Jumat, 10 Juni 2011

PILAR SADHANA IV : Melaksanakan svadharma [tugas kehidupan]

Dalam buku-buku vedanta, Karma Yoga [atau juga disebut Kriya Yoga] berarti merealisasi kesempurnaan melalui jalan kerja. Penjelasan singkatnya yaitu : melalui pelaksanaan svadharma [tugas kehidupan] kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Sebab sebagian besar dari kita dalam hidup ini bukanlah seorang yogi / pertapa / pendeta. Tapi melalui karma yoga, semua orang punya kesempatan yang sama untuk merealisasi pembebasan sempurna, moksha, manunggaling kawulo lan gusti. Dengan jalan seperti ini, tentu saja tidak harus meninggalkan pekerjaan, keluarga dan bahkan masyarakat untuk pergi bertapa di gunung, kecuali svadharma-nya memang demikian. Sebab sebenarnya kesadaran ada dimana-mana sekaligus juga kita bawa kemana-mana.



Setiap manusia lahir ke dunia membawa svadharma-nya sendiri sesuai dengan putaran karma-nya masing-masing. Dalam Karma Yoga, svardharma [tugas kehidupan] ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, tapi dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Dan lebih baik lagi kalau dilaksanakan dalam kesadaran [bathin yang hening]. Dalam bahasa Jawa : “rame ing gawe, sepi ing pamrih”.

RAME ING GAWE, SEPI ING PAMRIH

Kehidupan dan alam semesta berputar melalui hukum-hukum kerja. Tapi sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah apapun hasilnya dengan senyuman dan hati yang bersih. Sehingga yang tersisa persis seperti bagaimana hukum alam bekerja. : mengalir sempurna, terpusat pada proses yang sedang terjadi, tanpa terikat kepada hantu masa lalu dan harapan masa depan.

Laksana matahari, walaupun dipuji dikatakan sunset [matahari terbenam] itu sangat indah, atau sebaliknya dicaci-maki dikatakan matahari sangat panas dan mengganggu aktifitas, matahari tetap melaksanakan tugasnya dalam hening, memancarkan cahaya kehidupan, terbit dan terbenam setiap hari. Seperti halnya sungai, bagi sebagian orang ia dihormati sebagai sumber air untuk kehidupan, tapi kalau hewan liar lewat disana, hewan itu [maaf] membuang kotoran disana. Tapi diperlakukan bagaimanapun, sungai tetap melaksanakan tugasnya dalam hening, mengalir sempurna menuju lautan.

Laksanakan seperti bagaimana alam bekerja, dimanapun, kapanpun dan apapun svadharma kita saat itu. Suami menjadi suami yang baik, pelajar menjadi pelajar yang baik, pemulung menjadi pemulung yang baik, pengusaha menjadi pengusaha yang baik, pertapa menjadi pertapa yang baik, polisi menjadi polisi yang baik, dll. Ada satu kesamaan diantara semuanya : "menjadi semakin sempurna melalui jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan mahasempurna yang mengaturnya. Keinginan-keinginan, keluhan-keluhan apalagi kemarahan, hanya akan membuatnya seseorang terlempar ke dalam pusaran kegelapan bathin.

Kalau svadharma kita wartawan, tugas kita adalah mengungkap sesuatu dengan netral dan penuh kejujuran. Kalau kita menulis berita yang tidak jujur karena kita menerima suap, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin. Kalau svadharma kita dokter atau perawat, tugas kita adalah membuat orang-orang yang sedang sakit menjadi sembuh, tanpa pilih-pilih pasiennya kaya atau miskin. Kalau kita menjadi dokter atau perawat dengan motivasi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin. Kalau svadharma kita pegawai hotel atau guide, tugas kita adalah melayani turis dengan sebaik-baiknya. Kalau kita menjadi pegawai hotel atau guide hanya mau melayani tamu dengan baik kalau dikasi tip atau dapat komisi, kita akan dilempar ke dalam pusaran kegelapan bathin.

Berusaha dan bekerja keras, tapi dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Lebih baik lagi kalau bisa dilaksanakan dalam kesadaran. Bekerja adalah hukum semesta. Dengan bekerja manusia melakukan yoga. Secara lebih khusus karena melalui bekerja manusia sedang membuat Hyang Widhi menjadi nyata. Buah kelapa menjadi santan. Batu dan kayu menjadi rumah. Sampah menjadi pupuk. Mahasiswa menjadi sarjana. Orang sakit menjadi sembuh. Itu semua langkah-langkah kerja yang membuat Hyang Widhi menjadi nyata.

Lebih-lebih bila semua dilakukan dengan semangat anak-anak yang riang gembira, polos dan penuh rasa syukur. Tidak ada yang salah dengan keinginan dan harapan, sebab kalau dikelola dengan baik dia adalah sumber kekuatan kemajuan dan kehidupan. Tapi kedamaian, kebahagiaan dan kesadaran menjadi lenyap kalau sebagian besar hidup ini hanya diisi kegiatan berlari mengejar harapan dan keinginan. Tidak hanya melelahkan dan tidak punya arah, tapi juga tidak sampai dimana-mana.

Ada perasaan yang berbeda dalam bathin ketika tugas dan kerja dilaksanakan dengan harapan [akan hasil] yang sangat terkelola. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya berputar, namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh harmoni. Tidak saja dengan diri sendiri dan orang-orang sekitar kita, tapi dengan apapun manusia mudah “terhubung” ketika rasa syukurnya mengagumkan. Di mana semuanya [diri sendiri, sesama manusia, binatang, tumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll] serba terhubung, sekaligus menyediakan “paramashanti” [kedamaian sempurna] di sebuah titik pusat dalam bathin kita.

MELAKSANAKAN SVADHARMA SECARA TEPAT

Hidup ini bisa disimbolikkan seperti mulut. Terdapat bagian yang keras [gigi] dan terdapat bagian yang lembut [lidah]. Gigi [yang keras] berguna untuk memotong dan mengunyah, lidah [yang lembut] berguna untuk merasakan. Keduanya musti dimanfaatkan pada situasi dan waktu yang tepat. Begitu juga halnya dalam melaksanakan svadharma kita di dalam keseharian, pelaksanaannya disesuaikan dengan panggilan svadharma kita masing-masing.

Kalau svadharma kita seorang yogi / pertapa / pendeta / pemuka agama, itu jelas bahwa setiap saat, sepanjang waktu, pikiran, perkataan dan perbuatan kita harus bersih, halus dan lembut. Karena seorang yogi / pertapa / pendeta / pemuka agama, menghantar banyak orang ke tempat yang mahasuci.

Kalau svadharma kita polisi / tentara, hendaknya bathin kita laksana seorang yogi, tapi tindakan kita laksana seorang ksatria. Maksudnya “di dalam” bathin kita sesuci dan sebersih mungkin, tapi “diluar” sikap dan tindakan kita tegas dan menegakkan aturan [hukum]. Sebagai seorang polisi / tentara, kalau tiba saatnya kita musti menembak penjahat, tembaklah dengan penuh rasa sadar. Seperti Arjuna di dalam Bhagavad Gita. Arjuna boleh membunuh di dalam peperangan dan terbebas dari hukum karma dengan dua kondisi :

1. Melaksanakan svadharma [tugas kehidupannya]-nya sendiri.
2. Dilakukan dalam kesadaran yang telah sempurna - ketika pikiran hening-. Tanpa pikiran aku dan kamu. Tanpa dualitas menang-kalah, hidup-mati, benar-salah, sukses-gagal. Yang dilihat hanya : Brahman.

Dalam svadharma type ini, kombinasi keras dan lembut adalah hal yang sesuai untuk svadharma kita sendiri, persis seperti lidah dan gigi. Asal menggunakannya di waktu yang tepat. Tentu akan kacau kalau dalam makan kita memotong dan mengunyah memakai lidah [yang lembut]. Begitu juga sebaliknya kalau dalam makan kita memakai gigi [yang keras] terus menerus.

Tapi bukan berarti kalau begitu kita sedikit-sedikit lalu memakai kekerasan. Tidak seperti itu. Karena keras dan lembut semua ada tempatnya masing-masing. Mulut sebagai simbolik kehidupan, ada yang lembut dan ada yang keras. Dengan satu catatan : ASAL DIGUNAKAN PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG TEPAT.

Misalnya svadharma sebagai seorang atasan di kantor, kalaupun tiba saatnya harus marah kepada bawahan [untuk mendidik], sebaiknya dilakukan dengan penuh kesadaran. Dalam arti “diluar” kita memarahi [yang sifatnya mendidik], tapi "di dalam" kita tidak tersentuh, tetap bersih dan damai. Dan yang dimarahi juga hanya sebatas kesalahannya saja, jangan kepribadiannya. Svadharma sebagai orang tua di rumah, kalaupun tiba saatnya harus marah kepada anak kita [untuk mendidik], sebaiknya dilakukan dengan penuh kesadaran. Dalam arti “diluar” kita memarahi [yang sifatnya mendidik], tapi "di dalam" kita tidak tersentuh, tetap bersih dan damai. Dan yang dimarahi juga hanya sebatas kesalahannya saja, jangan menyinggung kepribadiannya.

KRIYA MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP

Kerja adalah salah satu sarana yang baik untuk memahami sang diri dan kehidupan. Sebab saat kita bekerja, bukan saja kita mendapatkan biaya [ongkos] untuk kehidupan. Tapi dengan bekerja kita juga bisa menelusuri alur-alur kehidupan yang lebar dan panjang. Dengan bekerja kita bisa membuka wilayah-wilayah baru dalam kehidupan. Dan yang paling penting, melalui kerja kita bisa menyelami rahasia hidup yang paling dalam. Apapun svadharma kita, ketika kita bekerja kita “berkomunikasi” dengan diri kita sendiri secara intens, terutama kalau kita mengalami banyak kegagalan. Kegagalan tidak hanya menghasilkan kesedihan, tapi juga bisa menghasilkan hadiah yang sangat berharga, yaitu : kebijaksanaan dan kesabaran. Kesuksesan memang menghasilkan pujian dan penghormatan, tapi juga bisa menghasilkan godaan-godaan kehidupan yang menjerumuskan. Dan di lain waktu kesuksesan juga mengajarkan bahayanya ego, terutama kalau kesuksesan menjadi awal mula iri hati dan dengki orang lain.

Kerja adalah langkah-langkah manusia untuk menyelaraskan irama dengan keseluruhan semesta. Alam semesta bekerja sepanjang masa. Tidak mengenal hari minggu, apalagi hari libur. Kalau alam semesta bekerja penuh tenaga tanpa mengenal jeda, darimana manusia bisa memperoleh tenaga untuk bisa seirama dengan semesta ? Lihatlah burung yang terbang kesana kemari untuk bisa memberi makan anak-anaknya. Harimau lari kesana kemari berburu untuk bisa memberi makan anak-anaknya. Ibu yang menyusui sambil mengelus-ngelus anaknya dengan penuh kasih sayang. Matahari yang menyinari semua tanpa plih kasih dan keluhan. Sungai yang terus mengalir ke laut tanpa mengenal lelah. Ibu pertiwi yang hanya mengenal kata memberi, memberi dan memberi. Lalu apa yang menggerakkan semua itu ? Semuanya digerakkan oleh energi-energi welas asih dan kebaikan.

Laksanakan svadharma dengan dibimbing oleh kesadaran. Sesetia matahari di siang hari, serajin air mengalir di sungai dan pada saat yang sama : sehening pohon bermeditasi. Tanpa nafsu untuk mendapatkan sesuatu atau memiliki, melainkan dibimbing oleh dorongan kuat untuk memberi, memberi dan memberi. Laksana alam semesta yang hanya tahu memberi. Yang tidak pernah cerewet dengan persyaratan apapun. Diperlakukan seperti apapun, ia selalu melaksanakan tugasnya 24 jam sehari tanpa keluhan. Dan puncaknya adalah paramashanti [kedamaian sempurna].

Dalam Karma Yoga, kerja adalah sarana untuk menyelami diri sendiri dan disaat yang bersamaan menyelaraskan irama diri dengan irama-irama semesta.


1. Empat aspek dalam melaksanakan svadharma.
2. Catur Purusha Artha.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Purwani Purnama Kadasa, 28 Maret 2010

Empat aspek dalam melaksanakan svadharma [tugas kehidupan]

Di dalam mengarungi samudera kehidupan, secara paling sederhana ada empat aspek yang musti kita kembangkan agar melaksanakan svadharma dalam hidup bisa berjalan, sekaligus membimbing kita menuju penerangan.


KESABARAN

Dalam dharma kita diajarkan, hidup ini adalah karma yang berputar. Salah satu sebab kita dilahirkan kembali ke dunia ini adalah untuk membayar hutang karma. Sehingga lebih cepat kita bisa melunasi hutang tersebut lebih bagus. Karena dengan demikian banyak jalan akan terbuka untuk kita, yang akan membimbing kita menuju kondisi-kondisi kesadaran yang terang.

Celakanya banyak diantara kita terlahir kembali ke dunia bukannya membayar hutang karma, melainkan menambah hutang karma baru. Misalnya : suami / istri marah-marah, kita balas marah-marah lebih keras lagi. Ini adalah hal yang harus direnungkan kembali. Pertama tidak bayar hutang karma, kedua menambah hutang karma baru. Ketika kita terlahir kembali ke dunia ini, suami / istri kita akan jadi orang yang lebih menyulitkan dan menyakiti kita. Tambah parah. Sehingga yang terbaik adalah, diamlah, sabar dan tetaplah sejuk dan damai. Sebabnya kita ketemu suami / istri yang galak, adalah karena kita membayar hutang karma kepada suami / istri kita itu. Kalau dia marah, kita bisa diam, sabar dan tetap sejuk, kita bayar hutang karma dan hutang karmanya lunas.

Salah satu pilihan terbaik dalam hidup adalah membayar hutang karma secepat-cepatnya. Dan dengan siapa orang yang harus kita bayar hutang karma itu ? Itulah mereka orang-orang yang suka menyakiti kita. Setiap bertemu orang yang menyakiti kita, itu tanda-tanda kita sedang membayar hutang karma. Kalau kita ditipu sama tetangga, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Kalau mobil kita ditabrak orang, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Intinya : ketika kita ada masalah dengan orang, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Karena hanya dengan demikian kita membayar hutang karma. Jangan melawan dengan kemarahan, apalagi caci-maki dan kebencian.

Yang terindah dari hal ini adalah, ketika kita terus-menerus membayar hutang karma, kita menjadi manusia yang sabar. Kesabaran membuat bathin kita mudah sekali menjadi tenang. Dan ketika kesabaran menyatu dengan ketenangan, kita bisa menerima hidup apa adanya [nrimo]. Ujung-ujungnya kita menjadi manusia yang dengan bathin yang shanti [damai]. Dan dengan bathin yang shanti, kemanapun kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Ketika kita sembahyang, akan terasa bedanya. Ketika kita meditasi, akan terasa bedanya. Demikianlah cara hidup membimbing kita menuju kondisi-kondisi kesadaran yang terang.

KERJA KERAS

Hidup ini sebuah dharma, melaksanakan kerja itu sebuah dharma. Dharma akan menjadi indah kalau kita laksanakan. Tanda-tanda kerja kita menjadi dharma yang dilaksanakan adalah ketika kita melaksanakan tugas-tugas kehidupan kita dengan sebaik-baiknya, tapi apapun yang terjadi, apapun hasilnya, terima dengan senyum damai. Misalnya : kalau kita jadi room boy di hotel, bersihkan kamar hotel sebaik-baiknya, lupakan berapa kita dapat gaji dari perusahaan atau berapa kita dapat tips dari tamu. Kalau kita pegawai bank, layani semua nasabah dengan sebaik-baiknya, lupakan berapa kita dapat gaji dari perusahaan atau kapan kita naik pangkat.

Kalau kita belajar dharma, tapi setiap hari mengeluh gaji kurang banyak, atasan atau tamu hotel memperlakukan kita kurang bagus, itu sama sekali tidak nyambung dengan ajaran dharma. Karena melaksanakan dharma sehari-hari itu bisa begitu sederhana : laksanakan tugas-tugas kehidupan [svadharma] kita dengan sebaik-baiknya, tapi apapun yang terjadi, apapun hasilnya, terima dengan senyum damai. Kalau kita menjadi ibu rumah tangga, fokuskan diri melayani anak dan suami dengan sebaik-baiknya, itu dharma. Kalau kita menjadi petugas kolam renang, fokuskan diri menjadikan kolam renang kita kolam renang paling bersih di dunia, itu dharma. Kalau kita menjadi pegawai, fokuskan diri melaksanakan perintah atasan lebih baik dari yang dia niatkan, itu dharma. Kalau kita menjadi polisi, fokuskan diri menjadikan wilayah tugas kita menjadi tempat paling aman dan tertib di dunia, itu dharma. Karena tempat melaksanakan dharma tidak hanya di pura, di tempat kerja juga tempat melaksanakan dharma, di rumah juga tempat melaksanakan dharma dan seluruh hidup ini tempat melaksanakan dharma.

Orang-orang yang bekerja dengan spirit penuh keluhan, penuh ketidakpuasan, bathinnya terbakar. Sebaliknya semakin banyak sattvam [kemurnian bathin] dalam hidup kita, semakin efisien dan mudah kita menunaikan tugas-tugas kehidupan kita. Sehingga bekerjalah dengan keras, dengan sebaik-baiknya, di dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan [svadharma] kita. Dan jangan bekerja dengan spirit yang penuh keluhan-keluhan : gaji tidak naik-naik, atasan tidak adil, dll. 

Bahkan kalau bisa : kalau kita dibayar dengan nilai 10 oleh perusahaan, kita bekerja dengan nilai 15. Kalau kita dibayar dengan nilai 15 oleh perusahaan, kita bekerja dengan nilai 20. Dst-nya. Selalu memberi dan memberi nilai lebih kepada kehidupan. Karena dengan cara seperti itu, kita sedang menabung banyak karma baik. Kenapa ada banyak wajah yang kusut dan menyerengut di jaman sekarang ? Karena dia dibayar dengan nilai 10, kerjanya nilainya 5. Ngabsen pagi-pagi, kita minta diabsenin sama teman. Orang-orang seperti itu, orang-orang yang setiap hari membuat hutang karma kepada kehidupan. Dibandingkan berhutang lebih baik memberi yang lebih.  Kalau kita dibayar dengan nilai 10 oleh perusahaan, bekerjalah dengan nilai 15. Kalau kita dibayar dengan nilai 15 oleh perusahaan, bekerjalah dengan nilai 20. Dst-nya. Karena kalaupun atasan kita tidak mencatat, ada atasan yang lebih tinggi [hukum karma, hukum semesta] yang mencatat keikhlasan kerja kita.

BERSYUKUR

Hidup seperti pertandingan sepakbola, tidak ada tim yang menang terus. Hidup seperti orang yang berjualan, tidak ada pedagang yang untung terus. Hidup persis seperti alam, habis siang ada malam, habis panas ada hujan, habis jalan menanjak ada jalan menurun. Sayangnya sebagian besar manusia sengsara dan bathinnya berguncang karena mau yang baik-tidak mau yang jelek, mau naik-tidak mau turun, mau menang-tidak mau kalah, mau untung tidak mau rugi.

Kenapa ada manusia yang tidak siap menerima ha-hal yang negatif ? Karena serakah. Menangnya mau, tapi kalahnya tidak mau. Baiknya mau, tapi jeleknya tidak mau. Istri cantik kita terima, tapi begitu cerewet mau kita ceraikan. Padahal tidak ada orang yang grafik hidupnya selalu naik, selalu dapat yang baik, selalu bahagia, TIDAK ADA HIDUP SEPERTI ITU. Menyiapkan diri menerima hal yang menyenangkan itu mudah, tapi menyiapkan diri menerima hal yang tidak menyenangkan, itu orang bijaksana. Terlebih karena kebijasanaan dan kedewasaan itu akan bisa muncul, kalau kita sering mengalami kekalahan, kerugian atau kejatuhan.

Hiduplah dengan penuh rasa syukur kepada apapun yang terjadi. Caranya dengan belajar melihat sisi indah dari setiap kejadian, karena selalu ada keindahan dalam setiap kejadian. Bersyukur tidak hanya ketika suami atau istri sayang sama kita, tapi juga bersyukur ketika suami atau istri marah-marah, karena itu adalah guru kesabaran yang sejati. Bersyukur tidak hanya ketika gaji naik, tapi juga bersyukur ketika ada pemotongan gaji, karena kita diajarkan untuk menjadi hemat dan tidak menuruti hawa nafsu [beli ini-itu]. Orang yang ke semua arah penuh dengan rasa syukur, hidupnya terang seperti matahari. Tidak diterangi oleh cahaya luar, tapi diterangi oleh cahaya dalam.

Dengan hidup yang penuh rasa syukur, kita membuat bathin kita tambah terang, sekaligus mencegah diri kita membuat hutang karma yang baru dengan marah-marah, protes, dll.

KEBAIKAN

Lakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, lalu segera lupakan. Bantulah orang yang memerlukan pertolongan, buatlah hati orang lain menjadi senang dan bahagia, setelah itu lupakan. Dan melaksanakan kebaikan seperti ini bukan saja membuat orang lain bahagia dan bisa membantu kita dalam menghadapi karma buruk dalam hidup, tapi juga sekaligus menerangi bathin kita sendiri.

Lakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Kalau tidak bisa atau tidak mampu, cukup jangan menyakiti.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
31 Agustus 2010

PILAR SADHANA II : Ketekunan melaksanakan welas asih dan kebaikan

5.2.1.
trayᾱḥ prᾱjᾱpatyᾱḥ prᾱjapatau pitari brahma-caryam ῡṣuḥ, devᾱ manuṣyᾱ asurᾱḥ, uṣitvᾱ brahmacaryaṁ devᾱ ῡcuh; bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad akṣaram uvᾱca; da iti, vyajñᾱsiṣṭᾱ iti; vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, dᾱmyata, iti na ᾱttheti, aum iti hovᾱca, vyajñᾱsiṣṭeti.
Trayᾱḥ prᾱjᾱpatyᾱḥ prᾱjapatau pitari brahma-caryam ῡṣuḥ, devᾱ manuṣyᾱ asurᾱḥ, uṣitvᾱ brahmacaryaṁ devᾱ ῡcuh; bravītu no bhavᾱn iti

5.2.2
atha hainam manuṣyᾱ ῡcuh: bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad evᾱkṣaram uvᾱca; da iti; vyajñᾱsiṣṭᾱ iti, vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, datta iti na ᾱttheti; aum iti hovᾱca vyajñᾱsiṣṭeti.

5.2.3
atha hainam asurᾱ ῡcuḥ, bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad evᾱkṣaram uvᾱca; da iti, vyajñᾱsiṣṭᾱ iti, vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, dayadhvam iti na ᾱttheti, aum iti hovᾱca vyajñᾱsiṣṭeti. tad etad evaiṣᾱ daivī vᾱg anuvadati stanayitnuḥda-da, da, iti, damyata, datta, dayadhvam iti. tad etat trayaṁ śikṣet, damam, dᾱnam, dayᾱm iti.

[Brhadaranyaka Upanishad 5.2.1 - 5.2.3]


TERJEMAHAN

5.2.1
Tiga kelompok mahluk, dewa-manusia-ashura, datang kepada Prajapati [pelindung kehidupan]. Dalam rangka menuntaskan evolusi bathin mereka, para dewa berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati berkata : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para dewa menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DAMYATA-menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti".

5.2.2
Lalu para manusia ikut berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati mengatakan hal yang sama : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para manusia menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DATTA-penuh kebaikan-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti".

5.2.3
Lalu para ashura juga berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati mengatakan hal yang sama : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para ashura menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DAYADHVAM-penuh welas asih-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti". Tiga kata itu diulang-ulang oleh sang sabdha semesta : "Da, Da, Da". Karena untuk bisa terbebaskan, setiap mahluk harus mempraktekkan ketiga hal ini : jaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran, penuh kebaikan dan penuh welas asih.

PENJELASAN

-ASHURA-
Para ashura adalah kelompok mahluk terendah dalam evolusi jiwa, lumpur kekotoran bathin mereka yang paling pekat. Kebiasaan mereka adalah melukai, menyakiti dan melecehkan mahluk lain. Kejam, tega, sombong dan berhati sekeras batu. Sehingga sifat dasar mereka adalah emosi negatif dan destruktif [penuh kemarahan, penuh kebencian, iri hati, suka menghancurkan]. Agar evolusi bathin mereka bisa bergerak dari ashura menjadi manusia, hal yang harus mereka praktek-kan secara disiplin dan mendalam adalah : DAYADHVAM-bersikap penuh welas asih-. Dengan praktek sikap penuh welas asih, para ashura belajar untuk tidak kejam, tidak membenci, tidak iri hati dan berhati lembut.

Manusia dengan bathin ashura [asuri sampad] adalah manusia dengan sifat dasar emosi negatif dan destruktif [penuh kemarahan, penuh kebencian, iri hati, suka menghancurkan]. Manusia dengan bathin ashura harus berhati-hati. Bukan saja dalam kehidupan ini bathinnya terguncang dan sengsara, tapi di alam kematian-pun akan mengalami hal yang sama. Sukur-sukur ketika terlahir kembali bisa lahir jadi manusia lagi dan tidak terlahir di alam bawah ataupun lahir menjadi binatang.


Kalau mau evolusi jiwa bergerak dari bathin ashura [asuri sampad] menjadi bathin manusia [manu sampad], maka hal yang harus dipraktek-kan secara disiplin dan mendalam adalah : DAYADHVAM-bersikap penuh welas asih-. Kalau tidak bisa, cukup tidak menyakiti [ahimsa].

Dalam perjalanan kehidupan dan kematian, sifat ashura akan banyak mendatangkan kesengsaraan. Karena sudah hukum alam [hukum karma] : kebencian akan mendatangkan kebencian, kemarahan akan mendatangkan kemarahan, dll, dan semua karma buruk lainnya. Dalam kematian juga sama, terutama karena di alam kematian kita menggunakan lapisan badan pikiran kita. Kegelisahan pikiran dalam bentuk emosi-emosi negatif akan sangat menyiksa diri kita sendiri. Sehingga pelindung kehidupan dan kematian yang pertama adalah : DAYADHVAM-bersikap penuh welas asih-. Kalau tidak bisa, cukup tidak menyakiti [ahimsa].

-MANUSIA-
Para manusia punya kebiasaan terikat erat kepada hal-hal duniawi. Sehingga sifat dasar mereka adalah cenderung mementingkan diri sendiri dan serakah. Agar evolusi bathin mereka bisa bergerak dari manusia menjadi dewa, selain DAYADHVAM-bersikap penuh welas asih-, hal kedua yang juga harus mereka praktek-kan secara disiplin dan mendalam adalah : DATTA-penuh kebaikan-. Kebaikan tidak hanya berupa pemberian benda, tapi juga dalam berbagi rasa dan potensi diri, memahami kebutuhan dan perasaan mahluk lain dan bersedia berbagi. Dengan praktek sikap penuh kebaikan, manusia belajar melepaskan, lepas dari keterikatan dan tidak serakah.

Manusia dengan bathin manusia [manu sampad] adalah manusia yang emosi negatifnya lebih sedikit, pada dasarnya tidak tertarik menyakiti, tapi cenderung terikat kepada hal-hal dan benda-benda duniawi, sehingga mementingkan diri sendiri dan serakah. Manusia dengan bathin manusia-pun juga harus berhati-hati. Bukan saja dalam kehidupan ini bathinnya terguncang dan sengsara, tapi di alam kematian-pun akan mengalami hal yang sama. Bisa dipastikan akan balik lagi, terlahir kembali ke dunia ini, karena segala bentuk keterikatan akan membuat kita balik lagi ke dunia ini.


Kalau mau evolusi jiwa bergerak dari bathin manusia menjadi bathin dewa [daiwa sampad], maka hal yang harus dipraktek-kan secara disiplin dan mendalam [selain DAYADHVAM] adalah : DATTA-penuh kebaikan-. Melepaskan banyak keterikatan, baik berupa benda-benda duniawi, hal-hal duniawi, maupun perasaan.

Dalam perjalanan kehidupan dan kematian, sifat manusia juga akan banyak mendatangkan kesengsaraan. Karena sudah hukum alam [hukum karma] : keserakahan akan mendatangkan kebencian, keterikatan akan mendatangkan kegelisahan bathin, dll. Dalam kematian juga sama, terutama karena di alam kematian kita menggunakan lapisan badan pikiran kita. Ketika kita mati, tapi yang kita ingat adalah deposito, sertifikat tanah, mobil, selingkuhan, dll, maka di alam kematian kita akan disiksa oleh kebutuhan akan keduniawian tersebut. Kegelisahan pikiran dalam bentuk kebutuhan akan keduniawian tersebut akan sangat menyiksa diri kita sendiri. Sehingga pelindung kehidupan dan kematian yang kedua adalah : DATTA-penuh kebaikan-. Melepaskan banyak keterikatan, baik berupa benda-benda duniawi, hal-hal duniawi, maupun perasaan.

-DEWA-
Para dewa adalah kelompok mahluk tertinggi dalam evolusi jiwa, lumpur kekotoran bathin mereka sudah bersih. Akan tetapi ini saja tidak cukup untuk menghentikan roda samsara [kelahiran kembali]. Diperlukan bathin yang sadar, tenang-seimbang. Sehingga untuk bisa mengalami pembebasan, yang harus mereka praktek-kan secara disiplin dan mendalam adalah : DAMYATA-menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran


Manusia dengan bathin dewa [daiwa sampad] adalah manusia yang lumpur kekotoran bathinnya cenderung sudah bersih. Kalau sudah bisa sampai disini saja sudah sangat bagus, karena evolusi jiwa kita akan sangat pesat kemajuannya. Tapi karena sifat dasar dari pikiran kita yang melompat kesana-kemari, kita belum mengalami bathin yang damai, tenang-seimbang dan tidak berubah. Sehingga belum "sadar" akan realitas absolut, belum terbebaskan dari roda samsara. Ketika mati, kita akan lahir di alam dewa untuk jangka waktu yang lama, tapi roda samsara belum berhenti. Sehingga pelindung kehidupan dan kematian yang ketiga adalah : DAMYATA-menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran-.

TIGA PELINDUNG KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Sebab kenapa kita berputar-putar terus dalam roda samsara, lahir-tua-sakit-mati lahir-tua-sakit-mati, adalah karena kita bodoh [avidya]. Kita mengira ego [ahamkara / ke-aku-an] itu yang paling berharga, kita mengira harga diri itu yang paling berharga, kita mengira pemuasan badan itu yang paling berharga, kita mengira rumah itu yang paling berharga, kita mengira deposito itu yang paling berharga, kita mengira selingkuh itu yang paling berharga, dll. Janganlah pulang ke "tanah wayah" [alam kematian] dengan "tangan kosong". Karena "tangan kosong" itulah yang menyebabkan kita balik lagi ke kehidupan ini. Sukur-sukur kalau masih bisa lahir jadi manusia lagi dan tidak lahir ke alam-alam bawah atau lahir sebagai binatang.

Ajaran yang disampaikan Prajapati kepada para Devā, Manushyā and Ashura adalah satu huruf DA, yang kemudian diulang tiga kali : Dāmyata, Datta, Dayadhvam [kesadaran, kebaikan dan welas asih]. Kecenderungan emosi negatif [kemarahan, kebencian, iri hati] dilindungi oleh sifat WELAS ASIH, kecenderungan keterikatan duniawi dilindungi oleh sifat PENUH KEBAIKAN dan seluruh kecenderungan badan & pikiran dilindungi oleh KESADARAN.

Dan ketiga DA itu adalah tiang-tiang dharma yang semuanya harus dipraktekkan, karena bukan saja melindungi kita dari karma buruk, melindungi kita dalam kehidupan dan kematian, tapi sekaligus juga sebagai dasar dari jalan menuju tiang dharma yang paripurna [ke-empat], yaitu dharma sebagai keheningan bathin yang sempurna [jivan-mukti].


1. Tentang sifat welas asih.
2. Tentang sifat penuh kebaikan.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
Purnama Karo, 26 Juli 2010

Sifat penuh kebaikan [Datta]

Dunia ini penuh dengan konflik. Kemarahan, kebencian, kesalahpahaman, terorisme, perceraian, perampokan, persaingan, perkelahian, berebut kebenaran [ingin disebut paling benar dan paling suci] dan peperangan ada dimana-mana.

Para pemimpin yang diharapkan bisa mengurangi semua ini, ternyata sebagian besar malah memperumit keadaan dan kemudian memicu konflik-konflik baru. Agama yang disebut sebagai satu-satunya jalan keluar juga sama saja. Ia yang diharapkan bisa menjadi penyejuk dan peneduh, pada banyak kasus malah menjadi sumber pembenaran dari kesombongan, kebencian dan kekerasan.

Ini adalah pertanda, kita tidak punya banyak harapan keselamatan yang datang dari “luar” dan hanya punya satu sumber keselamatan, yaitu dari “dalam diri” kita sendiri. Dan salah satu tempat berlindung yang sejuk dan terang di dalam diri kita sendiri adalah : KEBAIKAN.

DASAR-DASAR SIFAT KEBAIKAN DI DALAM DIRI

Sifat-sifat kebaikan sebenarnya adalah salah satu sifat alamiah kita sendiri, dalam artian sudah ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, karena faktor ahamkara [ego] dan sad ripu [enam kegelapan bathin] kita sering melupakannya.

Dalam setiap tahap di dalam hidup kita, selalu terdapat energi kebaikan. Di awal hidup kita, kita sudah disalurkan energi kebaikan. Dimulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan, tidak henti-hentinya orang tua kita mencurahkan kasih sayang untuk kita. Di awal kehidupan –waktu masih bayi-, kita tidak berdaya dan sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [orang tua kita]. Tanpa kebaikan orang tua kita, kita akan mati. Kelak di akhir kehidupan, lagi-lagi kita harus sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [untuk dibuatkan upakara kremasi / pemakaman]. Dan bila diantara kelahiran dan kematian kita lupa mengisinya dengan kebaikan, itu berarti kita telah gagal membayar hutang karma kebaikan.

Sejatinya hidup kita, seluruh eksistensi kita sebagai mahluk, dipenuhi oleh kebaikan orang lain dan mahluk lain. Sehingga dalam hidup kita tidak punya pilihan lain, selain hidup penuh welas asih kepada semua mahluk dalam setiap kesempatan yang ada.

Ini adalah svadharma [tugas kehidupan] kita semua, bagaimana di dalam keseharian kita [di rumah, di jalan, di kantor, dll] semuanya secara bijaksana dijadikan kesempatan-kesempatan untuk melakukan kebaikan. Sekarang tergantung diri kita sendiri, bagaimana kita membangkitkannya. Akan baik sekali bila mulai bangun tidur sampai dengan tidur lagi, kita “sadar” dengan sifat alamiah kebaikan di dalam diri kita sendiri. Ketemu siapa saja, gunakan sebagai kesempatan untuk berbuat baik.

Inti kebaikan itu adalah membantu orang lain atau membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Wujud kebaikan bisa dalam hal yang sangat kecil, misalnya kita melihat ada sampah tidak dibuang di tong sampah, kita bantu masukkan ke tong sampah. Atau ada keran yang airnya sudah penuh dan melimpah, kita bantu matikan. Atau tersenyum ramah kepada orang lain, itu juga suatu bentuk kebaikan. Kelihatannya sepele, tapi itu adalah bagian dari mendidik diri untuk penuh dengan kebaikan.

Sehingga setiap kali ada yang memerlukan uluran tangan kita atau kita bisa membuat mereka sedikit lebih bahagia atau senang, katakan ke diri sendiri : KESEMPATAN MEMBANTU ITU SEDIKIT, JARANG KITA BISA MEMILIKINYA, JADI LAKUKANLAH.


DUA JENIS KEBAIKAN

Semua hal di dunia ini, baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, bisa berujung menjadi madu kehidupan atau dia juga bisa menjadi racun kehidupan. Kebaikan juga sama, dia bisa menjadi awal kesucian atau dia juga bisa menjadi racun kehidupan bila kita melakukannya dengan pamrih. Sehingga secara mendasar ada dua jenis kebaikan :

1. Kebaikan dengan pamrih.
Tidak mengatakan kebaikan dengan pamrih itu salah. Tapi bagi yang ingin "pergi jauh" di dalam perjalanan spiritual, tidak disarankan melakukan kebaikan dengan pamrih, sebab kebaikan dengan pamrih membuat bathin kita menjadi kotor dan mudah berguncang. Kalau pamrihnya tidak kita dapatkan, kita marah dan ujung-ujungnya menderita.

2. Kebaikan tanpa pamrih.
Lakukan kebaikan, lalu lupakan, itulah kebaikan tanpa pamrih. Dan jenis kebaikan ini bukan saja membuat orang lain bahagia, tapi juga sekaligus menerangi bathin kita sendiri.

KEBIJAKSANAAN DALAM KEBAIKAN

Ada kebaikan terbatas, ada kebaikan yang tidak terbatas. Tuhan itu tidak terbatas. Kalau kita mau mendekati sifat-sifat Tuhan, kita harus masuk ke wilayah-wilayah yang juga tidak terbatas.

Ada dua macam kebaikan tidak terbatas :

1. Kebaikan tidak terbatas yang dilakukan oleh orang bodoh.
- Kita melakukan kebaikan dalam konteks yang "tidak terbatas". Sampai-sampai hal ini mengakibatkan diri kita menjadi bangkrut atau mengalami penderitaan. Tapi kemudian kita menangisinya, merasa malu atau bahkan menyesal. Itu namanya kebodohan.

Kalau kita belum mampu melakukan kebaikan tanpa batas, lakukan dengan bijaksana, lakukan kebaikan sebatas kita punya. Bantulah sebatas kita mampu. Bantulah sejauh tidak membuat diri kita bangkrut atau menderita.

Penting untuk dicatat, ketika kita TIDAK MAMPU untuk melakukan kebaikan, CUKUP JANGAN MENYAKITI [Ahimsa].

2. Kebaikan tidak terbatas yang dilakukan oleh orang suci.
- Kita melakukan kebaikan dalam konteks yang "tidak terbatas". Tapi kita sepenuhnya sadar kita sedang mendekati sifat-sifat Paramaatman yang juga tidak terbatas.

Ada sebagian orang-orang yang memang tingkat kesucian bathin-nya bagus sekali. Tidak takut bangkrut, tidak takut menderita. Sebab kesempatan membantu itu sedikit, jarang ada yang memilikinya, jadi dilakukan saja. Sehingga kalau nanti konsekuensinya bangkrut atau menderita, tidak apa-apa.

Seperti kisah para yogi yang begitu intens melakukan kebaikan. Konsepnya : kalau saya bangkrut dan kemudian tidak ada yang mau memberi saya makan, saya akan cari makan seperti tikus, saya akan cari makan seperti burung. Tikus dan burung tidak pernah sekolah, tidak pernah belajar dharma, tapi mereka tetap bisa hidup dan mencari makan sendiri.

Di dalam melakukan kebaikan tidak terbatas, kalau yakin membantu seperti orang suci, lakukan. Tapi kalau kita melakukannya dalam kebodohan, sebaiknya jangan.

KEBAIKAN TIDAK SELALU DIBALAS DENGAN KEBAIKAN

Kebaikan yang kita lakukan tidak selalu mendapat respon berupa kebaikan. Kadang-kadang malah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Dan ini adalah hukum alam. Seperti kalau kita menanam rumput jepang di halaman rumah kita, tidak semuanya tumbuh rumput jepang, ada juga ikut tumbuh rumput liar dan tanaman liar. Dan kita musti selalu sadar dengan hukum alam ini. Apapun yang terjadi, terimalah dengan senyuman damai.


Kebaikan kadang diikuti oleh nasib buruk, tapi nasib buruk bukan alasan untuk menghentikan kebaikan. Terutama karena perjalanan menuju penerangan dan pembebasan memerlukan dua syarat, tabungan karma baik yang berlimpah serta kebijaksanaan yang mendalam. Sehingga selalulah ingat dan jangan pernah ragu, setiap kali ada yang memerlukan uluran tangan kita atau setiap kali kita bisa membuat orang lain lebih bahagia, lega, terhibur atau senang, lakukanlah tanpa sedikitpun keraguan.


JADILAH SURYA BAGI DUNIA

Palinggih utama kita di rumah-rumah secara tradisional disebut "Surya" [sebutan lain : Padmasana]. Surya [matahari] adalah satu-satunya simbolik alam yang boleh mewakili Dewa Shiva [disebut : Surya Raditya]. Karena matahari adalah sebuah simbolik alam yang agung, dia menyinari semua tanpa memilih-milih : mau orang baik, mau orang jahat, mau bunga yang harum, mau kotoran sapi, mau tempat suci, mau tempat sampah yang busuk, dll, semua disinari secara sama tanpa syarat. Kebaikan itu indah. Sebab kebaikan bukan saja membuat orang lain bahagia, tapi juga membuat bathin kita sendiri tambah terang benderang. Umumnya sebagian besar orang serius sekali kalau sembahyang di palinggih Surya. Tapi orang-orang yang rajin melakukan kebaikan dalam hidupnya, dia laksana cahaya yang menerangi dan dia sendiri telah menjadi Surya bagi dunia.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
30 Juni 2010

Sifat welas asih [Dayadhvam]

DASAR-DASAR SIFAT WELAS ASIH

Ada beberapa aspek dasar yang selayaknya diselami untuk menemukan dan memunculkan kedalaman sifat welas asih [dayadhvam] dalam bathin kita.

1. Sadarilah bahwa perjalanan hidup kita dipenuhi dengan welas asih dan kebaikan orang lain dan mahluk lain.

Dalam setiap tahap di dalam hidup kita, selalu terdapat energi welas asih dan kebaikan. Di awal hidup kita, kita sudah disalurkan energi kebaikan. Dimulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan, tidak henti-hentinya orang tua kita mencurahkan kasih sayang untuk kita. Di awal kehidupan –waktu masih bayi-, kita tidak berdaya dan sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [orang tua kita]. Tanpa kebaikan orang tua kita, kita akan mati. Kelak di akhir kehidupan, lagi-lagi kita harus sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [untuk dibuatkan upakara kremasi / pemakaman].

Kita masih bisa hidup sampai saat anda membaca tulisan ini, juga karena kebaikan mahluk lain. Para binatang, mereka rela mengorbankan nyawanya hanya agar kita bisa makan enak [sate kambing, soto ayam, dll]. Para tumbuh-tumbuhan juga serupa, mereka rela menanggung rasa sakit hanya agar kita bisa makan dan bertahan hidup.

Hidup kita, seluruh eksistensi kita sebagai mahluk, dipenuhi oleh welas asih dan kebaikan orang lain dan mahluk lain. Sehingga dalam hidup kita tidak punya pilihan lain, selain hidup penuh welas asih kepada semua mahluk dalam setiap kesempatan yang ada.

2. Bersahabatlah dengan kekurangan-kekurangan diri kita.

Satu bentuk kegelapan bathin yang menghalangi kita memunculkan sifat welas asih adalah rasa ketidakpuasan. Akar dari ketidakpuasan adalah suka membandingkan dan membandingkannya selalu dengan yang lebih baik. Tapi ingatlah berkah manusia lahir berbeda-beda. Ada yang lahir cantik ada yang tidak, ada yang lahir di lingkungan yang rejekinya berlimpah ada yang lahir di lingkungan yang serba tidak punya.

Ciri-ciri manusia yang siap tumbuh sifat welas asih-nya adalah : bersahabat dengan kekurangan-kekurangan diri kita. Yaitu ketika kita bisa bersahabat dengan seluruh kekurangan-kekurangan diri kita.

Misalnya : kalau [maaf] secara fisik kita kita jelek, terimalah fisik jelek itu dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Jangan ada rasa minder / malu [penolakan diri], menghindar dan begitu memaksakan diri punya fisik atau penampilan menarik. Kalau kita hanya mampu punya sepeda motor butut, terimalah sepeda motor butut itu dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Jangan begitu memaksakan diri punya mobil.

Rata-rata kebanyakan manusia gagal memunculkan sifat welas asih, karena di dalam relung bathinnya dia masih "berkelahi" dengan kekurangan-kekurangan dirinya. Sulit memunculkan sifat welas asih, kalau kita masih gagal menerima diri kita sendiri seperti adanya.

Tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti punya sisi-sisi kekurangan. Menerima kelebihan diri adalah hal yang mudah dilakukan semua orang. Tapi bisa menerima kekurangan diri, hanya mereka yang bathinnya mulai terang yang bisa bersahabat dengan kekurangan dirinya. Sehingga kalau mau sifat welas asih tumbuh dalam bathin kita, buang segala ketidakpuasan, gantikan dengan rasa syukur yang mendalam. Bersyukurlah dengan segala apa yang kita punya di HARI INI.

Dalam bathin yang penuh rasa syukur, apapun yang dilihat menjadi indah dan kehidupan kita menjadi perjalanan penuh keberuntungan dan kebahagiaan.

3. Bersihkan bathin kita dari sad ripu [enam kegelapan bathin].

Dalam semua agama ada tokoh-tokoh yang kebaikannya begitu terang. Misalnya : Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Nelson Mandela, dll. Bedanya orang-orang seperti ini [yang penuh welas asih] dibandingkan dengan kita, adalah seluruh lapisan lumpur kegelapan bathin yang menutupi hati mereka sudah mereka bersihkan. Kekurangan manusia biasa seperti kita, yang sifat welas asih-nya kurang, karena hati kita masih dipenuhi dengan berbagai macam lumpur kegelapan bathin yang berlapis-lapis. Ada lumpur iri hati, kemarahan, kebencian, kesombongan, keinginan yang tidak terkendali, dll.

Kalau kita mau serius menumbuhkan sifat welas asih, lumpur-lumpur kekotoran bathin ini selapis demi selapis musti segera kita bersihkan. Hanya dengan cara demikian sifat welas asih bisa hidup dan bertumbuh di dalam bathin kita.


MEMUPUK DAN MENYUBURKAN SIFAT WELAS ASIH

1. Lihatlah semuanya sebagai Tuhan.

Ajaran Hindu mengajarkan kita bahwa semua fenomena adalah Brahman adanya. Misalnya mahavakya : "Sarvam khalvidam Brahman" [Chandogya Upanishad III.14.1] atau "Brahman khalva idam vava sarvam" [Maitri Upanishad IV.6], yang berarti : semua yang kita lihat di dunia ini adalah Brahman.

Ini sebuah ajaran yang sebenarnya harus dipahami dengan suatu pengalaman langsung [pratyaksa pramana] dalam yoga. Akan tetapi karena kebanyakan dari kita adalah orang biasa, bukan seorang yogi, kita bisa memahaminya dengan anumana pramana. Yaitu dengan mendidik diri untuk melihat semuanya Brahman, semuanya Tuhan.

Dalam orang baik ada Tuhan, dalam orang jahat juga ada Tuhan, dengan wajah yang berbeda. Wajah Tuhan dalam orang baik yaitu salah satunya karena mereka membuat kita merasa sejuk, nyaman dan damai. Wajah Tuhan dalam orang jahat yaitu mereka sedang mengajarkan kita untuk menjadi sabar dan bijaksana. Dan sekaligus memberi kita acuan yang bagus sekali tentang seberapa jauh pertumbuhan dan kualitas bathin kita sendiri. Kalau "di dalam" masih ada perasaan tidak enak, apalagi membuat kita marah-marah, artinya bathin kita masih belum bersih.

Dalam kejadian yang baik ada Tuhan, dalam kejadian yang buruk-pun juga ada Tuhan, dengan wajah yang berbeda. Wajah Tuhan dalam kejadian yang baik yaitu salah satunya karena itu membuat kita bisa menikmati hidup. Wajah Tuhan dalam kejadian yang buruk yaitu karena kejadian yang buruk adalah kesempatan untuk kita membayar hutang karma. Dan sekaligus mengajak kita untuk merenungkan kembali makna dan perjalanan kehidupan kita.

Kalau bisa seperti ini, setiap moment, setiap gerakan nafas dalam hidup kita menjadi aktifitas mebakti [Bhakti Yoga]. Mebakti tidak lagi hanya di pura, tapi sayang sama istri / suami dan anak-anak itu mebakti, menolong orang yang lagi kesusahan itu mebakti, melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya itu mebakti, dll.

2. Lihatlah hidup ini bagaikan bersekolah dan kita harus naik kelas setiap hari.

Perjalanan hidup ini, dalam menuju pembebasan, bisa kita ibaratkan seperti pergi bersekolah. Di tempat kerja, di jalan, di rumah, dimana-mana adalah kita "bersekolah". Seperti halnya sekolah yang sebenarnya, kita pasti sering ulangan umum dan kemudian naik kelas. Yang baik dan terang adalah kita terus menerus bisa naik kelas : dalam setiap waktu demi waktu dalam hidup, bathin kita semakin lama semakin bersih dan semakin dekat dengan pembebasan.

Misalnya : Kalau kita dihina orang, artinya kita sedang "ulangan umum". Kalau kita difitnah orang, artinya kita sedang "ulangan umum". Kalau kita jatuh sakit, artinya kita sedang "ulangan umum", dll. Kalau kita bersikap secara negatif dari hal-hal tersebut [ulangan umum], berarti kita tidak naik kelas. Kalau kita mampu menerima dengan senyuman damai, itulah baru kita naik kelas.

Mudah sekali bersikap damai dan penuh welas asih, disaat kita dipuji-puji, dikagumi, tidak kekurangan uang, makan enak dan badan sehat. Tapi yang TETAP bisa bersikap damai dan penuh welas asih disaat dirinya dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya uang, kelaparan dan sedang sakit, itu tidak lain pertanda bathin yang mulai bersinar terang benderang, semakin dekat dan semakin dekat dengan pembebasan.


KEBAHAGIAAN DAN KEDAMAIAN

Ini semua adalah jalan bhakti [Bhakti Yoga] yang sudah dilaksanakan. Tidak diperlukan terlalu banyak pertanyaan dan perdebatan. Yang ada hanya bhakti yang tulus, penuh sujud, welas asih dan rasa hormat yang mendalam kepada semuanya, baik ke alam svah [Brahman dan Dewa-Dewi], ke alam bvah [sesama mahluk dan alam semesta] dan ke alam bhur [mahluk-mahluk dunia bawah].

Disaat cahaya welas asih ini mencapai puncaknya, menyala dan menerangi siapa saja yang ada di dekat kita, bahkan alam semesta-pun akan merespon getaran welas asih seperti ini. Di mana semuanya [manusia, binatang, tumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll] serba terhubung, MANUNGGAL, sekaligus menyediakan harmoni dan paramashanti [kedamaian sempurna] di kedalaman bathin kita sendiri.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia
28 Juni 2010