, memaksakan diri biar bisa jadi anggota DPR, ujung-ujungnya pasti sengsara. Tidak putaran karma-nya punya istri cantik, memaksakan diri biar bisa punya istri cantik, ujung-ujungnya pasti sengsara. Hanya mau yang baik dan tidak mau yang buruk, hanya mau yang menyenangkan dan tidak mau yang tidak menyenangkan. Hidup akan menjadi hidup yang terjebak dengan jerat ketidak-puasan, kesedihan, protes atau bahkan ketakutan.

2. KARMA-GYANI - Orang yang mengalir dengan karma-nya.

Cara yang baik untuk berhubungan dengan karma adalah dengan mengalir bersama putaran karma kita sendiri. Orang yang mengalir dengan karma-nya, bathinnya damai dan lebih mudah berbahagia. Bagi orang yang mengalir dengan karmanya, kedamaian dan kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Tidak saja dalam kehidupan kita bisa memilih untuk damai, tapi di depan kematian kita juga bisa memilih untuk damai.

Ketika kita punya cita-cita jadi direktur, berusaha dan bekerja keraslah untuk merealisasikannya, tetapi setelah semua usaha dan upaya keras, kemudian putaran karma kita hanya jadi pegawai biasa, mengalirlah damai dengan karma itu. Ketika punya cita-cita jadi orang kaya, berusaha dan bekerja keraslah untuk merealisasikannya, tetapi kalau kemudian setelah semua usaha dan upaya keras, putaran karma kita hanya punya uang terbatas, mengalirlah damai dengan karma itu. Kita musti bekerja keras di dalam melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita, tapi apapun yang terjadi, apapun hasilnya, terima dengan senyum damai. Dalam istilah tetua Jawa : nrimo ing pandum, karena itu bagus untuk memotong mata rantai kegelapan bathin seperti : kebencian, dendam, kemarahan, iri hati, keserakahan, dll.

Orang-orang seperti ini berani mengatakan ke diri sendiri : ini karma saya dan saya akan menyatu dengan karma saya ini. Semuanya dijalanin saja. Termasuk ketika dia disakiti, dihina, ditipu, ketemu orang jahat, ketemu orang yang memperlakukan dengan tidak baik, sakit keras, dll, dia berkata ke diri sendiri : saya sedang membayar hutang karma. Dan bagi dia tidak usah menciptakan karma buruk yang baru dengan cara marah-marah, protes atau bersedih. Termasuk ketika sudah membuat karma baik-pun tidak perlu dia ceritakan dan mengharapkan hasilnya.

3. AKARMA - Orang yang melampaui karma.

Ini adalah orang yang bertemu dengan puncak ajaran sanatana dharma. Di Jawa dan Bali, para tetua menyebutnya dengan wilayah-wilayah kamoksan [pembebasan], ketika seluruh dualitas [baik-buruk, hitam-putih, benar-salah, suci-kotor] berhenti. Atau biasa kita sebut sebagai Rwa Bhinneda. Yang tersisa hanya keheningan sempurna.

Di titik ini roda samsara berhenti, hukum karma berhenti bekerja dan kelahiran kembali ke dunia tidak lagi terjadi.

APAKAH KARMA BISA BERUBAH ?

Ada karma masa lalu [Sancita Karmaphala] dan ada karma saat ini [Prarabda Karmaphala]. Yang kita alami buah karma-nya saat ini adalah hasil interaksi karma masa lalu dan karma saat ini. Di masa lalu kita boleh punya banyak karma buruk [asubha karma], tapi kita bisa dapat keringanan kalau kita mengisi kehidupan kita di hari ini penuh dengan welas asih dan kebaikan. Atau sebaliknya, di masa lalu kita boleh punya banyak karma baik [subha karma], tapi kita bisa dapat kesulitan lain kalau kita mengisi kehidupan kita di hari ini dengan hal-hal yang tidak baik.

Misalnya >>> Putaran karma kita hari ini harus dibunuh orang lain [karena di beberapa kehidupan sebelumnya kita sering membunuh orang dan hari ini karmanya harus kita bayar]. Tapi karena di saat ini kita penuh dengan welas asih, kebaikan dan kita menghadapinya dengan sikap bathin yang tenang dan damai - kita tidak jadi dibunuh, kita hanya dipukuli saja. Atau misalnya putaran karma kita hari ini ditipu orang sampai benar-benar bangkrut, tapi karena di saat ini kita penuh dengan welas asih, kebaikan dan sikap bathin kita tenang, damai - kemudian entah bagaimana ada orang yang datang menolong kita sebelum kita jadi gelandangan. Dll.

Atau sebaliknya putaran karma kita hari ini akan menjadi pejabat penting [karena kita punya banyak tabungan karma baik dan hari ini buah-karmanya bisa kita nikmati], tapi karena disaat ini kita sering menjelek-jelekkan atasan kita, kita bisa batal jadi pejabat penting karena atasan kita marah kepada kita. Atau misalnya putaran karma kita hari ini menjadi orang kaya, tapi karena disaat ini kita suka judi atau selingkuh, kita bisa jatuh miskin. Dll.

Masa lalu tidak bisa diperbaiki karena sudah berlalu. Dalam kelahiran sebelumnya kita jadi siapa dan seperti apa, itu tidak penting karena sudah berlalu dan tidak bisa diperbaiki. Yang paling penting adalah BAGAIMANA KITA BERSIKAP DAN BERPERILAKU DI HARI INI. Bahkan orang yang harus mengalami karma buruk-pun bisa dapat keringanan kalau sikap dan perilaku-nya baik di saat ini. Demikian juga sebaliknya.

Sehingga fokus sikap hidup yang tepat bagi kita di saat ini adalah :

1. LAKSANAKAN AJARAN DHARMA. Bersihkan bathin dari Sad Ripu [enam kegelapan bathin] melalui kesabaran, rasa syukur, kerendah-hatian, dll. Bersikaplah penuh welas asih dan banyak-banyak melakukan kebaikan-kebaikan kepada semua mahluk.

2. LAKSANAKAN DENGAN SEBAIK-BAIKNYA APA SVADHARMA [TUGAS KEHIDUPAN] KITA SAAT INI. TAPI APAPUN HASILNYA, TERIMA DENGAN SENYUM DAMAI. Kerja keraslah di dalam melaksanakan svadharma kita, jadi apapun kita : pegawai, pengusaha, tentara, guru, pedagang, sebagai orang tua di rumah, dll. Kalau kita jadi tukang sapu jalan, jadikanlah jalan itu jalan paling bersih di dunia. Kalau kita jadi polisi, jadikanlah wilayah tugas kita wilayah teraman di dunia. Karena melaksanakan svadharma dengan baik membuat kita terhindar dari hutang karma yang baru, sekaligus membuat banyak karma baik.


Hanya dengan cara melaksanakan kedua hal itu secara bersama-sama, karma buruk bisa dikurangi dan karma baik bisa diperbanyak. Syukur-syukur kalau jalan-jalan menuju pembebasan kemudian bisa banyak terbuka untuk kita, karena di SAAT INI perilaku kita penuh welas asih, kebaikan, sabar, rendah hati dan sikap bathin kita yang terkendali, tenang dan damai.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
05 Juli 2010

Sabtu, 11 Juni 2011

Dalam jejaring kosmik Brahman, kita semua satu keluarga

BRAHMAIVEDAM VISVAM IDAM VARISTHAM
[Sesungguhnya keseluruhan alam semesta adalah Brahman itu sendiri].


ETASMAD ATMANA AKASAH SAMBHUTAH AKASAD VAYUH, VAYORAGNIH, AGNERAPAH, ADBHYAH PRHTIVI
[Bermula dari prinsip-prinsip kosmis, muncullah ruang-/akasha, dari ruang muncul udara-/vayu-, dari udara muncul api-/agni, dari api muncul air-/apah, dari air muncul tanah-/prthivi].


YAH PRHTHVYAM APSU, AGNAU, VAYAU,  ANTARIKSA THISTAN
[Beliau bersemayam dalam tanah, air, api, udara, dan akasha, namun mereka belum mengetahuinya, unsur-unsur ini menjadi badan-Nya].


BRAHMANDE API ASTI YAT KINCIT TAT PINDE ASTI SARVATHO
[Lima intisari unsur yang terkandung di alam semesta-/bhuwana agung, juga terkandung di dalam mahluk hidup-/bhuwana alit]


Kita sering disesatkan oleh pemikiran-pemikiran tentang identitas diri kita : aku orang Indonesia, aku orang Malaysia, aku orang Arab, aku orang China, aku orang Bali, aku orang Jawa, aku orang Sumatera, aku orang Hindu, aku orang Islam, aku orang Buddha, dll. Akibatnya munculah berbagai konflik, ketidakharmonisan dan ketidakseimbangan kosmik.


Batas-batas palsu seperti itu hanya bisa lahir dari avidya [kebodohan], kroda [kebencian], kama [keinginan], lobha [keserakahan], dll. Sesungguhnya yang ada di brahmanda [planet] kita ini hanya Planet Bumi beserta seluruh mahluk hidup di dalamnya.


Kenali asal mula kita, kita semua berasal dari sumber yang sama.


Bumi memberiku makanan. Yang memberiku makanan sama dengan Ibuku. Karena itu aku menghormati dan menyebutnya Ibu Pertiwi [Prthvi Matta].


Agar aku bisa hidup, aku memerlukan air dan udara. Langit menyediakan air tawar dan udara untukku, karena itu aku menghormati dan menyebutnya Bapa Akasha [Akasha Pitta].


Agar roda kehidupan bisa berputar, diperlukan sinar matahari. Tanpa matahari tidak akan ada kehidupan di Planet Bumi. Dan bapa-ibuku ini diberi kekuatan gerak oleh matahari. Karena itu aku menghormatinya [Surya Namaskara].


Seluruh alam semesta ini adalah satu keluarga yang manunggal. Sadarilah koneksi antar kita. Bumi ini beserta seluruh mahluk di dalamnya adalah bagian dari jejaring kosmos yang saling terhubung rapi satu sama lain laksana jaring laba-laba. Setiap bagian dari alam semesta adalah permata Brahman, setiap mahluk adalah permata Brahman, di dalam tarian kosmik Brahman [Shiva Nataraja]. Ketika kita melihat satu permata, kita melihat pantulan dari permata yang lain.


Kita terhubung rapi dan tidak terpisahkan satu sama lain. Ketika satu permata disentuh, vibrasi pantulannya akan mental ke permata di sekitarnya dan ini menciptakan efek gelombang tanpa akhir dan menyebar ke seluruh jejaring kosmik.


UDARA CARITANAM TU VASUDAIVA KUTUMBAKAM
[Mereka yang hatinya penuh dengan kasih sayang yang tak terbatas, merangkum seluruh dunia sebagai keluarganya].


ATMAUPAMYENA SARVATRA SAMAM PASYATI YO RJUNA, SUKHAM VA YADI DUHKHAM SA YOGI PARAMO MATAH
[Mereka yang mengidentifikasikan dirinya dengan semua yang ada di alam semesta dan mengidentifikasikan kesenangan dan penderitaannya sendiri dengan kesenangan dan penderitaan semua makhluk, dialah seorang yogi yang sempurna].


DYAUH SANTIR ANTARIKSAM SANTIH, PRTHVI SANTIRAPAH SANTIR OSADHA, YAH SANTIH VANASPATAYAH SANTIR, VISVE DEVAH SANTIR BRAHMA SANTIH, SARVAM SANTIH SANTIR EVA SANTIH, SA MA SANTIR EDHI
[Semoga ada kedamaian di langit & udara yang meliputi bumi, semoga ada kedamaian di bumi, semoga air dan tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian bagi semuanya. Semoga para dewa dan Brahman menganugerahkan kedamaian kepada semua mahluk. Semoga terdapat kedamaian dimana-mana. Semoga kedamaian itu datang kepada kita semua].


Kutipan singkat dari Rig Veda, Ayur Veda dan Hita Upadesha.
Rumah Dharma - Hindu Indonesia
30 Oktober 2010

Sesarining Dharma [Intisari Dharma]


Sebab kenapa dalam kehidupan ini kita jauh dari realitas diri kita yang sejati [yang penuh kebahagiaan dan kedamaian] adalah karena kita SALAH PIKIRAN. Kita mengira harga diri kita yang paling penting, kita mengira melampiaskan marah itu yang paling penting, kita mengira nafsu seks itu yang paling penting, kita mengira banyak uang itu yang paling penting, kita mengira kekuasaan itu yang paling penting, kita mengira memamerkan kesucian dan pengetahuan itu yang paling penting, kita mengira badan kita ini yang paling penting, kita mengira menuruti pikiran dan perasaan negatif kita yang paling penting, dll, banyak sekali. Janganlah kemudian kita pergi ke alam kematian [mati] dengan salah pikiran seperti itu, karena kita akan dibuat sangat sengsara di alam kematian. Sukur-sukur kalau kemudian kita masih bisa balik terlahir lagi ke kehidupan ini menjadi manusia, celakalah kalau kita terlahir ke alam-alam bawah [Bhur Loka] menjadi ashura atau lahir sebagai binatang.

Sehingga tugas besar kita dalam hidup ini adalah meruntuhkan tembok-tembok pertahanan diri [ke-aku-an] yang bernama pemikiran-pemikiran dan perasaan negatif yang dimunculkan oleh badan dan pikiran. Melatih diri dan membiasakan diri sepanjang perjalanan kehidupan ini adalah faktor penting yang menentukan.


EMPAT PILAR SADHANA SEBAGAI PONDASI DASAR PRAKTEK TERPENTING DARI SELURUH AJARAN DAN PRAKTEK DHARMA

Pokok dasar yang terpenting dari semua ajaran dan praktek di jalan dharma adalah sadhana yang dilaksanakan dan dibiasakan dengan sungguh-sungguh. Dan sadhana ini kalau diperas dan di-intisarikan, menjadi empat saja, yaitu :

1. Pikiran yang bebas dari dualitas.

Ciri manusia yang bathinnya sudah siap memulai evolusi bathinnya di jalan dharma adalah pikiran yang bebas dari dualitas hidup-mati, benar-salah, menyenangkan-tidak menyenangkan, suci-kotor, bahagia-sengsara, tinggi-rendah, dll. Karena dalam kehidupan : semua orang melewati bahagia & sengsara, pernah dipuji & direndahkan, melewati sakit & sehat, pernah sukses & gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda. Pesan tetua kita dalam Rwa Bhinneda : menolak kesedihan adalah kesengsaraan, mengejar kebahagiaan adalah malapetaka. Ketika bathin kita kita berhenti diguncang oleh dualitas, kehidupan menjadi indah sekaligus damai & bahagia. Pikiran dan perasaan kita tetap tenang dan shanti [damai] pada apapun yang terjadi dalam kehidupan. Inilah tangga pertama.


Selengkapnya baca disini.

2. Welas asih dan kebaikan tidak terbatas kepada semua mahluk.

Puncak dari kebahagiaan dan kedamaian bathin [jivan-mukti] hanya bisa direalisasi dengan membangun sifat penuh welas asih dan kebaikan dalam bathin kita. Sehingga kalau seluruh ajaran dharma diminta di-intisarikan menjadi satu saja, maka hal itu adalah welas asih dan kebaikan yang tidak terbatas kepada semua. Kalaupun masih belum bisa melakukan kebaikan, cukup jangan menyakiti [ahimsa].

Semakin kita peduli dengan kebahagiaan mahluk lain, semakin berkembang kesegaran bathin kita. Sikap bersahabat, tidak curiga [berprasangka negatif], murah hati, suka membantu, rajin memberi, kerelaan diri, penuh pengertian dan penuh kasih sayang kepada mahluk lain, bukan saja menyegarkan bathin mereka, tapi sekaligus membuat cahaya bathin kita sendiri terang-benderang. Sayangi, sayangi dan sayangi apa saja dan siapa saja, apapun yang terjadi dalam kehidupan. Menyayangi suami yang baik, itu manusia biasa – tapi bisa menyayangi suami yang selingkuh, itu tanda-tanda bathin terang yang mulai bergerak mendekati pembebasan. Menyayangi teman kantor yang baik, itu manusia biasa – tapi bisa menyayangi teman kantor yang menyakiti dan memfitnah kita, itu tanda-tanda bathin terang yang mulai bergerak mendekati pembebasan. Sadari hal ini setiap saat-setiap waktu, tugas kita satu : sayangi, sayangi dan sayangi. Inilah tangga kedua.


Selengkapnya baca disini.

3. Pikiran yang bebas dari Sad Ripu [enam kegelapan bathin].

Tangga pertama dan kedua adalah faktor yang sangat menentukan bagi kita untuk melenyapkan rasa takut, mumet dan pikiran-pikiran negatif lainnya, yang memudahkan kita mengatasi setiap hambatan kekotoran bathin di jalan menuju pembebasan.

Kenapa kita marah dan dendam ? Kenapa kita sedih ? Kenapa kita membenci dan memusuhi ? Kenapa kita penuh rasa curiga ? Kenapa kita selingkuh ? Kenapa kita korupsi ? Karena kita tidak tahu atau lupa dengan realitas diri kita yang sejati. Bersihkan pikiran dari kemarahan, iri hati, dendam, kesombongan, keinginan, hawa nafsu, keserakahan, dll. Bayangkan kalau seluruh rasa marah, dendam, iri hati, nafsu keinginan, curiga, tidak rela, tidak puas, serakah, dll, lenyap dari bathin kita. Apa yang terjadi ? Yang muncul dalam bathin hanya kebahagiaan kedamaian. Inilah tangga ketiga.
4. Laksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita.

Setelah kita memahami aspek-aspek inti yang musti kita kembangkan, svadharma dalam hidup bisa akan berjalan alami, sekaligus membimbing kita menuju penerangan. Karena hidup ini sendiri adalah dharma. Kehidupan dan alam semesta berputar melalui hukum-hukum kerja.

Di jalan dharma tidak ada pemisahan antara tugas-tugas kehidupan kita dengan upaya kita merealisasi moksha [pembebasan]. Penolakan akan tugas-tugas kehidupan kita akan menjauhkan bathin kita dari kebahagiaan dan kedamaian sejati. Hanya melaksanakan kerjalah yang bisa membebaskan kita, bukan menolak untuk bekerja. Karena itu tidak hanya ngayah dan sembahyang ke pura adalah jalan dharma, tidak hanya meditasi adalah jalan dharma, melaksanakan kerja-pun juga adalah jalan dharma. Burung-burung bekerja giat mencari makan untuk anak-anaknya, monyet-monyet bekerja giat mencari kutu dan membersihkan bulu anak-anaknya. Semua dilakukan tanpa keluhan, tanpa protes. Disana kerja bukan saja wujud nyata welas asih dan kebaikan, tapi sekaligus jalan menuju paramashanti.

Dengan bekerja manusia melakukan yoga. Secara lebih khusus karena melalui langkah-langkah kerja kita membuat yang mahasuci menjadi nyata. Diri kita sudah tidak penting lagi, yang penting adalah mahluk lain. Tidak hanya di pura kita ngayah [terbatas], tapi seluruh gerak nafas dalam kehidupan kita menjadi ngayah. Laksana sungai yang tekun melaksanakan tugasnya dalam hening, mengalir sempurna menuju lautan pembebasan. Inilah tangga keempat.


Selengkapnya baca disini.

YOGA SEBAGAI METODE PENYEMPURNA

Yoga adalah beberapa jenis metode [bhakti yoga, raja yoga, jnana yoga, shakti yoga] yang bisa sangat membantu percepatan kita merealisasi kesadaran dan pembebasan. Dengan catatan, metode yoga manapun akan dangkal dan gagal kalau tidak berlandaskan sadhana yang kuat.

Sadhana yang sudah dilaksanakan dengan sempurna, walaupun tanpa mempraktekkan yoga, itu saja sudah bisa membawa kita merealisasi pembebasan. Sebaliknya yoga manapun tidak akan banyak membantu kalau tanpa dilandasi sadhana yang kokoh. Sembahyang, meditasi, upakara keagamaan, japa mantra, tirtayatra, dll, tanpa pemahaman akan diri sendiri [atma jnana], mahluk lain [welas asih] dan kehidupan [svadharma], itu hanya menipu diri sendiri. Yoga seperti itu hanya jadi pelarian manusia dari ketakutannya pada kehidupan atau kematian.

Mempraktekkan sadhana dengan cukup baik adalah landasan dasarnya. Hanya dengan cara begitu jalan yoga kemudian akan bisa efektif, sangat membantu percepatan bathin kita dalam merealisasi kesadaran dan pembebasan.

TAT TVAM ASI

Tidak ada aku dan kamu. Tidak ada kita dan mereka. Tidak ada milikku dan milikmu. Tidak ada badanku dan badanmu. Tidak ada pikiranmu dan pikiranku. Tidak ada perasaanku dan perasaanmu. Nirahamkarah [lenyapnya ke-aku-an] dan bathin lebur dalam welas asih dan kebaikan yang tidak terbatas kepada semua. Di titik ini kita akan mengerti, dalam bathin kita ada bagian yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati, dalam kedamaian dan keseimbangan bathin yang sempurna. Itulah yogi tingkat tinggi yang sudah sadar akan realitas diri yang sejati. Bebas dari belenggu yang dimunculkan oleh badan dan pikiran. Bebas dari roda samsara [kelahiran-kematian].

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
20 November 2010

Jumat, 10 Juni 2011

PILAR SADHANA I : Rwa Bhinneda [memeluk seluruh dualitas dalam kehidupan dengan damai]

MEMELUK SELURUH DUALITAS DALAM KEHIDUPAN DENGAN DAMAI

Kebanyakan orang gagal memulai evolusi bathinnya di jalan dharma karena dia dalam hidupnya “menendang”. Mengeluh, tidak puas, marah, protes, menentang atau menyalahkan. Kita baru akan bisa memasuki gerbang dharma, kalau dimanapun kita berada, apapun yang terjadi, kita bisa melihat semuanya dengan positif dan penuh rasa syukur.

Umumnya dalam hidup orang mencari kebahagiaan dan menolak kesedihan-kesulitan. Kita mau dan ingin kelebihan tapi kekurangan kita tolak, kita mau bahagia tapi sengsara kita tolak, kesucian kita hormati kegelapan kita benci. Tentu saja ini tidak salah. Sayangnya sifatnya kebahagiaan seperti ini selalu sementara, sebab sudah hukum semesta setelah kebahagiaan datang akan disusul oleh kesedihan, kekecewaan atau kesulitan. Kebahagiaan yang lebih terang, sejuk dan tahan lama adalah, ketika bathin kita berhenti diguncang oleh dualitas kebahagiaan-kesedihan. Pergerakan bathin menuju kebebasan dari dualitas terjadi, ketika kita belajar mendidik diri menerima apapun dan siapapun sebagaimana adanya, tanpa menyalahkan siapa-siapa, termasuk menyalahkan diri kita sendiri. Itulah titik balik menuju "penyembuhan" bathin.

Karena cahaya dalam bathin baru bisa menyala ketika kita bisa menerima secara sama kelebihan dan kekurangan, bahagia dan sengsara, baik dan buruk, salah dan benar, suci dan gelap. Inilah yang dimaksud dalam teks-teks Hindu sebagai Dvandas dan yang dimaksud tetua kita di Bali sebagai Rwa Bhinneda. Dimana ada siang, disana ada malam. Dimana ada orang baik, disana ada orang jahat. Dimana ada sukses, disana ada gagal. Dimana ada kesucian, disana ada kegelapan. Dimana ada laki-laki tampan, disana ada laki-laki jelek. Gunung yg tinggi jurangnya juga dalam, dimana ada kelebihan disana ada kekurangan.


MEMBEBASKAN BATHIN DARI DUALITAS PIKIRAN

Salah satu sebab manusia bathinnya berguncang dan sengsara, karena mau kelebihan tidak mau kekurangan, mau yang positif tidak mau yang negatif. Bagi orang kebanyakan, keduanya terlihat berbeda [kebahagiaan dikejar kesedihan ditolak, kesucian dipuja kegelapan dicaci-maki]. Itu sebabnya orang kebanyakan bathin dan hidupnya berguncang. Kalau mau memasuki jalan dharma, tetua kita mengatakan “peluk kedua dualitas dengan tingkat kemesraan yang sama”. Dalam bathin yang menyadari hakekat rwa bhinneda, tidak ada bahagia yang bertentangan dengan sengsara, tidak ada rasa hormat yang bertentangan dengan benci, tidak ada kesucian yang bertentangan dengan kegelapan, melainkan semuanya dipeluk dalam harmoni. Dalam rwa bhinneda : kebahagiaan-kesedihan, suci-gelap, tinggi rendah, keduanya berbeda sekaligus sama.

Ciri-ciri bathin yang diguncang dualitas : ketika dipuji kita senang, ketika dihina kita menangis. Punya uang banyak kita bahagia, punya uang sedikit kita mengeluh dan protes. Ketemu bupati hormat sekali, ketemu orang miskin menoleh saja kita enggan. Dll. Pikiran harus berhenti melakukan pembedaan-pembedaan dan perbandingan-perbandingan berbahaya. Karena dimana ada kelebihan, disana ada kekurangan, dimana ada terang disana ada gelap, dimana ada bahagia disana ada sengsara. Sumber dualitas dalam bathin kita ini adalah serakah [lobha], hanya mau yang baik dan tidak mau yang buruk.

Dalam kehidupan semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji & direndahkan, melewati sakit & sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda. Pesan tetua kita dalam Rwa Bhinneda : menolak kesedihan adalah kesengsaraan, mengejar kebahagiaan adalah malapetaka. Ketika bathin kita kita berhenti diguncang oleh dualitas, kehidupan menjadi indah dalam bathin yang damai dan bahagia. Disinilah bathin kita bisa memasuki wilayah-wilayah Rwa Bhinneda. Pikiran yang tenang-seimbang [upeksha]. Pikiran, perasaan dan ekspresi kita tetap damai tatkala menghadapi segala macam dualitas keadaan.

Simboliknya bisa kita lihat dalam kisah-kisah pertapaan jaman dulu. Dimana dalam meditasi [tapa], yang pertama datang adalah bidadari-bidadari cantik telanjang [hal-hal yang menyenangkan]. Kalau lulus disini, datanglah hal berikutnya yaitu mahluk-mahluk sangat seram yang jahat [hal-hal yang tidak menyenangkan]. Hanya ketika bathin tetap sejuk, damai dan tenang-seimbang ketika bertemu dengan kedua dualitas [bahagia-sengsara, senang-tidak senang, baik-buruk, dll] ini, barulah sang pertapa bisa bertemu dengan cahaya kesadaran yang terang. Demikian juga sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari.

PARAMASHANTI [MENDIDIK DIRI DAMAI DALAM SETIAP KEJADIAN]

Puncak dari segala persembahan dan persembahyangan adalah paramashanti [damai sempurna], Aum Shanti Shanti Shanti. Itulah bekal bathin dari pura yang kita bawa pulang, semua arah adalah arah yang damai. Makan enak damai, makan tidak enak juga damai. Lagi beruntung damai, lagi sial juga damai. Punya banyak uang damai, tidak punya uang juga damai. Sehat damai, sakit juga damai. Itulah tirta amertha [air suci kehidupan] yang memurnikan jiwa.

Kalau kita setiap hari menangis, setiap hari marah-marah, setiap hari menyalahkan [orang lain atau diri sendiri], setiap hari merasa hidup ini tidak adil, setiap hari protes-protes, setiap hari penuh dengan hawa nafsu dan keinginan, kita masih jauh dari paramashanti. Karena apapun boleh terjadi dalam kehidupan [bahagia-sengsara, sukses-gagal, sehat-sakit, dihormati-dicaci, dll], tapi ingat, ciri manusia yang bathinnya sudah siap memulai evolusi bathinnya di jalan dharma adalah apa yang selalu kita ucapkan pada puncak dari segala persembahan dan persembahyangan, aum shanti shanti shanti [damai damai damai].

Bisa damai saat istri sayang dan memanjakan kita itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat istri marah-marah atau selingkuh, itulah manah shanti. Bisa damai saat anak-anak patuh dan menurut itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat anak-anak nakal dan bandelnya minta ampun, itulah manah shanti. Bisa damai saat dipuji atau dihormati orang itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat difitnah atau dicaci maki orang, itulah manah shanti. Semua arah dan semua kejadian disambut dengan bathin yang damai, tenang-seimbang, Paramashanti.

PENUTUP

Hidup ini penuh dengan berbagai godaan. Sehingga kapan saja kita digoda kemarahan, kapan saja kita digoda kesedihan, kapan saja berbagai godaan lainnya [baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan] datang, anjali mudra [cakupkan tangan] dan bisikkan ke dalam relung bathin kita yang terdalam : tidak saja sembahyang itu mebakti, tapi kesabaran yang tidak terbatas juga adalah mebakti. Tidak saja meditasi itu yoga, tapi kesejukan, kedamaian dan ketenangan bathin juga adalah yoga. Inilah jalan saya "pulang" menuju realitas diri yang sejati. Aum Shanti Shanti Shanti Aum.


Rumah Dharma – Hindu Indonesia
14 Desember 2010